KHILAFAH ITU BUKAN NEGARA TAPI AL JAMA’AH

oleh -74 views

Mengapa sejak keruntuhannya pada tahun 1924 M silam Khilafah Islamiyyah sulit di tegakkan kembali, padahal upaya untuk itu berkali-kali telah di lakukan?!.

Jawaban untuk pertanyaan ini cukup komplek, penyebabnya muncul dari eksternal dan juga dari internal umat Islam sendiri.

Adapun salah satu sebab internal, karena mayoritas para pengusung Khilafah memahami bahwa Khilafah adalah negara yang identik dengan kekuasaan.

Maka ketika mereka di ajak berbicara tentang Khilafah, pikiran mereka langsung tertuju kepada Kekhilafahan yang di pimpin oleh Abu Bakar ash-shiddiq yang mana ketika Khilafah muncul maka saat itu keadaannya harus sudah sempurna sebagaimana Kekhilafahan yang ada pada zaman Abu Bakar ash-shiddiq tersebut.

Pertanyaannya, mengapa Khilafah yang di pimpin oleh Abu Bakar ash-shiddiq saat muncul kondisinya sudah langsung bisa tegak sempurna?!.

Jawabannya, karena Khilafah yang di pimpin oleh Abu Bakar ash-shiddiq saat muncul kondisinya sudah bisa langsung tegak sempurna sebab Khilafahnya mendapat warisan kekuasaan dari sistem An-Nubuwwah yang saat itu di pimpin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam, maka tidak heran apa bila saat Khilafahnya muncul saat itu sudah bisa langsung tegak sempurna, sebab saat itu Abu Bakar ash-shiddiq hanya tinggal melanjutkan kepemimpinan yang sudah berjalan yang mana sebelumnya telah di rintis oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.

Akan tetapi Khilafah yang akan muncul di akhir zaman adalah Khilafah yang tidak akan mendapatkan warisan apa-apa dari sistem An-Nubuwwah, sehingga kemunculannya akan seperti kemunculan saat sistem An-Nubuwwah pertama kali muncul.

Yaitu di mulai dengan tanpa memiliki kekuasaan apa-apa, lalu lambat-laun Kekhilafahannya semakin membesar, sampai akhirnya Allah beri kekuasaan sebagaimana janji-Nya yang terdapat di dalam surat An-Nur ayat 55.

Allah berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

QS: An-Nur 55.

Dalam ayat di atas Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal shalih bahwa sungguh-sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.

Amal shalih itu apa?!.

Amal shalih adalah amal yang di ridhai Allah, dan amal yang di ridhai Allah adalah amalan yang berdasar perintahkan-Nya, dan di antara perintah-perintah-Nya adalah hidup bersatu dan larangan hidup bercerai-berai.

Maka orang yang hidup bersatu dalam rangka menghindari larangan hidup bercerai-berai dengan di dasari keimanan berarti dia adalah orang yang sedang beramal shalih, dan amal shalih yang berkaitan dengan kekuasaan adalah amalan bersatu.

Maka berdasarkan hal tersebut, amal shalih yang di maksud Allah yang di janjikan-Nya akan di beri-Nya kekuasaan sebagaimana janji-Nya dalam ayat di atas adalah amal shalih hidup bersatu.

Maka Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah yang seperti ini tidak akan muncul dari orang-orang yang berpemikiran bahwa Khilafah adalah negara, yang mana mereka mensyaratkan bahwa sahnya Khilafah apa bila telah memiliki wilayah kekuasaan.

Akan tetapi ia akan muncul dari tangan orang-orang yang memahami bahwa Khilafah itu harus di awali dengan cara mengamalkan perintah hidup bersatu/berjamaah tanpa mensyaratkan harus adanya wilayah kekuasaan terlebih dahulu bagi sebuah Kekhilafahan.

Sebab paham bahwa Khilafah itu adalah negara yang identik dengan kekuasaan, sesungguhnya paham itu adalah paham yang menjadi penghambat segera muncul dan tegaknya Khilafah.

Karena bila paham ini ada di dalam benak para pengusung Khilafah, mereka akan selalu menuda-nunda memunculkan Khilafah apa bila mereka belum mampu untuk memunculkan Khilafah yang memiliki wilayah kekuasaan.

Oleh sebab itulah maka paham ini sesungguhnya adalah paham yang menjadi penghalang segera tegaknya Khilafah.

Dan hal ini telah terbukti dalam kehidupan nyata, bahwa dari tahun 1953 M, bahkan jauh sebelum itu Khilafah telah di perjuangkan, akan tetapi hingga hari ini hasilnya tetap saja nihil.

Akan tetapi mana kala perjuangan Khilafah itu di dasari dari paham akan wajibnya hidup berjamaah dan haramnya hidup berpecah-belah, maka dengan idzin Allah Khilafah akan segera bisa di tegakkan.

Sebab mana kala para pengusung Khilafah memahami wajibnya hidup berjamaah dan haramnya hidup berpecah-belah, tentu mereka tidak akan betah berlama-lama hidup dalam perpecahan yang ancamannya adalah akan di siksa dengan siksaan yang dasyat, 

Allah berfirman,

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جاءَهُمُ الْبَيِّناتُ وَأُولئِكَ لَهُمْ عَذابٌ عَظِيمٌ 

Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

QS: Ali Imran 105.

Dalam ayat di atas Allah melarang kita menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas, sebab mereka itu adalah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Oleh sebab itu, bila para pengusung Khilafah telah memahami akan perintah wajibnya hidup berjamaah dan haramnya hidup berpecah-belah, yang ancamannya akan di siksa dengan siksaan yang dasyat, tentu mereka akan segera mengumumkan Kekhilafahan di saat sedang terjadi kekosongan kepemimpinan Islam meskipun dalam keadaan lemah sebagai sarana untuk melaksanakan perintah hidup berjamaah, atau akan segera menggabungkan diri pada Kekhilafahan yang sudah ada agar terhindar dari ancaman dosa perpecahan.

Maka dari itu, mari mulai sekarang kita rubah mindset bahwa Khilafah itu adalah negara, dengan mindset bahwa Khilafah itu adalah sebuah sistem pemerintahan yang bukan negara dan juga bukan kerajaaan, akan tetapi ia adalah sebuah sistem kepemimpinan yang unik yang berbeda dari keduanya sebagai wadah/sarana untuk melaksanakan perintah hidup berjamaah dalam rangka mengamalkan ajaran Islam, atau dalam rangka memperjuangkan ajaran Islam.

#Khilafah__adalah_wadah_berjamaah_bukan_Negara

Wallahu a’lamu.

Oleh: Salman Al-Ghozi

Mengapa sejak keruntuhannya pada tahun 1924 M silam Khilafah Islamiyyah sulit di tegakkan kembali, padahal upaya untuk itu berkali-kali telah di lakukan?!.

Jawaban untuk pertanyaan ini cukup komplek, penyebabnya muncul dari eksternal dan juga dari internal umat Islam sendiri.

Adapun salah satu sebab internal, karena mayoritas para pengusung Khilafah memahami bahwa Khilafah adalah negara yang identik dengan kekuasaan.

Maka ketika mereka di ajak berbicara tentang Khilafah, pikiran mereka langsung tertuju kepada Kekhilafahan yang di pimpin oleh Abu Bakar ash-shiddiq yang mana ketika Khilafah muncul maka saat itu keadaannya harus sudah sempurna sebagaimana Kekhilafahan yang ada pada zaman Abu Bakar ash-shiddiq tersebut.

Pertanyaannya, mengapa Khilafah yang di pimpin oleh Abu Bakar ash-shiddiq saat muncul kondisinya sudah langsung bisa tegak sempurna?!.

Jawabannya, karena Khilafah yang di pimpin oleh Abu Bakar ash-shiddiq saat muncul kondisinya sudah bisa langsung tegak sempurna sebab Khilafahnya mendapat warisan kekuasaan dari sistem An-Nubuwwah yang saat itu di pimpin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam, maka tidak heran apa bila saat Khilafahnya muncul saat itu sudah bisa langsung tegak sempurna, sebab saat itu Abu Bakar ash-shiddiq hanya tinggal melanjutkan kepemimpinan yang sudah berjalan yang mana sebelumnya telah di rintis oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.

Akan tetapi Khilafah yang akan muncul di akhir zaman adalah Khilafah yang tidak akan mendapatkan warisan apa-apa dari sistem An-Nubuwwah, sehingga kemunculannya akan seperti kemunculan saat sistem An-Nubuwwah pertama kali muncul.

Yaitu di mulai dengan tanpa memiliki kekuasaan apa-apa, lalu lambat-laun Kekhilafahannya semakin membesar, sampai akhirnya Allah beri kekuasaan sebagaimana janji-Nya yang terdapat di dalam surat An-Nur ayat 55.

Allah berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

QS: An-Nur 55.

Dalam ayat di atas Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal shalih bahwa sungguh-sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.

Amal shalih itu apa?!.

Amal shalih adalah amal yang di ridhai Allah, dan amal yang di ridhai Allah adalah amalan yang berdasar perintahkan-Nya, dan di antara perintah-perintah-Nya adalah hidup bersatu dan larangan hidup bercerai-berai.

Maka orang yang hidup bersatu dalam rangka menghindari larangan hidup bercerai-berai dengan di dasari keimanan berarti dia adalah orang yang sedang beramal shalih, dan amal shalih yang berkaitan dengan kekuasaan adalah amalan bersatu.

Maka berdasarkan hal tersebut, amal shalih yang di maksud Allah yang di janjikan-Nya akan di beri-Nya kekuasaan sebagaimana janji-Nya dalam ayat di atas adalah amal shalih hidup bersatu.

Maka Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah yang seperti ini tidak akan muncul dari orang-orang yang berpemikiran bahwa Khilafah adalah negara, yang mana mereka mensyaratkan bahwa sahnya Khilafah apa bila telah memiliki wilayah kekuasaan.

Akan tetapi ia akan muncul dari tangan orang-orang yang memahami bahwa Khilafah itu harus di awali dengan cara mengamalkan perintah hidup bersatu/berjamaah tanpa mensyaratkan harus adanya wilayah kekuasaan terlebih dahulu bagi sebuah Kekhilafahan.

Sebab paham bahwa Khilafah itu adalah negara yang identik dengan kekuasaan, sesungguhnya paham itu adalah paham yang menjadi penghambat segera muncul dan tegaknya Khilafah.

Karena bila paham ini ada di dalam benak para pengusung Khilafah, mereka akan selalu menuda-nunda memunculkan Khilafah apa bila mereka belum mampu untuk memunculkan Khilafah yang memiliki wilayah kekuasaan.

Oleh sebab itulah maka paham ini sesungguhnya adalah paham yang menjadi penghalang segera tegaknya Khilafah.

Dan hal ini telah terbukti dalam kehidupan nyata, bahwa dari tahun 1953 M, bahkan jauh sebelum itu Khilafah telah di perjuangkan, akan tetapi hingga hari ini hasilnya tetap saja nihil.

Akan tetapi mana kala perjuangan Khilafah itu di dasari dari paham akan wajibnya hidup berjamaah dan haramnya hidup berpecah-belah, maka dengan idzin Allah Khilafah akan segera bisa di tegakkan.

Sebab mana kala para pengusung Khilafah memahami wajibnya hidup berjamaah dan haramnya hidup berpecah-belah, tentu mereka tidak akan betah berlama-lama hidup dalam perpecahan yang ancamannya adalah akan di siksa dengan siksaan yang dasyat, 

Allah berfirman,

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جاءَهُمُ الْبَيِّناتُ وَأُولئِكَ لَهُمْ عَذابٌ عَظِيمٌ 

Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

QS: Ali Imran 105.

Dalam ayat di atas Allah melarang kita menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas, sebab mereka itu adalah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Oleh sebab itu, bila para pengusung Khilafah telah memahami akan perintah wajibnya hidup berjamaah dan haramnya hidup berpecah-belah, yang ancamannya akan di siksa dengan siksaan yang dasyat, tentu mereka akan segera mengumumkan Kekhilafahan di saat sedang terjadi kekosongan kepemimpinan Islam meskipun dalam keadaan lemah sebagai sarana untuk melaksanakan perintah hidup berjamaah, atau akan segera menggabungkan diri pada Kekhilafahan yang sudah ada agar terhindar dari ancaman dosa perpecahan.

Maka dari itu, mari mulai sekarang kita rubah mindset bahwa Khilafah itu adalah negara, dengan mindset bahwa Khilafah itu adalah sebuah sistem pemerintahan yang bukan negara dan juga bukan kerajaaan, akan tetapi ia adalah sebuah sistem kepemimpinan yang unik yang berbeda dari keduanya sebagai wadah/sarana untuk melaksanakan perintah hidup berjamaah dalam rangka mengamalkan ajaran Islam, atau dalam rangka memperjuangkan ajaran Islam. Wallahu a’lamu.

Oleh: Salman Al-Ghozi