SAMBUT MASA LIBUR ANAK, WUJUDKAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN YANG MENYENANGKAN DI RUMAH

oleh -147 views
Para Santri Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah pada pekan ini sedang memasuki Liburan Semester Gasal 1442-1443 H

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Masa libur anak-anak sekolah untuk semester ganjil (Rabiul Awwal 1443 H) sudah dimulai, khususnya untuk anak-anak santri Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah (PPUI) Khilafatul Muslimin. Mendengar kata libur tentu ada hal yang melegakan perasaan, ada nuansa kebahagiaan yang menyeruak dalam dada para asatidz dan santri karena libur berarti berada di rumah dan bertemu dengan keluarga tercinta yang sudah lama terpisah oleh kewajiban sekolah dan menetap di pondok. Bagi santri, masa libur juga identik dengan kesempatan rileks, rehat dari rutinitas pondok yang menguras tenaga dan pikiran, kembali kepada kenyamanan keluarga, kasih sayang orang tua, makan minum, tidur bangun bersama orang tua, makan menu rumahan, bahkan bisa order menu khusus sesuai selera atau apa yang pernah terlintas di pikiran mereka selama di pondok dengan ‘selera sejuta ummat’. 

Namun, bila tidak disikapi secara bijak oleh orang tua, masa libur seringkali menjadi masa ‘rontok’nya tradisi positif dari lingkungan pondok, berganti hal-hal tiada bermanfaat. Kebiasaan bangun pagi, sholat berjama’ah, mengaji, menghafal dan lainnya berganti hal tidak berguna. Terlebih lagi libur di era menjamurnya alat komunikasi seperti handphone, berikut aplikasi game online, hingga akses media sosial yang nyaris tak terbatas. Tak jarang masa libur menjadi momok bagi para guru, dimana jerih payah mereka membentuk kepribadian anak didiknya menjadi sia-sia, anak-anak kembali menjadi sosok ‘asing’ bagi gurunya berdasarkan parameter nilai Islam yang sudah mereka tanamkan. Konsekwensinya, para guru harus menanggung job mendidik ulang sebagaimana kata petugas SPBU, “dari nol (lagi) ya!”.   

Maka, saya sebagai orang tua dari beberapa orang anak yang saat ini juga yantri di PPUI mengajak para orang tua/ wali santri untuk bersama mengantisipasi ‘musim kebersamaan’ kita ini dengan beberapa langkah ikhtiar, semoga bermanfaat sebagai berikut:  

Pertama; Mari sambut anak-anak kita yang pulang dengan penuh kegembiraan, agar mereka merasa bahwa kehadirannya dirumah sangat dirindukan dan mereka adalah sosok-sosok yang amat berarti bagi kita, sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” ( QS.Al Kahfi [18] : 46 )

Dalam sambutan, mari berikan mereka kasih sayang, sebagaimana layaknya orang tua atas anak, beri mereka perhatian penuh, baik dengan pembicaraan seputar aktifitas sekolah, keasramaan, berikut teman-teman dan para guru. Kita tampung kisah mereka dan kita berikan mereka pemahaman yang baik dalam rangka mendudukkan masalah mereka pada tempatnya. Kita juga perlu memberi apresiasi positif terhadap keberadaan mereka di pondok selama ini, bahwa semua ini adalah untuk kebaikan mereka dan kita sebagai orang tuanya. 

Kedua; Kesempatan di rumah, bisa dijadikan masa perbaikan serta peningkatan taraf kesehatan dengan memperhatikan kebersihan fisik (gigi, kuku, rambut dll), gizi, kecukupan istirahat hingga mengobati penyakit yang mungkin mereka alami, sehingga mereka tetap bugar selama masa libur dan ready saat harus kembali ke pondok lagi, insya Allah.  

Ketiga; Selama di rumah, kita juga perlu berusaha menyiapkan program kegiatan yang akan diterapkan secara rilek dan menggembirakan. Program ini penting mengadaptasi kebiasaan pondok, meskipun pada takaran yang ringan dan tetap dengan ‘rasa libur’. Sholat berjama’ah di masjid bagi yang laki-laki, dan disiplin sholat di rumah pada waktunya bagi anak-anak perempuan. Kebiasaan mengaji (membaca al Quran) diusahakan juga tetap ada, dan secara acak kita bisa mengecek hafalan mereka. Termasuk di dalamnya mengajak mereka bersilaturrahim kepada tetangga atau kerabat dekat, agar mereka tetap memiliki kepedulian lingkungan dan sosial. Orang tua dalam hal ini harus bertindak menjadi uswah hasanah dalam keseharian.

Keempat; Untuk refreshing, kita bisa ajak mereka ke tempat-tempat wisata terdekat yang mudah, murah dan tetap menghibur sekaligus mengesankan. Untuk pilihan lokasinya bisa dibicarakan dengan mereka, sekaligus melatih mereka bermusyawarah, berpendapat  dan menghargai pendapat orang lain. 

Kelima; Untuk permainan di rumah, diakui atau tidak kita hampir mustahil menjauhkan mereka dari gadget (handphone) dan lainnya, sehingga ikhtiar kita tinggal mengatur pola interaksi mereka dengan semua alat komunikasi tersebut. Kita beri mereka kesempatan bersyarat, misalnya terkait konten yang diakses, ketentuan waktu, kapan dan berapa lama dengan tetap memperhatikan perihal jadwal ibadah dan pelajaran. Karenanya catatan lain yang tak kalah penting bagi orang tua adalah pendampingan anak saat berinteraksi dengan gadget. 

Keenam; Selama dirumah anak-anak bisa juga kita ajari skill’s tambahan sesuai usianya, seperti belajar bersepeda, berenang dan lainnya bagi anak usia sekolah Unit Madrasah Khalifah Utsman bin Affan (UMKUBA) setingkat sekolah dasar, sedangkan untuk tingkat menengah Unit Madrasah Khalifah Umar bin Khathab (UMKUBK) dan Unit Madrasah Khalifah Abubakar Ash Shiddiq (UMKABA) dan seterusnya bisa dengan keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, mencuci, cuci piring, bersih-bersih lingkungan rumah hingga pekerjaan dalam bidang teknis.

Menjelang akhir masa liburan, kita sebagai orang tua perlu secara sengaja memperlihatkan persiapan kita untuk bekal mereka kembali ke pondok lagi, baik pakaian, makanan, buku dan alat tulis lainnya, agar mereka tahu bahwa kita memang punya perhatian khusus buat mereka. Termasuk memberi mereka motivasi belajar dan sabar selama nanti di pondok lagi. Dengan persiapan ini anak-anak juga bisa mulai menyiapkan mental, sehingga mereka tidak merasa bahwa masa libur tiba-tiba berlalu, dan harus kembali ke pondok dengan begitu cepat.

Sebagai motivasi diri kita dan anak-anak dalam semua perkara diatas, alangkah indanya perkataan emas yang dinukil oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berikut:

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang bathil” (Al Jawabul Kaafi hal 156). 

Selamat datang anak-anakku, maafkan atas kekurangan kami, semoga Allah merahmati kalian dan kita semua, Aamiin!. (AMS).

Taliwang, Sumbawa Barat, Malam Jum’at, 22 Rabiul Awwal 1443 H.