KHILAFAH, ANTARA MENUNGGU DAN DITEGAKKAN

oleh -84 views

Khilafah dan Khalifah, dua kata yang kembali populer belakangan ini, mulai dari forum diskusi ilmiah, kampanye hitam atas partai politik tertentu, tuduhan keterlibatan makar atas calon legislatif, branding atas calon eksekutif sebagai ingin merubah tatanan negara dengan Khilafah, hingga debat kusir bermodal berita TV atau media sosial yang minim tanggung jawab. Hiruk pikuk informasi melahirkan beragam respon, bahkan membentuk segmentasi masyarakat berdasarkan daya pikir dan sikap mereka atas kedua kata tersebut. Dua kelompok besar tentu saja; antara yang menerima dan menolak. Pihak yang menerima, setuju dan yakin dengan sistem Khilafah sebagai sistem kepemimpinan berbasis iman Islam sebagai solusi krisis multydimensi. Kelompok yang menolak, melakukan penentangan dengan beragam alasan. Yang menolak dan memang tidak beriman, menuduh Khilafah sebagai pemecah belah rakyat Indonesia, makar atas negara berdaulat hingga dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme, pantas saja karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, anehnya tak ketinggalan yang mengaku dirinya beriman pun ikut menyanggah ide (kewajiban) ber-Khilafah, yang mereka katakan sebagai ide usang, masa lalu, tidak maju, primitif, masanya hanya 30 tahun dan itu sudah berlalu. Bahkan alasan yang mengada-ada, bahwa Khilafah tidak identik dengan sistem kepemimpinan ummat Islam dan sistem itu sifatnya netral, tergantung manusianya. Ujung-ujungnya, “lihat tuh China yang komunis saja bisa maju pembangunan dan militernya…”.

Dari pihak yang menerima atau setidaknya tidak berani menolak, karena Khilafah dan Khalifah menjadi bagian dari Islam dan berbahasa Arab pula, ada ‘faksi’ yang memilih pasif, menunggu keajaiban. Sikap ini dilakukan dengan memaksakan dalil Al Qur’an yang mulia, surat An Nuur ayat yang ke 55, sebagai pembenarannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

       •              •                      

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An Nuur [24]: 55).

Dari kata wa’ad atau janji mereka menyimpulkan untuk menunggu saja sambil melaksanakan amal sholeh sesuai takaran akal dan fikiran yang bisa dijangkau, toh juga Allah akan datangkan pada masanya sesuai kehendak-Nya. Hadits-hadits tentang kepemimpinan Khilafah pasca Rasulullah shalallaahu alayhi wa salam dipandang sebagai sekedar dalil akhbar, sinyalemen, kabar akhir zaman, bukan amr (perintah) untuk diperjuangkan. Dan masih banyak lagi alasan yang dikemukakan oleh mereka yang rindu Khilafah tanpa upaya memperjuangkannya. Apakah semua ini sikap yang tepat?, tentu kita bisa saling menasihati untuk secara bersama-sama mengambil sikap terbaik demi cita-cita mulia dan ridho Allah.

Wa’ad juga tidak hanya terkait dengan Khilafah dalam arti kekuasaan, rezeki yang halal dan jodoh yang baik pun Allah janjikan kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh. Tapi orang berakal tentu akan melakukan segala upaya untuk mendapatkan rezeki yang halal maupun jodoh yang baik, tidak pasif menunggu, minimal berikhtiar dengan bekerja serabutan, hingga usaha makro yang berskala besar. Yang ingin mencapatkan jodoh juga berusaha memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang baik, yang pasif dalam hal ini paling hanya wanita yang memang kebanyakan menunggu, hanya sedikit yang mengungkapkan perasaan terlebih dulu, dengan modal keberanian dan alasan sunnah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, (QS. An Najm [53]:39).

Terkait dengan surat An Nur, ayat 55 diatas; Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa; ini merupakan janji dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya shalallaahu alayhi wa salam, bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai orang-orang yang berkuasa di bumi, yakni menjadi para pemimpin manusia dan penguasa mereka. Dengan mereka negeri akan menjadi baik dan semua hamba Allah akan tunduk kepada mereka. Dan Allah akan menukar keadaan mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa dan menjadi penguasa atas manusia. Janji itu telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka; segala puji bagi Allah, begitu juga karunia-Nya. Kerena sesungguhnya sebelum Nabi shalallaahu alayhi wa salam wafat, Allah telah menaklukkan baginya Mekah, Khaibar, Bahrain, dan semua kawasan jazirah Arabia serta negeri Yaman seluruhnya. Beliau shalallaahu alayhi wa salam sempat memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar dan juga dari para penduduk yang ada di pinggiran negeri Syam (yang berada di dekat negeri Arab). Berbagai macam hadiah berdatangan kepada beliau shalallaahu alayhi wa salam dari Heraklius (Kaisar Romawi), penguasa negeri Mesir dan Iskandariah (yaitu raja Muqauqis), raja-raja negeri Amman (Oman), dan Raja Negus (raja negeri Abesinia yang bertahta sesudah As-hamah rahimahullah).

Kemudian setelah Rasulullah shalallaahu alayhi wa salam wafat dan Allah telah memilihnya untuk menempati kemuliaan yang ada di sisi-Nya, maka urusannya dipegang oleh Khalifah yang sesudahnya, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq. Maka dirapikannya kembali semua kesemrawutan sepeninggal Rasulullah shalallaahu alayhi wa salam dan seluruh Jazirah Arabia berhasil disatukan kembali. Lalu ia mengirimkan sejumlah pasukan kaum Muslim ke negeri Persia di bawah pimpinan Khalid Ibnul Walid radhiyallaahu ‘anhu. Akhirnya mereka berhasil menaklukkan sebagian dari negeri Persia, dan banyak korban yang berjatuhkan dari kalangan penduduknya. Ia mengirimkan pasukan lainnya di bawah pimpinan Abu Ubaidah radhiyallaahu ‘anhu dan para Amir yang mengikutinya menuju ke negeri Syam. Pasukan yang ketiga dikirimkannyalah menuju ke negeri Mesir di bawah pimpinan Amr Ibnul ‘As. Di masa pemerintahannya, pasukan yang dikirim ke negeri Syam berhasil menaklukkan Kota Busra, Dimasyq, dan daerah lainnya yang ada di belakangnya dari kawasan negeri Hauran dan negeri lainnya yang berdekatan. Kemudian Allah mewafatkan Khalifah Abu Bakar dan memilihnya untuk menduduki kehormatan di sisi-Nya.

Dari gambaran Ibnu Katsir dan upaya para sahabat Nabi untuk melaksanakan syuro mencari penerus kepemimpinan Rasulullah pasca wafatnya beliau, jelas bahwa ada ikhtiar, dan karena perangkat kepemimpinan yang dirintis oleh Rasululah telah ada, ikhtiar sahabat tinggal mencari sosok pelanjut dan terpilihlah Abu Bakar Ash Shiddiq. Dari sinilah kita pahami bahwa; iman dan amal sholeh itu sifatnya dinamis, bergerak maju,  terukur dan bertahap hingga puncak capaian, bila Allah menghendaki-Nya. Maka ada potongan kalimat dalam ayat tersebut, “ … dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa…” (QS. An Nuur [24]: 55). 

Perubahan tersebut bukannya tanpa peran manusia sama sekali, Allah membuka peluang manusia berandil dalam upaya merubah keadaan mereka lewat jalan perjuangan dengan pengorbanan harta dan jiwa. Dalam masa itulah terjadi ujian dan guncangan yang menimpa kaum Muslimin. Saking pahitnya sampai mereka bertanya-tanya diantara sesama mereka yang berjuang, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Allah berfirman:

    •   •      •               •       

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. Al Baqarah [2]:214)

Firman Allah yang lainnya:

                 •            

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar Ra’ad [13]:11) .

Oleh karena itu, terkait dengan janji Khilafah, tidak ada alasan bagi kaum Muslimin untuk berpangku tangan. Mulakan gerak kita dengan berjamaah sebagai kewajiban, mendengar dan taat kepada seorang Khalifah, lalu hijrah dan jihad kita di jalan Allah. Gerak kita adalah gerak taat, gerak kita adalah dalam rangka meraih keberkahan, sebagaimana sebuah kata bijak yang berbunyi. 

تَحَرَّكْ فَإِنَّ فِي الْحَرَكَةِ بَرَكَةً

“Bergeraklah karena dalam gerak ada keberkahan”  

Sebagaimana do’a yang harus logis, maka gerak ikhtiar kita tentu gerak yang harus kontekstual dengan cita-cita, juga sejalan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Pelaksanaan kewajiban berjama’ah (bersatu) dalam satu kepemimpinan adalah perintah Allah (QS. Ali Imran [3]:103) yang kontekstual dengan cita-cita hadirnya kekuatan dalam tubuh kaum Muslimin. Maka, menunggu kita adalah kemunduran, diam kita adalah kematian, karena musuh pun tak pernah diam untuk melakukan berbagai makar atas Islam dan kaum Muslimin. Wallahu a’lam!

Oleh La Rangga (AMS)