MENGIKUTI ALUR ‘ANALOGI WADAH’, KEN SETIAWAN DAN DOKTOR NAJIH

oleh -127 views

Luasnya medan kajian dalam Webinar (Seminar dalam jaringan/daring dengan situs web, red.) dengan tema Kebangsaan, Cinta Tanah Air pada 13 September 2021 lalu, menyisakan banyak kesan dari berbagai lontaran ide dan pemikiran para narasumber. Acara yang disiarkan secara live oleh Channel: KAMTIBMAS NKRI tersebut menghadirkan nara sumber dari berbagai kalangan. Di dalamnya ada Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ (Khalifatul Muslimin), Ken Setiawan (Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Centre), Dr. Muhammad Najih Arromadloni, M.Ag., (Badan Penanggulangan Ekstrimisme dan Terorisme, BPET MUI) dan Dr. Sapto Priyanto, A.MI, SH., M.Si. (Kepala Pusar Riset Ilmu Kepolisian dan Kajian Terorisme S.K.S.G UI). Acara yang seru dan mungkin juga menegangkan bagi sebagian pihak ini dipimpin oleh Moderator; Rudy Harisyah Alam (Peneliti Balitbang Agama Jakarta). 

Dari awal hingga akhir acara yang tampak sebagai “cungkit” untuk mengorek Khilafatul Muslimin ini berlangsung hangat, lontaran pemikiran dan pandangan para peserta lebih banyak diarahkan kepada Khilafatul Muslimin yang dihadiri langsung oleh Khalifah, Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’. Bila diperhatikan dengan seksama, secara umum pembicaraan lebih dominan pada tema wadah atau sistem pemerintahan. Ken Setiawan langsung menggebrak dengan sikapnya yang tidak sepakat dengan Khilafatul Muslimin, karena tidak mau mendaftar pada lembaga resmi negara, agar menjadi organisasi atau perkumpulan resmi dan terdaftar. “Padahal kita punya kewajiban mentaati pemerintah, meskipun dirampas hartamu atau memukul punggungmu” ucap Ken Setiawan mengutip sebuah hadits Nabi shalallaahu ‘alayhi wa sallam.

Selaras dengan Ken, Dr. Muhammad Najih mengatakan, bahwa Khilafah secara mendasar tidak ditemukan dalam Al Qur’an maupun hadits, bahkan dalam realitasnya masih menurut Dr. Najih, sejarah Khilafah banyak diwarnai pembunuhan dan pembantaian. Untuk menguatkan argumennya Dr. Najih mengemukakan contoh, Khalifah Umar bin Khathab yang dibunuh, Utsman dan Ali yang juga dibunuh, bahkan Hasan disebutkannya mati diracun dan Husen dipenggal kepalanya di padang Karbala. “Tidak ada sistem kepemimpinan yang sempurna” simpulnya. 

Dalam merespon apa yang disebut oleh Moderator; Rudy Harisyah Alam sebagai “Ngotot”nya Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja dengan konsep Khilafah, Ken Setiawan sempat memilih diksi kotor yang disebutnya sebagai “istilah anak muda sekarang” bahwa ide Negara Islam sama halnya dengan fantasi yang disebutnya “seperti (maaf) onani, tidak masalah bagi orang lain, tapi dosa” ucapnya. Menurut Ken, Khilafah yang assumsikannya sebagai negara Islam, hanyalah sebuah persepsi (simpulan dari proses pemahaman atau pemberian makna, red.) dan bukannya kebenaran pasti. Sehingga menurutnya; “Persepsi itu ibarat air dan konsepsi diibaratkan cangkir, kwalitas air tidak bisa dipengaruhi oleh media cangkir, air ditempatkan dimanapun tidak akan berubah rasa” demikian analogi Ken. 

Senada dengan Ken, Dr. Najih juga kembali membuat analogi sistem dengan rumah, “Bila memang dari rumah ini jendelanya yang rusak, kenapa harus merobohkan rumahnya, perbaiki saja jendelanya” paparnya.

Rasanya unik bahkan aneh, jika memperhatikan nama, titel kesarjanaan, strata pendidikan bahkan latar belakang organisasi seperti Dr. Najih yang membawa nama Majelis Ulama Indonesia (MUI), rasanya tak wajar kita mendengarkan berbagai paparan para pembicara yang sepakat menolak bahkan menyerang Khilafah yang kita yakini sebagai ajaran Islam, bahkan telah menjadi realitas sejarah selama 13 abad. Namun, saya yakin dari acara ini, Allah telah membukakan wawasan yang lebih luas dan menguatkan keyakinan warga Khilafatul Muslimin yang mengikuti webinar ini.

Seorang Ken Setiawan yang menurutnya adalah bekas orang dalam Negara Islam Indonesia (NII), tampak menggunakan parameter pengalamannya sebagai mantan NII untuk mengukur dan menghukumi Khilafatul Muslimin. Sedangkan berulang kali Khalifah, Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja mengatakan bahwa Khilafah bukanlah negara Islam, bahkan bukan seperti organisasi pada umumnya. Namun, Ken menyampaikan rasa tidak percayanya dengan mengemukakan tidak terdaftarnya Khilafatul Muslimin sebagai bukti ketidak taatan pada NKRI. 

Sangat mengherankan sebenarnya, bila mereka ini tidak paham aturan perundang-undangan dari NKRI yang diakui sangat dicintainya ini. Dr. Hamdan Zoelfa, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK), pernah menjelaskan duduk masalah ini. Mengutip putusan MK No. 82/PUU-XI/2013. Dalam putusan itu, dia mengatakan, ada tiga jenis ormas yaitu ormas berbadan hukum, ormas terdaftar dan ormas tidak terdaftar. Ormas tidak terdaftar, katanya, tidak mendapat pelayanan pemerintah dalam segala kegiatannya. Sedangkan Ormas terdaftar mendapat pelayanan negara. “UU tidak mewajibkan suatu ormas harus terdaftar atau harus berbadan hukum. Karena hak berkumpul dan bersyarikat dilindungi konstitusi. Negara hanya dapat melarang kegiatan ormas jika kegiatannya mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau melanggar nilai-nilai agama dan moral,” tegas Hamdan. (Merdeka.com Minggu, 3 Januari 2021 20:33).

Dari analogi Ken terkait persepsi dan konsepsi, memang sulit didapati kesepahaman bila satu objek oleh satu pihak dipandang hanya sebagai persepsi, sedang dilain pihak dianggap sebagai original value, yang wajib ditegakkan. Namun, mungkin Ken Setiawan juga lupa bila sebuah persepsi itu seperti seperti air dan konsepsi seperti cangkir, kwalitas air tetap saja dipengaruhi oleh wadah, karena selain memiliki bentuk, wadah juga memiliki kwalitas dan kondisi serta asal bahan bakunya (dasar pijakan ideologis). Sehingga bila cangkir kotor, tentu akan ikut mengotori air atau merubah struktur air apabila terjadi reaksi tertentu dari wadah berdasarkan bahan pembuatannya. Sehingga analogi ini kita dapati sebagai analogi yang sangat lemah, hanya saja memang diperlukan oleh mereka yang memiliki kebencian atau ketidak pahaman untuk menolak apa yang dia tidak sepakat dengannya. Saya teringat dengan perkataan Khalifah, Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja, ketika mendengar diantara kami menggunakan analogi “Badan tergantung bagaimana kepala”, beliau berujar; “Tidak selamanya begitu, karena kepala biawak juga mirip dengan ular, tapi beda badannya!”

Untuk analogi Doktor Najih yang masih tampak muda dan cerdas, terkait rumah dan jendelanya. Sesungguhnya Islam itu membangun, tidak merusak. Berkali-kali Khalifah, Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ menyampaikan kepada para narasumber tentang misi Rahmatan Lil ‘alamin, kasih sayang bagi seluruh alam, bahkan Non Muslim dan binatangpun akan diuntungkan, apalagi anda. Tak tersurat dan tersirat sedikitpun dari paparan Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja terkait merobohkan rumah hanya karena kerusakan parsial pada jendela. Justeru kaum Muslimin hari ini, merasa sayang atas sebuah rumah besar yang bernama Indonesia ini, ketika selalu salah urus, salah konsep. Gonta-ganti rezim hanya berdampak pada gonta-ganti “kiblat”. Sekali barat (Amerika Serikat/ AS) sekali timur (Rusia/ China) saja. Seandainya, kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya akan kita dapati konsep mengurus rumah ini yang lebih baik dan lebih mensejahterakan dibanding cara-cara klasik selama ini. 

Terkait adanya Khalifah yang terbunuh dan ini memang seringkali dijadikan hujjah bagi para penentang konsep Khilafah. Seharusnya tidak mengherankan bagi seorang Muslim. Dan izinkan kami menyampaikan beberapa hal terkait hal ini.

Pertama, Ajal itu Allah yang atur waktunya, bila sudah saatnya tidak akan dapat dimundurkan atau dimajukan dan caranya Allah pula yang tentukan. Ajal juga tidak gentar dengan jabatan dan kekuasaan seseorang.

Kedua, Pemimpin Islam tidak selalu terkait dengan birokrasi yang ruwet bila berhubungan dengan rakyatnya, sehingga interaksi seorang Khalifah dengan rakyat begitu dekat, karena Islam menempatkan pemimpin lebih kepada pelayan ummat bukan penguasa seperti raja-raja. Bila ada yang membencinya, dengan mudah saja mereka menyerang fisik pemimpinnya.

Ketiga, Banyak pemimpin Islam mati demi rakyatnya, sedangkan banyak pemimpin lain yang membunuhi rakyatnya demi kelangsungan kekuasaannya. Sehingga tokoh politik seperti Yosef Stalin, Presiden Uni Soviet yang diktator, pengamal Marxisme tidak dapat tidur nyenyak karena dihantui kesalahan atas jutaan rakyat yang dibunuhnya, bahkan ia khawatir kalau-kalau juga ia dibunuh sebagai bentuk balas dendam rakyat. Dalam sejarah Amerika Serikat bahkan ada istilah; Sekuel dua puluh tahunan pembunuhan Presiden AS, dimana setiap dua puluh tahunan dalam sejarah AS, ada Presiden yang terbunuh,. Yang pertama adalah Abraham Lincoln, lalu James A. Garfield, dan hampir dua puluh tahun setelahnya, Presiden William McKinley juga meninggal karena komplikasi setelah ditembak dua kali dan yang paling terkenal adalah pembunuhan atas John F Kennedy (JFK) yang masih misterius hingga kini. 

Keempat, Kematian pemimpin juga terkait dengan faktor keamanan yang bisa diupayakan secara kontekstual sesuai dengan faktor yang membuat aman untuk menutupi celah yang membahayakan. Makanya, semua negara didunia menjadikan Presiden, Perdana Menteri, Raja atau kepala Negara sebagai fokus utama target pengamanan. Di Indonesia kita kenal ada Paspampres, bahkan, hal yang mungkin mencegangkan di AS adalah apabila seorang presiden Amerika Serikat minum dalam acara di luar Gedung Putih, gelas yang baru saja digunakannya akan diamankan untuk dihancurkan oleh pegawal. Hal ini dilakukan dalam hal jaga-jaga, jangan sampai sembarang orang dapat mengakses DNA sang Presiden, inilah yang kami sebut sebagai ikhtiar kontekstual.

Jadi, simpulnya kami yakin dan membenarkan Khilafah sebagai sistem Islam dari dasarnya yang orisinal Al Quran dan Sunnah, bahkan dari realitas 13 abad kekuasaan Islam yang membuat Yahudi benci dengan angka tersebut (angka 13). Kamipun tidak sepakat dengan sistem selainnya, sebagai konsepsi akal manusia yang rapuh berikut realitas sejarahnya yang juga buruk. Maka, kami mengajak semua pihak untuk bersatu padu dalam sistem Khilafah sebagai bentuk ibadah bagi kita semua, agar hidup kita selamat dari dunia hingga akhirat. Insya Allah! (AMS).

Oleh. Ahmad MS