UPAYA PENDEKATAN MEWUJUDKAN PERSATUAN UMMAT

oleh -195 views
Upaya Pendekatan Mewujudkan Persatuan Ummat
Upaya Pendekatan Mewujudkan Persatuan Ummat

Upaya pendekatan mewujudkan persatuan ummat sebenarnya sudah diperjuangkan oleh Jamaah Khilafatul Muslimin. Karena dengan persatuan tersebut sebagian umat yang satu dengan sebagian yang lainnya akan menjadi pelindung, akan saling menjaga dan saling menguatkan. Dengan berusaha berdakwah kepada kaum muslimin dan kepad ummat manusia terkait persatuan ini. Sebagaimana Firman Allah di bawah ini.

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain, jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (agar sebagian menjadi pelindung bagi sebagian yang lain), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al Anfal [8]:73)

Ayat diatas berbicara tentang loyalitas; bahwa sesungguhnya orang-orang kafir itu bergerak secara berkelompok dalam mengurus urusan kehidupan mereka, mereka saling membantu, saling membela satu sama lain sehingga menjadikan mereka kuat dan digdaya. Dalam hal pengutamaan loyalitasnya orang kafir yang ada di berbagai lini kehidupan akan mengutamakan pembelaan kepada sesamanya dalam berbagai kasus. Lihatlah bagaimana proses pencitraan yang dilakukan oleh berbagai media massa, baik nasional maupun internasional yang notabene banyak dikendalikan oleh orang kafir berhasil melekatkan citra negatif terhadap Islam dan kaum Muslimin, sehingga seorang muslim yang baik itu seolah-olah identik dengan kemiskinan, kejahatan, terorisme, kemalasan, kebodohan dan lain-lain dengan mengabaikan realitas keunggulan ummat ini dalam berbagai hal, baik secara pribadi maupun kolektif. Inilah bagian dari fitnah yang telah Allah ancamkan atas kaum muslimin jika loyalitas mereka kepada Allah, Rasul dan kaum muslimin tidak ada, nilai tawar mereka lemah, harga diri mereka turun dan wibawa mereka hilang. Allah subhaanahu wa ta’ala mengingatkan bahwa jika ummat Islam tidak melakukan hal demikian (sebagian menjadi pelindung bagi sebagian yang lain) “niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al Anfal [8]:73)”

Sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah secara resmi pada tahun 1924 kewibawaan ummat ini surut bahkan hilang sama sekali sehingga; kalau ada sumber daya alam yang mudah dirampas dan dieksploitasi secara bebas, itu adalah sumber daya alam di negeri muslim, kalau ada pemerintahan yang korup dan mudah dijadikan boneka adalah pemerintahan di negeri muslim, bahkan nyawa paling murah adalah nyawa kaum muslimin yang begitu mudah dihilangkan tanpa ada konsekwensi hukum dan kemanusiaan sekalipun.

Maka, untuk mengembalikan kewibawaan ini begitu banyak muncul harokah Islam yang bergerak membangun kembali aqidah Islam, mempraktekan syariah walaupun secara terbatas dan berusaha menghiasi pribadi ummat dengan akhlak Islami. Diantara mereka ada yang secara terang-terangan menginginkan kekhalifahan Islam kembali, namun ada juga yang sekedar mendambakan substansi Islam meskipun dalam pemerintahan demokrasi atau kerajaan. Yang jelas hingga kini berbagai kelompok tersebut belum sepakat untuk berada dalam satu kesatuan kepemimpinan demi terwujudnya kembali kewibawaan itu. Yang ada mereka masih sekedar gandrung dengan pola-pola aliansi (tansiq), forum silaturrahim, forum diskusi yang dari waktu ke waktu sekedar menelurkan ide dan menyebarkan wacana tentang urgensi ideologi Islam dan wajibnya kepemimpinan Islam, belum ada usaha sungguh-sungguh dan serius untuk bersatu dengan berbagai alasan, mulai dari syarat-syarat kekhalifahan, siapa sosok khalifah-nya, wilayah kekuasaan, militer dan lain-lain. Berbagai alasan tersebut justeru menjerumuskan mereka dalam perdebatan panjang tak berujung, sehingga mereka semakin lemah dan tak kunjung bersatu. Padahal kewajiban taat itu lebih tinggi daripada syarat apapun. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal [8]:46)

Sementara itu, Khilafatul Muslimin sebagai system kepemimpinan ummat Islam satu-satunya, sangat menginginkan persatuan dan penyatuan itu terwujud segera. Untuk itu Khalifah dan ummatnya berusaha serius menyerukan wajibnya persatuan ini ke berbagai penjuru dan kenyataannya atas izin Allah subhaanahu wa ta’ala kini terus bergulir dan mendapat dukungan dari ummat, baik di Indonesia maupun luar negeri, disamping  adanya penolakan dan permusuhan yang juga tak kurang menerpa, baik yang menolak secara konseptual, belum sepaham, hingga karena betul-betul tidak paham sama sekali. Berbagai sikap tersebut diambil oleh seorang pribadi juga oleh berbagai kelompok, sehingga warga dan da’I Khilafatul Muslimin butuh kesabaran dan juga penting memahami pola-pola dasar interaksi dan sosialisasi dengan mereka terkait dengan kewajiban bersatu ini. Beberapa faktor penting yang perlu dimiliki dapat kami rekomendasikan sebagai berikut:

Upaya Pendekatan Mewujudkan Persatuan Ummat

1. Landasan ideologis. Warga Khilafatul Muslimin secara internal harus memiliki keyakinan yang kuat terlebih dahulu, bahwa Khilafah adalah kewajiban yang harus diwujudkan demi izzul islam wal muslimin, sehingga berbagai aktifitas hidup mereka dalam rangka ibadah banyak diluangkan dalam perjuangan menegakkan kepemimpinan Islam dengan semangat “sami’na wa atho’na” mendengar dan ta’at kepada perintah Allah, perintah Rasulullah dan Ulil Amri mereka. Atas keyakinan inilah mereka juga merasa berkewajiban mendakwahkannya kepada orang atau kelompok lain guna menyebarkan kebenaran dan rahmat bagi alam. Keyakinan dimaksud memberi dampak yang signifikan dalam dakwah, mempengaruhi bahasa tubuh, mimik muka dan berdampak bagi orang lain. Kalau kita sendiri tidak yakin jangan harap orang lain bisa kita pengaruhi dalam kebenaran misi ini.

2. Landasan ilmiah. Bahwa warga Khilafatul Muslimin juga wajib memiliki dasar keilmuan yang cukup dalam menyempurnakan ibadah agar mereka tidak terjerumus dalam kejahiliyahan dan taqlid, khususnya ilmu ad diin. Firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Qur’an Al Isra[17]:36).”

Ilmu juga menjadi pertanda Allah menginginkan kebaikan pada diri seseorang sebagaimana hadits yang menyatakannya.

Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, niscaya Dia memahamkannya dalam agama. (HR. Tirmidzi No.2569).

Dalam berinteraksi dengan orang atau kelompok manapun yang dibutuhkan kejujuran bersikap, tidak perlu minder dan tidak pula sok berilmu atau bergaya seolah ulama, manakala memang ilmu kita hanya standar, karena hidayah itu ditangan Allah bukan karena hebatnya kita yang menyampaikan kebenaran. Atas izin Allah subhaanahu wa ta’ala, kita sudah diliputi dengan berbagai kegiatan untuk mendapatkan ilmu dengan adanya program At Tarbiyyah Wat ta’lim berupa ta’lim, hafalan, ta’dibul khos dan lain-lain yang rutin dilaksanakan dalam jama’ah, tinggal keseriusan dan kesungguhan mengikutinya sebagai bentuk ketaatan demi peningkatan kwalitas pribadi dan jama’ah.

3. Landasan Akhlak. Akhlak sangat berpengaruh dalam memberi pencerahan kepada orang lain, bahkan dengan akhlak yang mulia seseorang yang ilmunya terbatas bisa dimaklumi oleh mad’u-nya, akhlaklah yang seringkali jadi asbab bagi hidayah Allah atas diri seseorang. Dengan akhlak, Rasulullah saw telah menjadi pemimpin paling pendek masa perjuangannya (23 tahun) dalam merubah tatanan jahiliyyah yang rusak menjadi peradaban gemilang dibandingkan dengan manusia manapun dalam ideology apapun (ratusan tahun). Allah subhaanahu wa ta’alamemuji beliau saw dengan firman-Nya:

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam [68]:4)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab [33]: 21.)

4. Landasan Operasional. Yang dimaksud dalam hal ini adalah standar sikap dalam amal jama’I berupa kedisiplinan yang telah diatur sedemikian rupa untuk menjadi standar sikap baik secara pribadi dan struktural yang kemudian menjadi ciri khas warga dan pengurus jama’ah Khilafatul Muslimin. Landasan ini wajib ditegakkan dalam berinteraksi dengan kelompok manapun sehingga menjadi syi’ar yang orang lain bisa mengenal bahwa warga Khilafatul Muslimin bukan manusia sembarangan dan murahan, mereka adalah orang-orang yang hidupnya diatur oleh mekanisme kedisiplinan yang indah dan elegan, sehingga melahirkan wibawa dan kehormatan yang menjulang, namun dengan ketawadhuan yang tetap membumi.

5. Pemahaman akan realitas ummat (waqi’iyyah). Yang dimaksud adalah realitas secara umum kaum Muslimin yang memang belum semuanya bersedia bersatu dan realitas secara khusus dari berbagai kelompok dan harokah Islam yang ada. Seperti adanya kelompok yang mengaku tegak diatas sunnah, menegakkan dali shahih tapi menganggap bahwa Ulil Amri mereka adalah pemerintahan yang sah, seperti apapun bentuknya selama pemimpinnya masih sholat. Selain itu ada juga yang memahami tidak harus khilafah cukup substansi keadilannya saja, atau kelompok yang meyakini belum saatnya khilafah, karena persyaratan belum cukup, adapula kelompok yang meyakini khilafah berawal dari sebuah Negara  dalam suatu wilayah yang harus dikuasai terlebih dahulu, atau kelompok meyakini bahwa khilafah itu akan datang otomatis, kita cukup melakukan aktifitas keluar untuk berdakwah mengajak manusia untuk sholat berjamaah di masjid. Hingga kelompok yang menghalalkan aktifitas politik praktis dalam system demokrasi atas nama Islam dan lain sebagainya. Tentu saja menghadapi berbagai kelompok dengan realitasnya yang beragam perlu strategi dan cara tepat yang tentu tak cukup ruang untuk membahasnya di sini.

Upaya Pendekatan Mewujudkan Persatuan Ummat

Akhirnya tiada yang kita harapkan selain rahmat Allah swt dengan menyempurnakan ibadah, menetapi kebenaran dengan ikhlas semata karena Allah. Betapapun adanya perbedaan diantara harokah Islam, kenyataannya kita masih punya kesamaan yang begitu banyak dan mendasar sebagai sesama muslim yang kita husnudzon bahwa semua meyakini wajibnya khilafah dan rindu untuk hidup dibawah naungannya, lebih dari keadaan para ahli kitab yang kepada mereka Allah subhaanahu wa ta’alaperintahkan Rasul-Nya untuk menyeru.

Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Qs. Ali Imran [3]: 64)

Semoga Allah subhaanahu wa ta’ala merahmati kita semua dan menjadikan kita sebagai asbab bagi hidayah untuk orang lain dalam menetapi kebenaran dan bersatu di dalamnya, Aamiin yaa Robbal alamin! (AMS)