MENGAPA HARUS BER-ISLAM, MENGAPA HARUS BERJAMA’AH DAN MENGAPA HARUS BER-KHILAFAH?

oleh -191 views

Judul tulisan tentu menyangkut pertanyaan mendasar dalam keislaman kita, baik pada dimensi pribadi kita sebagai ‘abid (hamba) maupun pada dimensi sosial kita sebagai Khalifatullahi fil ardh. Bahwa berIslam, berjamaah dan berkhilafah berada pada satu alur kewajiban yang tak dapat dipisahkan berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

A. MENGAPA KITA HARUS BER-ISLAM?

Pertanyaan ini bisa saja menimbulkan respon beragam, mulai yang merasa perlu hingga yang merasa ‘geli’, masa iya hal yang sudah kita lakoni sebagai pilihan hidup kok masih dipertanyakan ‘kenapa’nya. Tapi pertanyaan ini memang penting, mengingat kita butuh ilmu sebagai dasar dalam memahami dan mengamalkan suatu hal dalam pilihan berkeyakinan kita. 

Baiklah, jawaban pertama kita adalah karena Allah memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam dengan sempurna dan tidak boleh mengikuti langkah atau selera syaitan, sebagaimana firman-Nya, 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208). 

Ayat ini jelas sekali mengandung perintah untuk memasuki Islam dan menolak kehendak syaitan kepada Muslimin dan Mu’minin, maka ketika ada ummat manusia yang tidak mau masuk kedalam Islam menjadi kafirlah semua mereka. Allah juga memerintahkan kita agar jangan mati melainkan dalam keadaan Islam, selaras dengan firman-Nya, 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102). 

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132).

Semua ayat-ayat tersebut menjadi pegangan kuat bagi kita untuk memeluk dan terus-menerus berada dalam Islam, tanpa alasan apapun karena itu merupakan perintah suci dari kalam Ilahi. Itulah landasan dan pegangan paling kuat, semua umat manusia harus berada dalam Islam dan di hari nanti imbalannya adalah surga. Sebaliknya bagi mereka yang ingkar, maka balasannya nanti adalah neraka, karena mereka melawan perintah Allah, sebagaimana firman-Nya, 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6).

Jawaban kedua kita, adalah karena Islam adalah agama yang benar, lengkap, sempurna, dan satu-satunya yang diakui oleh Allah di muka bumi ini dan di akhirat kelak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, 

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran: 19).

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3). 

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85). 

Dengan demikian tepatlah kita semuanya karena memilih Islam sebagai agama yang dijamin kebenarannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan rugilah mereka yang sampai hari ini belumsampai kepada Islam baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, maupun yang lainnya.

Tidak ada yang patut diragukan dari eksistensi Islam yang dijamin baik dan sempurna oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena Islam merupakan satu satunya agama Allah yang memiliki peraturan kehidupan umat manusia yang sangat kompleks dan komprehensif. Jadi kita berada dan memilih Islam karena Islam agama yang benar, lengkap dan sempurna,  kalau tidak beragama Islam akan rugi selamanya di hari nanti. 

B. MENGAPA KITA HARUS BER-JAMA’AH?

Pertanyaan inipun seolah mengusik ketenangan mereka yang sudah nyaman dalam ibadah ritual, dalam kesendirian mereka bermunajat kepada Allah pada sepertiga malam yang akhir, dalam keasyikan mereka menikmati shaum sunnah Senin-Kamis dan lainnya. Tentu mereka  yang meyakini bahwa berIslam cukup dengan pelaksanaan ibadah-ibadah pribadi tanpa perlu memikirkan dimensi sosial. Maka jawabannya bisa kita lihat dalam uraian beriktu ini. 

1. Menurut Al Qur’an.

QS. Ali Imran [3]: 103:

                      وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ 

(103). Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

(105). Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,

QS. Ar Ruum [30]:31-32

مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٣١

dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,

مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ ٣٢

yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

QS. Asy Syuuroo [42]:

(13). Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

2. Menurut Hadits-hadits Nabi shalallaahu alayhu wa sallam.

يَااَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَاِيَّا كُمْ وَالْفِرْ قَةِ. يَااَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَاِيَّا كُمْ وَالْفِرْ قَةِ.  (رَوَاهُ اَحْمَدْ اَنْ زَكَرِيّاَ ابْن السّلَام)

Wahai sekalian manusia hendaklah kalian berjamaah, dan janganlah kalian berpecah belah.  Wahai sekalian manusia hendaklah kalian berjamaah, dan janganlah kalian berpecah belah.  (HR. Ahmad dari Zakariyya bin Salam) 

أَنَا اَمُرُكْم بِخَمْسٍ اَللهُ أَمَرَنِى بِهِنَّ : بِاْلجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ الْهِجْرَةِ وَ اْلجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ اْلجَمَاعَةِ قِيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَى اَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَى اْلجَاهِلِيَّةِ فَهُوَ مِنْ جُثَاءِ جَهَنَّمَ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ اِنْ صَامَ وَصَلَّى ، قَالَ وَاِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ فَادْعُوا اْلمُسْلِمِيْنَ بِمَا سَمَّاهُمُ اْلمُسْلِمِيْنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ . (رَوَاهُ اَحْمَدْ وَ التِّرْ مِذِى عَنِ الْحَرِثْ الْاَشْعَ رِى) 

“Aku perintahkan  kepada kamu sekalian (mus limin) lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; berjama’ah, mendengar, thaat, hijrah dan jihad fie sabilillah. Barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat.  Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam.”  Para sahabat bertanya: “Ya Rasu lullah, jika ia shaum dan shalat?” Rasul bersabda: “Sekalipun ia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang muslim, maka panggillah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang Allah telah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza wa jalla.” (HR.Ahmad bin Hambal dan At-Tirmidzi dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad:IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa’a fi matsalis Shalati wa shiyami wa shodaqoti:V/148-149 No.2263) 

مَنْ خَرَجَ  عَنِ الطَّا عَةِ وَفَارَكَ الْجَمَاعَةِ ,ومَاتَ  فَمَيْتَتُهُ مِيْتَتً جَاهِلِيَّةً (رَوَاهُ مُسْلِمْ)

Barang siapa yang keluar dari keta’atan dan berlepas diri dari jamaah. Maka matinya seperti matinya orang-orang jahiliyyah dahulu. (HR. Muslim).

3. MENGAPA HARUS BER-KHILAFAH?

Selain sebagai ‘abid kita juga dikenakkan kewajiban menegakkan dan menyempurnakan  sistem khilafah sebagai tonggak persatuan dan kepemimpinan ummat Islam dan menegakkannya bisa dilihat rinciannya sebagai berikut:

1. Dalil Al Quran.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi Khalifah” (QS Al-Baqarah [2]: 30). 

Imam Al-Qurthubi [w. 671 H], ahli tafsir yang sangat otoritatif, menjelaskan, “Ayat ini merupakan hukum asal tentang wajibnya mengangkat Khalifah.” Bahkan, dia kemudian menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah) ini di kalangan umat dan para imam mazhab, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli tentang syariah) dan siapa saja yang berpendapat dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.” (Lihat, Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Juz I/264). 

Dalil Alquran lainnya, antara lain QS an-Nisa’ (4) ayat 59; QS. Al-Maidah (5) ayat 48; dll (Lihat, Ad-Dumaji, Al–Imâmah al–‘Uzhma ‘inda Ahl as–Sunnah wa al–Jamâ’ah, hal. 49). 

2. Dalil As-Sunnah.

Di antaranya sabda Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam: “Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka ia mati jahiliah.” (HR Muslim). 

Berdasarkan hadits di atas, menurut Syeikh ad-Dumaiji, mengangkat seorang imam (khalifah) hukumnya wajib [Lihat, Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, hal. 49].

Nabi juga mengisyaratkan, bahwa sepeninggal baginda shalallaahu ‘alayhi wa sallam  harus ada yang menjaga agama ini, dan mengurus urusan dunia, dialah khulafa’, jamak dari khalifah [pengganti Nabi, karena tidak ada lagi Nabi]. Nabi bersabda: 

“Bani Israil dahulu telah diurus urusan mereka oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi [Bani Israil] wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya, tidak seorang Nabi pun setelahku. Akan ada para Khalifah, sehingga jumlah mereka banyak.” (HR Muslim).

2. Dalil Ijmak Sahabat.

Perlu ditegaskan, kedudukan Ijmak Sahabat sebagai dalil syari’ah—setelah Al Quran dan As-Sunnah—sangatlah kuat, bahkan merupakan dalil yang qath’i (pasti). Para ulama ushul menyatakan, bahwa menolak ijmak sahabat bisa menyebabkan seseorang murtad dari Islam. Dalam hal ini, Imam As-Sarkhashi (w. 483 H) menegaskan: “Siapa saja yang mengingkari kedudukan Ijmak sebagai hujjah yang secara pasti menghasilkan ilmu berarti benar-benar telah membatalkan fondasi agama ini. 

Karena itu orang yang mengingkari Ijmak sama saja dengan berupaya menghancurkan pondasi agama ini.” (Lihat, Ash-Sarkhasi, Ushûl as-Sarkhasi, Juz I/296). Karena itu, Ijmak Sahabat yang menetapkan kewajiban menegakkan khilafah tidak boleh diabaikan, atau dicampakkan seakan tidak berharga, karena bukan Al Quran atau As-Sunnah. Padahal, Ijmak Sahabat hakikatnya mengungkap dalil yang tak terungkap (Lihat, as-Syaukani, Irsyadu al-Fuhul, hal. 120 dan 124). Berkaitan dengan itu Imam Al-Haitami menegaskan: “Sungguh para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan upaya mengangkat imam/ Khalifah sebagai kewajiban paling penting. Faktanya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda (sementara) kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah saw.” (Lihat, Al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 7). 

Lebih dari itu, menurut Syeikh ad-Dumaji, kewajiban menegakkan Khilafah juga didasarkan pada kaidah syariah: “Selama suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.” Sudah diketahui, bahwa banyak kewajiban syariah yang tidak dapat dilaksanakan oleh orang-perorang, seperti kewajiban melaksanakan hudûd (seperti hukuman rajam atau cambuk atas pezina, hukuman potong tangan atas pencuri), kewajiban jihad untuk menyebarkan Islam, kewajiban memungut dan membagikan zakat, dan sebagainya. Pelaksanaan semua kewajiban ini membutuhkan kekuasaan (sulthah) Islam. Kekuasaan itu tiada lain adalah khilafah. Alhasil, kaidah syariah di atas juga merupakan dasar atas kewajiban menegakkan khilafah (Lihat, Syeikh ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, hlm. 49). 

4. Kesepakatan Ulama Aswaja.

Berdasarkan dalil-dalil di atas —dan masih banyak dalil lainnya— yang sangat jelas, seluruh ulama Aswaja, khususnya imam empat mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hanbali), sepakat, bahwa adanya khilafah, dan menegakkannya ketika tidak ada, hukumnya wajib. Syeikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H) menuturkan, “Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib” (Lihat, Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzâhib al-Arba’ah, Juz V/416). Hal senada ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, Juz XII/205). Pendapat para ulama terdahulu di atas juga diamini oleh para ulama muta’akhirîn [Lihat, Imam Abu Zahrah, Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyah, hlm. 88).

Maka, cukuplah bagi kita alasan-alasan atau dalil-dalil syar’i di atas untuk menjawab pertanyaan mengapa kita harus ber-Islam, ber-jamaah dan ber-khilafah. Bahwa ternyata ketiganya adalah rangkaian kewajiban yang tak dapat dipisahkan. Sebagaimana atsar Umar bin Khathab yang berbunyi.

إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ ، وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ ، وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ

“Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah dan tidak ada jamaah kecuali dengan adanya keamiran dan tidak ada keamiran kecuali dengan taat”. (HR. Ad Darami 257, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ul Bayaan 326). (AMS).

Editor: Ahmad MS