,

KEMBALI TERBANGUN METODE PENDIDIKAN NABI DI PPUI KHILAFATUL MUSLIMIN

oleh -532 dilihat

Rasulullah merupakan seorang pendidik yang menjadi panutan bagi umatnya. Ia merupakan sosok ideal dalam dunia pendidikan Islam. Rasulullah memiliki sifat-sifat mulia yang dapat dijadikan contoh bagi pendidik. Sifat-sifat tersebut adalah kasih sayang, sabar, cerdas, tawadlu (rendah hati), bijaksana, pemaaf dan lapang dada, berkepribadian yang kuat, dan senang.

Bagi Rasulullah peserta didik terutama anak merupakan karunia Allah yang harus dididik dengan beragam ilmu pengetahuan dan keterampilan. Peserta didik memiliki potensi dan fitrah untuk berkembang. Lingkungan keluarga (orangtua) memainkan peranan yang penting dalam perkembangan pendidikan peserta didik. Peserta didik bukanlah sesuatu yang kosong tanpa ada potensi untuk berkembang, tugas pendidik adalah mengarahkan dan membimbing peserta didik sesuai potensi dan fitrahnya masing-masing. Pendidikan Islam dimulai sejak masa anak-anak tepatnya ketika lahir, kemudian masuk ke madrasah (sekolah) untuk lebih memahami tentang Islam, Nabi telah mewajibkan kepada para orangtua untuk mendidik anak-anak.

Pada dasarnya cara pengajaran dalam Islam yang benar pertama kali bisa kita ketahui dari bagaimana cara Malaikat Jibril mengajarkan Wahyu Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Malaikat Jibril ketika hendak mengajarkan Rasulullah diantaranya adalah dengan :

  • DATANG MENDEKATI Nabi, MEMBACAKAN PERINTAH kepada Nabi kemudian Malaikat Jibril   MENGULANG-ULANGI agar bisa DIIKUTI Nabi apa yang disampaikannya itu.  Dan perintah pertama kali yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi yaitu “IQRO” {Bacalah}! (Qs. Al-Alaq : 1-5)

“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka IKUTILAH bacaannya itu”. (Qs. Al-Qiyamah : 18).

Sebagaimana ayat 18 Surat Al Qiyamah diatas,  maka seorang Guru haruslah dalam posisi dekat terhadap muridnya, dengan demikian murid akan mudah mengikuti, meniru atau mencontoh dan mengulang-ulang apa yang diajarkan itu dengan benar dan tartil.

  • ADA INTERAKSI TANYA JAWAB DAN SALING BERHADAPAN  (FACE TO FACE).

Sebagaimana sebuah hadits yang memuat tentang definisi Islam, Iman dan Ihsan, dan tanda-tanda Kiamat.

Dikisahkan dari Umar Bin Khaththab Radhiyallahu anhu, bahwasanya ketika para sahabat duduk di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasssalam. Tiba-tiba malaikat Jibril yang menyerupai seorang Laki-laki datang duduk dihadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian laki-laki tersebut bertanya kepada Nabi tentang Islam, Iman dan Ihsan serta tanda-tanda kiamat. Setiap kali pertanyaan dijawab Nabi, lelaki itu pun membenarkan jawaban tersebut.

  • MEMPERAGAKAN LANGSUNG APA YANG DIAJARKAN

Bahwa pada akhir malam Isra’ Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam didatangi oleh Malaikat Jibril alaihissalam. Di Baitulharam. Disana Malaikat Jibril mengajarkan dan memperagakan bagaimana caranya berwudhu, shalat, bacaan ketika shalat dan waktu-waktu shalat yang diwajibkan Allah subhanahu wata’ala.

Begitu pula cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan Wahyu Allah kepada para sahabat. Setiap kali Rasulullah menerima Wahyu yang berupa ayat-ayat al-Qur’an, beliau membacanya Di DEPAN para sahabat (Face to face), kemudian para sahabat itu menghafalkan ayat-ayat tersebut hingga hafal di luar kepala. Disamping menyuruh menghafalkan, Nabi juga menyuruh untuk menuliskan ayat-ayat yang diterimanya oleh Kuttab (Penulis Wahyu). Cara belajar seperti ini berjalan dan berkembang sampai pada zaman Kekhalifahan Islam.

Disamping itu Nabi juga memperagakan apa-apa yang telah diketahuinya itu kepada para sahabatnya kemudian para sahabat pun mengikuti apa-apa yang diperagakan Nabi itu misalnya cara shalat, berwudhu, dan sebagainya.

Dengan cara pendidikan seperti itulah terbina generasi-generasi terbaik. Adakah generasi yang lebih baik dari generasi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam? Kemudian dari generasi kalangan sahabat, thabi’in, Tabi’ut tabi’in, hingga pada masa keemasan Islam pada abad ketujuh? Dimana pada masa-masa generasi terbaik tersebut banyak diantara mereka kemudian menjadi Pemimpin-pemimpin yang Adil, Amanah dan membawa kesejahteraan bagi ummat juga menjadi Ulama yang Jujur dan bertaqwa. Kesemuanya itu dihasilkan karena cara pengajaran yang Islami bukan dengan mengikuti cara pengajaran online seperti daring atau yang biasa disebut Belajar dari Rumah (BDR) seperti zaman sekarang ini.

Media yang ada, baik internet, group whatsApp, telegram dan sebagainya itu hanya berfungsi untuk membantu bukan media utama dalam belajar dan mengajar. Belajar tidak hanya sekedar mentransfer ilmu saja tetapi juga harus mengarah pada latihan disiplin, perkembangan kepribadian dengan akhlaqul kariimah.

Banyak sekali problematika adab yang sedang terjadi di dalam dunia pendidikan saat ini, khususnya pada cara pembelajaran Daring, diantaranya adalah :

Pertama, masalah kedisiplinan murid. Rata-rata murid menganggap sepele perihal kerapian dan kedisiplinan waktu saat belajar dari rumah. Faktor kegiatan belajar yang dilakukan dari rumah membuat murid tidak memperhatikan waktu, merasa santai dan bebas beraktifitas. Sehingga tidak jarang seorang murid terlambat kehadiran sesuai dengan jam yang telah ditetapkan oleh pihak Guru maupun sekolah.

Kedua, tidak memperhatikan atau tidak fokus dengan penjelasan Guru. Pembelajaran yang dilakukan dari rumah memunculkan banyak godaan bagi murid, seperti bermain game, membuka sosial media, menonton film, dan mendengarkan musik.

Ketiga, Sikap atau akhlaq yang tidak baik. Disebabkan murid tidak berhadapan langsung dengan Guru maka perkataan yang kurang sopan dan sikap yang menunjukkan tidak mendengar dengan baik bisa dilontarkan murid tanpa takut akan dikenai hukuman dari Gurunya.

Oleh karena itu dalam Pendidikan berbasis Kekhalifahan ini adalah berupaya untuk kembali kepada cara-cara pengajaran Islami, belajar dan mengajar Islami sehingga tercetaklah para generasi Islam yang beriman, berilmu dan berakhlaqul kariimah, sehingga bisa menjadi generasi-generasi terbaik seperti generasi para sahabat Nabi yang Shalih dan Shalihah…aamiin (raf/Ummu Mujahid)