PENDIDIK ADALAH KOMPONEN PENTING PENDIDIKAN

oleh -251 views
Pendidik adalah komponen penting Pendidikan
Pendidik Adalah Komponen Penting Pendidikan

Pendidik adalah komponen penting pendidikan yang akan berperan dalam proses kegiatan kegiatan pembelajaran dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Karena segala aktifitas dalam proses pendidikan peranan seorang pendidik yang akan berpengaruh dan paling dominan. Seorang pendidik akan senantiasa menjadi sorotan atau akan menjadi contoh bagi para anak didik.

Pendidik adalah komponen penting pendidikan
Parasantriwati PPUI Bekasi Saat Apel Pagi

Sedangkan Ilmu merupakan batu pertama sekaligus sarana bagi seseorang untuk mengenal agamanya, di samping menjadi jembatan untuk mentaati Rabbnya, Ilmu adalah sarana pendidikan paling efektif, paling meyakinkan dalam penyucian jiwa, paling aman dari fitnah, paling tegar dalam cobaan, paling bisa menghibur hati yang lara, paling tinggi nilai keabaikannya, paling tepat untuk bertakarub kepada Allah dan paling bisa mengangkat derajat. 

Ilmu mempunyai wadah-wadah yang menjaganya, pelindung-pelindung yang memeliharanya, para pakar yang mengembannya dan para tokoh ulama yang melayaninya, Ilmu dari generasi ke generasi berpindah melalui mereka dan tersebar luas di persada bumi berkat usaha keras mereka.
Seorang pendidik adalah penerus para nabi dan ulama dalam menjalankan proses pendidikan dan pengajaran, selalu melayani umat dalam mencetak generasi masa depan, menanamkan bibit-bibit kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dalam jiwa generasi manusia

Tanggungjawab seorang Pendidik

Pendidik adalah komponen penting pendidikan. Di pundaknya terletak tanggung jawab yang besar dalam upaya mengantarkan peserta didik kearah tujuan pendidikan yang telah diciptakan. Dalam pandangan Islam, pendidik pada prinsipnya tidak hanya mereka yang mempunyai kualifikasi keguruan secara formal yang diperoleh dari bangku sekolah perguruan tinggi. Melainkan yang terpenting adalah mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan tertentu dan dapat melaksanakan transfer knowledge kepada orang lain.

ggungjawab Seorang PendidikTan

Dalam lingkup sejarah, pendidikan telah dilakukan oleh manusia pertama di muka bumi ini, yaitu sejak Nabi Adam. Bahkan dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa proses pendidikan terjadi pada saat Adam berdialog dengan Rabbnya. Pendidikan ini muncul karena adanya motivasi pada diri Adam serta kehendak Rabb sebagai pendidik langsung Adam untuk mengajarkan beberapa nama. 

Hal ini dijelaskan dalam al-Quran Surat al-Baqarah ayat 31.

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (QS. Al-Baqarah : 31)

Maka mencetak dan menghasilkan generasi shaleh bukanlah perkara yang ringan, akan tetapi ia adalah perkara yang sungguh sangat berat dan butuh banyak sekali pengorbanan-pengorbanan. Namun yakinlah siapa pun yang memiliki kesungguhan merealisasikannya, Allah Ta’ala akan menunjukkan jalan mudah bagi kita. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهدِيَنَّهُم ‌سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلمُحسِنِينَ

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam (mencari keridhaan) kami, maka kami (Allahakan menunjukkan pada jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Siapakah yang dinamakan Pendidik

Mendidik dan mengajar adalah tugas orang tua dan guru sebagai pendidik. Kedua ikhtiar ini membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. 

Pendidik adalah komponen penting pendidikan
Para santriwan bersam para Pendidik dalam Acara Apel Pagi

Bagi anak, pendidikan merupakan hak. Bagi orang tua dan guru, pendidikan merupakan kewajiban. Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim[66]: 6).

Ali bin Abu Thalib menjelaskan bahwa cara untuk menjaga diri dan keluarga adalah dengan mengajar dan mendidik anak-anak. Mendidik anak berarti memuliakan mereka. Menelantarkan anak berarti menjerumuskan diri dan keluarga ke dalam neraka.

Caranya pun harus dilakukan dengan penuh kasih sayang. Bukan dengan cara menghardik dan menghajar. Karena, sikap kasar cenderung merusak pikiran dan jiwa anak-anak. Merawat anak-anak mesti dengan rasa kasih saying / welas asih.

Mendidik berbeda dengan menghardik

Menghardik berbeda dengan mendidik. Menghajar berbeda dengan mengajar. Menghardik dan menghajar tak mungkin terjadi jika guru menjadikan rasa kasih sayang sebagai cara terbaik mendidik anak-anak. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak punya belas kasihan, niscaya tidak akan dikasihani” (HR Bukhari). Guru harus mendidik dengan kasih sayang dan penuh perhatian. Mendidik dengan kasih sayang bisa tampak melalui sikap hidup yang ditunjukkan guru kepada murid. Guru punya kewajiban sekaligus etika dalam mendidik anak dengan landasan kasih sayang.

Mendidik berbeda dengan Menghardik

Pertama, guru adalah orang tua bagi murid-murid. “Sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orang tua kepada anaknya. Aku mengajari kalian.” (Ibnu Majah melalui Abu Hurairah).

Kedua, guru menyadari bahwa anak merupakan amanah titipan dari Allah SWT. Tak ada istilah anak kandung dan anak tiri. Semua murid harus diperlakukan bak anak kandung. Guru bertanggung jawab penuh atas cara dan proses pendidikan murid di sekolah.

Ketiga, cara perhatian guru kepada murid yang proporsional. Guru tak berlebihan dalam memberikan penghargaan dan hukuman. Jangan pelit tapi juga tak mengumbar pujian. Jangan enggan dan ragu, tapi juga tak setiap saat memberikan teguran.  Sikap baik ini membangun cara pandang guru yang tepat terhadap sosok anak pintar dan anak nakal. Anak pintar dan nakal bisa jadi sumber cobaan bagi guru.

Anak pintar bisa menjebak guru jadi bersikap terlena dan merasa hebat. Mendidik anak pintar menjadi sosok rendah hati pun bukan perkara mudah.  Sebaliknya, anak nakal bisa meruntuhkan batas kesabaran guru. Tak jarang guru yang tak mampu kuasai hawa nafsunya bisa menghardik, bahkan memukul anak. Ibnu Khaldun pernah berkata, “Barang siapa yang menerapkan pendidikannya dengan cara kasar dan paksaan terhadap orang-orang yang menuntut ilmu kepadanya, para budak, atau para pelayannya, maka orang yang dididik olehnya akan dikuasai oleh serbaketerpaksaan. Keterpaksaan akan membuat jiwanya merasa sempit dan sulit untuk mendapatkan kelapangan.”

Jika guru menggunakan cara-cara kekerasan saat mendidik anak, makna mendidik jadi kehilangan esensinya. Nilai-nilai kemanusiaan pada diri anak menjadi tergerus. Dampaknya akan membuahkan anak didik yang berjiwa lemah, labil emosinya, lemah tekad dan inisiatif, serta punya citra diri yang buruk.

Semoga kita semua para guru atau pendidik di Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah dimanapun berada selalu dimudahkan, dilancarkan allah dalam mendidik generasi khilafah dan diberikan kita keistiqomahan dalam mendidik, mengajar serta mencetak mujahid dakwah untuk menegakan kalimat Allah dimuka bumi. Amiin Ya Rabbal alamin.

Pendidik adalah komponen penting pendidikan