MENYONGSONG KEBANGKITAN ISLAM

oleh -133 views
Kebangkitan Islam
Kebangkitan Islam

Kebangkitan dalam bahasa Arab, disebut Ash-Shahwah diambil dari kata Ash-Shahwu, artinya sirnanya kabut. Yaumun Shahwun wa Samâun Shahwun (hari cerah dan langit cerah) Juga seperti kata orang Arab: Shahhatis Samâu (langit cerah), apabila bersih tanpa awan. Ash-Shahwu bisa juga berarti irtifâ’ an-Nahâr (tengah hari) [Sumber: Al-Mu’jam al-Wasîth, materi Shad Ha’ Waw: hal. 528]. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa; ‘kebangkitan’ yang berasal dari kata ‘bangkit’ berarti; bangun, berdiri, hidup kembali dan lain-lain. Sedangkan kata ‘kebangkitan’ sendiri memiliki makna; kebangunan (menjadi sadar) atau perihal bangkit dari mati. [KBBI, edisi Maret 2012 Hal. 109, Pustaka Phoenix, Jakarta]. Sehingga, jika ‘kebangkitan’ disandarkan kepada ummat Islam (Kebangkitan Islam); maka didapati pengertian; sebuah kejadian kembali sadar-nya, atau kembalinya kesadaran, keterjagaan dan kembalinya umat Islam kepada kebenaran hakiki sebagaimana yang dikehendaki oleh Al Quran dan Sunnah.

Kebangkitan Islam saat ini adalah fenomena yang terus menjadi pembicaraan di berbagai tempat, memberi warna cerah bagi kehidupan jutaan kaum Muslimin. Kajian-kajian Islam, daurah-daurah berkala marak diselenggarakan, seminar dan konferensi Islam juga berkali-kali diadakan, baik tingkat nasional maupun internasional. Pakaian syar’i sudah pula menjadi pemandangan umum di masyarakat, pondok-pondok pesantren kembali digandrungi orang tua untuk pendidikan anak mereka, sekolah-sekolah Islam atau yang berlabel Islam juga beroperasi dimana-mana, berbanding lurus dengan semangat para orang tua menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah-sekolah tersebut. Selain itu, bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an dipelajari oleh banyak kaum Muslimin dengan penuh semangat, tujuan mereka agar bisa memahami Islam secara mendasar. Di era kebangkitan ini pula bermunculan media-media masa Islam dan tokoh-tokoh Islam yang tampil percaya diri membela Islam dengan sarana dan kecerdasan yang mereka miliki sebagai anugerah dari Allah subhaanahu wa ta’ala. Bahkan, tak ketinggalan mereka yang menyibukkan diri dengan ekonomi Islam, membangun ‘perbankan Islam’, sebagaimana mereka yang aktif dalam politik praktis yang juga mendirikan partai politik atas nama Islam, sehingga riuh rendahlah kaum Muslimin dengan hal yang berlabelkan Islam atau bernuansa Islam, sebagai bagian dari ‘Kebangkitan Islam”. Sungguh ini adalah anugerah besar dari Allah subhaanahu wa ta’ala bagi kaum Muslimin, setelah kabut duka lara menutupi mereka pasca runtuhnya tonggak kepemimpinan Khilafah Utsmaniyyah pada tahun 1924, dimana Islam berada pada persimpangan jalan yang membuat kehidupan kaum Muslimin tak tentu arah, bahkan cenderung mengikuti begitu saja ke mana arah angin bertiup.

Disisi lain berbagai perkembangan tersebut telah membuat kecut hati Yahudi dan Nashrani, membuat putus asa musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kaum Muslimin dari usaha mereka menghalangi ummat manusia kembali kepada Islam. Kebangkitan Islam pun telah menggetarkan sendi-sendi sistem thaghut, yang menjadikan isyu ini sebagai bagian dari pertimbangan dalam melahirkan undang-undangan baru atau merevisi undang-undang lama agar sesuai dengan perkembangan yang terjadi, sehingga menimbulkan hiruk pikuk yang sedemikian rupa sebagai ujian tambahan bagi kaum Muslimin.

Sejatinya, kebangkitan Islam bukanlah hal baru sebagaimana juga kemunduran dan keruntuhan peradabannya. Semua adalah sunnatullah yang terus terjadi dalam setiap kurun waktu yang dikehendaki Allah subhaanahu wa ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran [3]:140)

BACA JUGA ARTIKEL INI : MENGAPA HARUS BER-ISLAM, MENGAPA HARUS BERJAMA’AH DAN MENGAPA HARUS BER-KHILAFAH?

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa; maksud ayat tersebut sebagai berikut; “Suatu saat Kami pergilirkan kemenangan itu bagi musuh-musuh kalian, meskipun kesudahan yang baik tetap berada pada kalian, karena dalam hal tersebut terdapat hikmah, yakni supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman [dengan orang-orang kafr].

Yang terpenting dari kebangkitan ini adalah menjaga keseimbangan antara semangat kaum Muslimin dalam gerak kembalinya kepada Islam dengan ketaatan mereka kepada rambu-rambu Islam, sehingga semangat mereka tetap terarah dan tetap produktif dalam membangun peradaban Islam. Maka, secara mendasar ada dua prinsip pokok yang harus diperhatikan dalam kebangkitan Islam, yakni prinsip yang sudah dipegang oleh para nabi dari sejak zaman Bani Israil, yakni:

Prinsip pertama: Ani’buduLlaaha Wajtanibuth Thoghuut [sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut]” sebagaimana firman Allah SWT: 

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu” (QS. A Nahl [16]:36).

Rambu ini harus dijaga secara ketat agar gerak langkah kaum Muslimin dalam membangun kembali peradaban Islam dengan segala potensi yang mereka miliki tidak dimanfaatkan serta ditunggangi oleh kepentingan diluar Islam. Solusi Islam dalam hal ini adalah dengan penanaman aqidah yang suci dari syirik dan pengajaran ilmu secara intensif dengan materi yang kompherensif terkait keparipurnaan ajaran Islam, sehingga ummat Islam memiliki dasar pijakan dalam kejelasan batasan (furqon) antara haq dan bathil, antara syirik dengan tauhid, antara sunnah dengan bid’ah, antara ilmu dengan retorika semata dan antara thoghut yang dia harus ber-barro’ padanya dan dengan ulil amri tempat dia harus berwala’  padanya. Jangan sampai batasan ini menjadi kabur dan abu-abu, karena semangat Islam dan seluruh gerak langkah serta pengorbanan mereka bisa sia-sia, baik secara nilai maupun hasil akhir yang mereka capai.

Prinsip kedua: “An ‘aqiimud Diin wa laa tatafarraqu fiihi [Tegakkanlah agama dan janganlah bercerai berai atasnya]” sebagaimana ayat Allah subhaanahu wa ta’ala:

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy Syuuroo [42]: 13).

Kewajiban menegakkan agama dan larangan berpecah didalamnya adalah kewajiban yang tak dapat dihindari, karena penegakkan agama adalah cara ummat menjaga eksistensi keyakinan mereka, sedangkan perpecahan adalah musuhnya, sehingga keduanya tak dapat dipisahkan. Jika berpecah belah ummat Islam tak akan mungkin berhasil dalam menyongsong kebangkitan mereka, apalagi berharap bisa menang atas musuh-musuhnya.

Maka, kedua prinsip dasar diatas sesuai dengan sunnah dapat ditegakkan secara keseluruhan dengan mewujudkan kepemimpinan Islam yang satu ditengah kaum Muslimin. Terkait hal ini, sejarah Islam telah membuktikan pentingnya masalah kepemimpinan ini setelah wafatnya baginda Rasul shalallaahu ‘alayhi wa sallam. Para sahabat telah memberi penekanan dan keutamaan dalam melantik pengganti beliau dalam memimpin ummat Islam. Ummat Islam tidak seharusnya dibiarkan tanpa pemimpin. Khalifah Umar bin Khathab radiyallaahu ‘anhu pernah berkata, “Tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa taat”.

Pentingnya pemimpin dan kepemimpinan ini perlu diketahui oleh seluruh umat Islam terutama di negeri yang mayoritas warganya beragama Islam ini. Allah subhaanahu wa ta’ala telah memberi tahu kepada manusia, tentang pentingnya kepemimpinan dalam islam, sebagaimana dalam Al-Quran kita menemukan banyak ayat yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan.

“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (QS. Al Baqarah [2]: 30)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa khalifah (pemimpin) adalah pemegang mandat Allah subhaanahu wa ta’ala untuk mengemban amanah dan kepemimpinana langit di muka bumi. Meskipun komunitas malaikat pernah menyampaikan nota sanggahan terhadap kekhalifahan manusia dimuka bumi, tetapi ketentuan Allah subhaanahu wa ta’ala tetaplah tak boleh dirubah dan digantikan dengan cara lain setelah Allah subhaanahu wa ta’ala menentukannya untuk kita.

Selain ayat tersebut terdapat pula ayat 59 dari surat An Nisaa’ yang memerintahkan kita untuk mentaati Ulil amri (pemimpin) diantara kita:

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah SWT dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa [4]: 59).

Terakhir, bahwa untuk menyemaikan prinsip-prinsip diatas, aktifitas tarbiyyah (pendidikan) adalah jalan luhur bagi terwujudnya cita-cita kebangkitan. Karena dengan aktifitas pendidikanlah ide besar kebangkitan, persatuan, loyalitas dan dedikasi ummat bisa terbangun, demikian juga dengan generasi pelanjut kita. Kita butuh sistem pendidikan yang integral untuk anak-anak kita, yang mengacu langsung pada minhaj an Nubuwwah dan bernaung dibawah sistem kepemimpinan Islam. Kita sebagai orang tua Muslim wajib mengikut sertakan diri dalam pembinaan aqidah dan akhlak guna terwujudnya tradisi ilmiah dan moral dalam jamaah, sedangkan anak-anak kita, kita sekolahkan mereka dalam sekolah memenuhi syarat bagi lahirnya generasi Robbani sebagai penerus kita untuk menjadi lebih baik. Insya Allah!

BACA JUGA ARTIKEL INI : DUNIA SEDANG MENUJU KEPADA KHILAFAH, JANGAN SAMPAI MUSLIM SENDIRI ABAI

Rasa haru dan dan optimis memenuhi rongga dada ini, tatkala mendengar kisah-kisah inspiratif dari para santri Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah (PPUI) Sumbawa Barat setiap mereka kembali dari liburan semester. Diantara mereka ada yang menceritakan kegiatannya, adzan dan sholat berjama’ah di masjid setiap lima waktu, disaat anak-anak di kampong asalnya sibuk dengan rutinitas bermain, sehingga hal tersebut mengundang respon positif masyarakat dan melahirkan keinginan para orang tua dari luar jama’ah untuk menyekolahkan putra-putri juga mereka ke PPUI. Diantara kisah lainnya, ada yang dites hafalan oleh para guru ngaji di kampungnya dan mereka bisa mempersaksikan hafalannya, ada pula yang terlibat diskusi dengan imam masjid yang dengan keilmuan mereka seolah memperpendek jarak usia anak-anak belasan tahun ini dengan para imam tersebut. Orang tua manakah yang tidak bahagia menyaksikan ini semua? Inilah harta termahal kita dan modal kebangkitan yang suaranya terus terngiang di telinga ini dan terus meresap laksana air ke dalam keringnya dunia dari Islam dan dari rusaknya sistem hidup buatan manusia. Wallahu a’lam! (AMS).