,

BUKAN SEBUAH PLEDOI (MELIHAT PENDIDIKAN KITA DARI SUDUT PANDANG YANG LEBIH BIJAK)

oleh

Kita sudah tidak asing dengan perintah Rasullah untuk memerintahkan anak-anak kita agar mulai melaksanakan Shalat saat mereka mulai berumur 7 tahun. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)


TAKHRIJ HADITS: Hadits ini hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197; Dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, II/406, no. 505 dengan sanad hasan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Hadits ini dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmû’ dan Riyâdhush Shâlihîn. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sanadnya hasan shahih.” Lihat Shahîh Sunan Abi Dawud, II/401-402, no. 509.

Jika kita melihat jenjang pendidikan yang digariskan oleh Pusat Kekhalifahan Islam, untuk yang ikhwan usia minimal 6 tahun dan maksimal 7 tahun sudah boleh mulai mengenyam pendidikan Dasar (UBA) sedangkan untuk akhwat minimal 7 tahun dan maksimal 8 tahun. Maka, kita akan bisa menarik benang merah bahwa, 0 tahun hingga 7 sampai 8 tahun pertama, pendidikan penuh berada di tangan wali masing-masing baik itu orang tua, paman, bibi, lingkungan sekitar yang memberi corak kepada sifat dan karakter sang anak yang kemudian menjadi calon peserta didik dari UBA hingga Jami’ah ABAT.

Sehebat apapun metode tanam dan perawatan untuk sebuah tanaman, jika bibitnya bukan bibit unggul atau minimal bibit yang tidak bermasalah maka akan sedikit bahkan sangat sulit diharapkan tumbuh kembang yang baik atau minimal tumbuh sesuai dengan harapan. Bukan berarti ini adalah sebuah justifikasi dan mengeyampingkan fungsi dari sebuah lembaga pendidikan namun kita sedang berbicara dalam konteks penyiapan tahap awal karakter dan sifat dari personal yang dilahirkan dari didikan lingkungan masing-masing yang kemudian hendak kita didik dari jenjang UBA hingga Jami’ah ABAT.

Pendidikan pada umur 0 hingga 7 atau 8 tahun sangat mempengaruhi dalam pembentukan karakter dan sifat seorang anak/peserta didik. Mungkin, memang anak-anak kita tidak diajari oleh kita secara verbal di rumah dan lingkungan masing-masing, namun anak-anak dari umur 0 hingga 7 atau 8 tahun adalah alat perekam yang sangat canggih, mereka merekam dan mencontoh apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan dan yang paling berpeluang dalam memberikan corak dan warna pada rentan usia itu adalah lingkungan terdekat dimana dia hidup di dalamnya, di situ ada orang tuanya, pamannya, bibinya, keluarganya dan lain-lain yang melakukan interaksi secara langsung dan intens dengan anak-anak kita ini.

Tuntas kita dengan masa persiapan dari 0 hingga 7 atau 8 tahun, dimulailah pendidikan itu secara formal dari jenjang pertama yakni tingkat UBA. Tingkat UBA dijalani selama 3 tahun. Di sinilah berkumpul anak-anak dari segala penjuru, dari berbagai macam latar belakang dan hasil metode pendidikan keluarga dan lingkungan masing-masing. Ada yang membawa karakter ini dan itu dengan segala macam dan ragamnya. Anak-anak kita melakukan interaksi di antara mereka selama lebih kurang tiga tahun, mereka saling mewarnai, saling mengisi, saling memberi informasi dan lain-lain interaksi sosial yang wajar. Nah, memang sudah menjadi tugas para pendidik dimana menemukan formula atau trik untuk memobilisasi secara masif berbagai macam karakter dan watak dari peserta didik ini agar diarahkan ke karakter dan watak yang diharapkan oleh kita bersama sebagaimana yang tertuang dalam Visi dan Misi pendidikan. Proses ini berjalan dan dimulai 3 tahun di tingkat UBA, berlanjut 2 tahun di tingkat UBK, 2 tahun tingkat ABA dan 2 tahun terakhir di tingkat Jami’ah ABAT.

Kholifah pernah berpesan kepada para pendidik di semua jenjang pendidikan yang ada di khilafatulmuslimin ini dari tingkat UBA hingga Jami’ah ABAT agar tidak mendidik dengan cara yang tidak rahmat, mendidik “ala penjajah”, menggunakan kekerasan dari kekerasan fisik hingga kekerasan verbal. Semua metode pendidikan menggunakan cara rahmat dan kasih sayang dan ini menjadi PR terbesar bagi personal yang terjun di dalam dunia pendidikan. Kita seakan terlupakan, ada pesan halus yang terisat dari pesan kholifah tersebut, jika ditafsirkan secara lepas, seakan-akan berbunyi, “wahai para wali santri (bapak/ibu/paman/bibi dll), sebelum menyerahkan ke pendidikan UBA hingga Jami’ah ABAT, didiklah mereka dengan pendidikan yang rahmat dan kasih sayang, pertontonkan mereka hal yang patut dan berikan lingkungan yang mendukung untuk tumbuh kembang watak dan karakter yang baik yang dimana menjadi modal besar dalam memulai semua tahapan pendidikan hingga tuntas”. Ini hanya sebuah penafsiran, bisa benar bisa juga salah namun itulah kenyataan yang ditemukan di lapangan.

Terkadang santri atau mahasantri mengalami fenomena “shock methode” dimana santri mulai dididik sesuai dengan peraturan dan standar pondok pesantren. Jika sang santri sudah terbiasa sebelumnya dengan didikan lingkungannya disiplin, taat, rajin, dan hal-hal baik lainnya, maka insyaallah akan sangat mudah bagi para pendidik untuk melanjutkan misi pendidikan pada diri santri dan mudah bagi santri untuk menerima didikan dari lembaga pendidikan yang ada karena dari awal sudah dibiasakan untuk menerima hal-hal tersebut. Namun jika si santri terbentuk dari lingkungan yang maaf jika dikatakan, kurang terbiasa dengan didikan disiplin, kasih sayang yang kurang, terbiasa bebas dan hal-hal yang kurang baik, maka di sana akan dirasakan sedikit momen resistensi dari si santri dalam menerima lingkungan baru yang sarat dengan tata peraturan, didikan disiplin dan lain-lain. Pun, para tenaga pendidik akan memerlukan tenaga ekstra, ruang dan waktu yang cukup untuk “menormalkan” kondisi orientasi dari si santri tersebut. Tingkat resitensi dari santri dalam menerima pendidikan dengan metode yang baru bagi mereka berbeda-beda, tergantung dari bagaimana kemampuan mereka beradaptasi dan usaha untuk menerima dan mneysuaikan diri. Ada yang bisa langsung menyesuaikan diri tanpa memerlukan waktu yang lama, ada yang memerlukan waktu yang sedikit lebih lama bahkan ada yang tidak mampu menyesuaikan diri hingga memilih kembali ke pangkuan keluarga masing-masing atau mengundurkan diri.

Karena anak didik kita ini ada jeda dimana mereka menikmati masa liburan. Maka sangat diharapkan pengawasan dan pendidikan dilanjutkan oleh lingkungan dan wali masing-masing. Jangan sampai masa liburan diterjemahkan sebagai “masa bebas dari pengawasan”, bebas main Face Book, bebas YouTube, bebas menonton TV, bebas berselancar di Dunia Maya hingga hafalan yang tadinya 15 Juz tersisa 13 Juz, hilang 2 Juz karena tidak dimurojaah atau hilang karena sibuk dengan Medsos atau melampiaskan kebebasan masa liburan setelah sebelumnya merasa terkungkung oleh tata peraturan pondok. Seyogyanya sistem pendidikan dan pengawasan dari masing-masing wali dan keluarga minimal bisa mendukung dan mengawal hasil yang dibawa dari lingkungan Pondok Pesantren.

Seirama dengan itu, seyogyanya, pun sistem pendidikan dan personal pendidikan yang berkiprah dari tingkat UBA hingga Jami’ah ABAT berada pada tingakt ideal atau setidaknya sedang berjalan menuju idealisme yang diharapkan bersama (sarana dan parasaran yang mendukung dan tenaga pendidik yang mumpuni dalam bidang ilmu masing-masing dan menjadi uswah dan teladan dalam adab dan akhlak). Dimana sistem pendidikan dijalankan sesuai dengan arahan dan aturan dari Pusat. Modal idealisme para wali santri yang sudah ditanamkan kepada peserta didik dari usia 0 hingga 7 atau 8 tahun bisa disambut dengan suka cita, dididik dengan segala ikhtiar dan kemampuan dengan tidak mengenyampingkan tawakal kepada Allah sebagai Dzat tempat kembalinya segala urusan. Jika kita runut maka kita akan menemukan sebuah jalur pendidikan yang berkesinambungan dari pendidikan usia 0 hingga 7 atau 8 tahun di keluarga dan wali masing-masing, kemudian dilanjutkan 3 tahun di tingkat UBA, 2 tahun di tingkat UBK, 2 tahun tingkat ABA dan 2 tahun terakhir di tingkat Jami’ah ABAT. Jika ditotal anak didik kita akan lulus sebagai seorang Fresh Graduate di usia yang sangat produktif yakni sekitar usia 15 atau 17 tahun.

Maka jika kita melihat output pendidikan kita yakni lulusan terakhir dari tingkat Jami’ah ABAT yang memuaskan atau minimal tidak mengecewakan, maka itu adalah keberhasilan kita bersama, maka apresiasi untuk semua pihak yang telah mendukung dan mengayomi proses pendidikan bagi si santri, yakni:

  1. Apresiasi dan ucapan terimakasih kepada wali dan lingkungan masing-masing yang telah rela menyerahkan anaknya untuk dididik di lembaga pendidikan khilafatulmuslimin yang sebelumnya dibiasakan dengan didikan yang indah nan bagus sehingga si santri mudah untuk melanjutkan tahap pendidikan berikutnya kemudian melanjutkan pendidikan dan pengawasan di masa-masa liburan si santri
  2. Apresiasi dan ucapan terimakasih kepada para tenaga pendidik di UBA yang telah sabar mendidik selama 3 tahun, apresiasi dan ucapan terimakasih kepada kepada struktural setempat yang telah mendukung dan memberikan fasilitas, sarana dan prasarana sehingga pendidikan berjalan kondusif, dan berikutnya apresiasi dan ucapan terimakasih kepada si santri yang telah mengambil dan mempraktekkan ilmu dan akhlak dalam masa pendidikan di UBA
  3. Apresiasi dan ucapan terimakasih kepada para tenaga pendidik di UBK dan ABA yang telah sabar mendidik selama 4 tahun, apresiasi dan ucapan terimakasih kepada kepada struktural setempat yang telah mendukung dan memberikan fasilitas, sarana dan prasarana sehingga pendidikan berjalan kondusif, dan berikutnya apresiasi dan ucapan terimakasih kepada si santri yang telah mengambil dan mempraktekkan ilmu dan akhlak dalam masa pendidikan di UBK dan ABA
  4. Apresiasi dan ucapan terimakasih kepada para tenaga pendidik di Jamia’ah ABAT yang telah sabar mendidik selama 2 tahun, apresiasi dan ucapan terimakasih kepada kepada struktural setempat yang telah mendukung dan memberikan fasilitas, sarana dan prasarana sehingga pendidikan berjalan kondusif, dan berikutnya apresiasi dan ucapan terimakasih kepada si mahasantri yang telah mengambil dan mempraktekkan ilmu dan akhlak dalam masa pendidikan di Jamia’ah ABAT
  5. Apresiasi dan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung proses pendidikan hingga menghasilkan lulusan yang bisa diandalkan dalam membawa misi menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini

Kemudian, jika kita melihat output pendidikan kita yakni lulusan terakhir dari tingkat Jami’ah ABAT yang kurang memuaskan atau mengecewakan, maka itu adalah kegagalan kita bersama dan itu menjadi koreksi untuk kita semua:

  1. Koreksi dan evaluasi kepada wali dan lingkungan masing-masing yang sebelumnya menjadi tempat pembentukkan karakter dan sifat pada tahap awal. Apa nilai pendidikan dan karakter yang sudah kita tanamkan dan pertontonkan kepada anak kita masing-masing?
  2. Koreksi dan evaluasi kepada para tenaga pendidik di UBA, mungkin ada metode pendidikan yang perlu dievaluasi baik teori maupun parakteknya atau personal tenaga pedidik yang belum maksimal dalam bidang keilmuan dan belum maksimal menjadi contoh yang baik bagi peserta didik. Kemudian koreksi dan evaluasi kepada struktural setempat yang mungkin belum maksimal dalam memberikan dukungan berupa fasilitas, sarana dan prasarana sehingga pendidikan berjalan kurang kondusif. Dan berikutnya Koreksi dan evaluasi kepada si santri mengenai keseriusan dalam menuntut ilmu dan kesungguhan dalam praktek
  3. Koreksi dan evaluasi kepada para tenaga pendidik di UBK dan ABA, mungkin ada metode pendidikan yang perlu dievaluasi baik teori maupun parakteknya atau personal tenaga pedidik yang belum maksimal dalam bidang keilmuan dan belum maksimal menjadi contoh yang baik bagi peserta didik. Kemudian koreksi dan evaluasi kepada struktural setempat yang mungkin belum maksimal dalam memberikan dukungan berupa fasilitas, sarana dan prasarana sehingga pendidikan berjalan kurang kondusif. Dan berikutnya Koreksi dan evaluasi kepada si santri mengenai keseriusan dalam menuntut ilmu dan kesungguhan dalam praktek
  4. Koreksi dan evaluasi kepada para tenaga pendidik di Jami’ah ABAT, mungkin ada metode pendidikan yang perlu dievaluasi baik teori maupun parakteknya atau personal tenaga pedidik yang belum maksimal dalam bidang keilmuan dan belum maksimal menjadi contoh yang baik bagi peserta didik. Kemudian koreksi dan evaluasi kepada struktural setempat yang mungkin belum maksimal dalam memberikan dukungan berupa fasilitas, sarana dan prasarana sehingga pendidikan berjalan kurang kondusif. Dan berikutnya Koreksi dan evaluasi kepada si santri mengenai keseriusan dalam menuntut ilmu dan kesungguhan dalam praktek
  5. Koreksi dan evaluasi kepada semua pihak apakah kita telah memberikan dukungan dalam proses pendidikan hingga menghasilkan lulusan yang bisa diandalkan dalam membawa misi menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini

Intinya adalah, keberhasilan output pendidikan dari lembaga pendidikan kita adalah keberhasilan kita bersama dan mudaha-mudahan bisa dipertahankan dan ditingkatkan di kemudian hari bukan malah menjadi ajang unjuk dada dan merasa paling berjasa karena semua kebaikan bersumber dari Allah. Namun, jika itu dinilai sebagai sebuah kegagalan atau belum memuaskan, maka menjadi evaluasi dan koreksi bagi kita semua bukan menjadi menjadi ajang saling tunjuk dan saling menyalahkan antara satu sama lain. Sewajarnya kita mengoreksi dan evaluasi masing-masing, jangan-jangan ada andil dari kita sadar atau tidak sadar yang menyebabkan output dari pendidikan dinilai gagal atau belum maksimal. Dengan begitu, kita bisa memiliki sudut pandang yang lebih bijak dalam melihat fenomena pendidikan kita ini. Ini bukan sebuah pledoi, melainkan mencoba mengajak diri dan kita semua bagaimana sewajarnya menyikapi dan melihat kenyataan yagn ada, sekian, wassalam.

Oleh Ustadz Auliaurrahman