KEGIGIHAN SEORANG MUJAHID PULAU TOMIA DEMI SEKOLAHKAN ANAK DI PPUI KHILAFATUL MUSLIMIN

oleh -440 dilihat

Taliwang, 13 Dzulqo’dah 1441 Hijrah (04/07/20), “Minggu ini kami akan mempersiapkan keberangkatan, mulai dari surat keterangan bebas covid (07/06/20)”, Kami via penerbangan dari Kendari ke Lombok!!!, aman Ustadz??? (13/06/20). Akhirnya ke Bima aja… ke Lombok habis..!. (26/06/20).

Demikian gambaran planning dan rute perjalanan yang disampaikan seorang guru sekolah dari gugusan kepulauan yang merupakan destinasi wisata bawah laut internasional, Kabupaten Wakatobi (Wangi-wangi, Kaladupa, Tomia, Binongko) di Provinsi Sulawesi Tenggara. Namanya, La Ode Yudi Rizal yang saat ini sedang mengantarkan putranya, Aqli untuk menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah (PPUI), Unit UBA Mapin, Sumbawa.

Berbagai rencana dan perubahan berdasarkan situasi dan kondisi yang terus berubah, terus beliau komunikasikan, hingga dalam pesan beliau ada lampiran tiket pesawat dengan jadwal penerbangan tanggal 4 Juli 2020, berangkat dari Kendari ke Makassar dan dari Makassar ke Bima. Tak hanya itu, sehari sebelumnya (03/07/20) beliau mengirimkam pesan dan gambar di WA group tentang perjalanan penyeberangan beliau bersama anak dari Pulau Tomia ke Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara, baru beliau terbang dengan rute Kendari, Makassar, Bima, di Bima disambut warga Khilafatul Muslimin dan naik bis malam menuju Mapin, Sumbawa.

Tentu ini bukan perjalanan pendek, singkat dan sederhana, melainkan jauh dan melelahkan dimana hampir semua moda transportasi digunakan, laut, darat dan udara dengan biaya yang tidak sedikit. Semua demi menyerahkan anak untuk dididik pada sekolah Islam berbasis Khilafah, PPUI.

Rencananya, Aqli putra kesayangannya akan dimasukkan di PPUI Mapin setelah proses pendaftaran online dan komunikasi intens dengan pihak PPUI sebelumnya.

Saat tulisan ini dibuat, Pak Yudi sedang melakukan perjalanan dengan bis malam menuju Mapin dan sahabat di Mapin pun sudah menyatakan siap menyambut kehadirannya di pos ribath. Masya Allah, tabarakallaah pak guru, malu kami menyaksikan semangatmu.

Ustadz Ahmad Muhammad Sholeh