BAIAT DARI SISI AQIDAH DAN FIQIH

oleh -397 dilihat

Alloh-lah Yang menciptakan dan memerintahkan manusia untuk beribadah seraya menjauhi thaghut, dan Alloh SWT tidak menelantarkan mereka dalam kebingungan memahami caranya beribadah dengan benar. Maka oleh karena itu Alloh Yang Maha Penyayang mengutus seorang utusan (rasul) untuk semesta alam yang ber-akhlaq mulia, berbudi pekerti Al Qur’an, beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW. Alloh SWT berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ 

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS. An Nahl [16] : 36)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiya [21] : 107)

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qalam [68] : 4)

Kemudian ketika ditanyakan oleh para sahabat kepada istri nabi ‘Aisyah RA mengenai akhlak Rasululloh SAW, Ia pun menjawab :

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam adalah Al Qur’an” (HR. Muslim)

Alloh SWT telah menjadikan Rasululloh SAW bagi setiap pribadi yang senantiasa mengharapkan Alloh SWT dan banyak mengingat-Nya sebagai Tauladan yang baik, model ideal dalam mengamalkan kesempurnaan Islam secara utuh, pola hidup yang tepat dalam menggapai ridho Allohu Ta’ala, menjadi gambaran cara hidup yang mendatangkan rahmat dan ampunan, keselamatan dan kesejahteraan lahir dan bathin, kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Alloh SWT berfirman :  

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Sesungguhnya eksistensi manusia di dunia adalah sebagai ‘abdulloh dan khalifatulloh fil ardh yang memiliki kewajiban menunaikan segala hak; hak khaliq dan hak makhluk, melaksanakan Islam dalam ruang lingkup pribadi dan bersama. Setiap pribadi muslim menjadi satu kesatuan dari masyarakat Islam karenanya diperlukan contoh bagi manusia sebagai makhluk sosial, sosok generasi yang memberikan pemahaman yang utuh dan penjelasan secara nyata bagaimana cara mempraktekan Islam dalam kehidupan bersama secara benar.

Generasi terbaik yang Alloh tampilkan adalah mereka para muhajirin dan Anshar serta orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik, generasi umat ini yang Alloh meridhoinya dan mereka pun ridho kepada-Nya; mereka yang pertama – tama masuk Islam dan memperjuangkannya, mereka senantiasa setia bersama dan membela Rasululloh SAW, rela berkorban harta dan jiwa, melalui tahapan demi tahapan perjuangan dimulai dari dakwah yang dirahasiakan sampai disiarkan, dari menahan diri sampai melawan tanpa lari, dari tak dikenal sampai terkenal universal dan dari ketidakberdayaan sampai dengan kejayaan. Mereka itulah yang mendapatkan sebesar – besar kemenangan dan yang telah dijamin Syurga serta kekal di dalamnya. Alloh SWT berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah [09] : 100)

Mereka diantaranya adalah khulafa’ur rasyidun (para khalifah yang mendapatkan petunjuk) yang kita diperintahkan oleh Rasululloh SAW agar menapaki jalan hidupnya. Rasululloh SAW  bersabda :

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمُهْدِيَيْنِ مِنْ بَعْدِي

Wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk sepeninggalku. (HR. Abu Dawud).

Kemudian Rasululloh SAW menegaskan sebaik – baik generasi yang pantas menjadi ikutan umat ini, beliau bersabda :

خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik – baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya dan kemudian generasi berikutnya. (HR. Bukhari)

Rasululloh SAW, para sahabat radhiyallohu ‘anhum dan mereka yang setia mengikutinya dengan baik, mereka itulah yang telah Alloh ridhoi karena melakukan janji setia (bai’at) untuk membuktikan kesempurnaan niat dan kebulatan tekadnya dalam melaksanakan Islam secara kaffah dan memperjuangkannya, karenanya Alloh berikan ganjaran besar, ketenangan, dekatnya kemenangan, mendapatkan permohonan ampun dari Rasululloh SAW serta memperoleh maghfirah  dan rahmat Alloh Ta’ala. Alloh SWT berfirman :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al Fath [48] : 18)

Hakikat bai’at adalah suka rela menukarkan dan menyerahkan apa yang menjadi haknya atau yang dimilikinya dengan apa yang dibutuhkan olehnya yang ada pada pihak lainnya, disertai dengan ikrar/ ucapan seraya berjabat tangan dengan tangan kanannya sebagai bentuk perjanjian untuk menguatkan kebulatan tekad dan meneguhkan niatnya. Keberuntungan bagi yang menepatinya dan kerugian bagi yang melanggarnya.

Bai’at secara mutlak berarti transaksi jual beli dan janji setia untuk taat kepada pemimpin (amir/ khalifah), adapun pengertiannya menurut syara’ adalah :

Perjanjian untuk mendengar dan taat kepada seorang amir selama tidak dalam kemaksiatan, baik dalam keadaan senang maupun terpaksa, dalam keadaan sempit ataupun lapang. Serta menyerahkan kepadanya segala urusan dirinya dan urusan kaum muslimin dan tidak menentangnya sedikitpun“.

Bai’at dilakukan hanya kepada Rasululloh SAW di masa hidupnya dan setelah wafatnya hanya kepada ulil amri (khalifah) tidak kepada selain mereka, inilah yang dikehendaki oleh syari’at. Bai’at pula hakikatnya janji setia kepada Alloh SWT sebagaimana firman Alloh SWT :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Dan juga sabda Rasululloh SAW :

مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِى فَقَدْ أَطَاعَنِى وَمَنْ عَصَى أَمِيرِى فَقَدْ عَصَانِى

Barang siapa yang taat padaku maka dia telah taat pada Alloh, dan barang siapa yang durhaka padaku maka dia telah durhaka pada Alloh, barang siapa yang taat pada amirku maka dia telah yang taat padaku dan barang siapa yang durhaka pada amirku maka dia telah durhaka padaku. (HR. Bukhari).

Tidak diragukan lagi bahwa bai’at sangatlah disyari’atkan kepada kaum muslimin, banyak sekali ayat yang menerangkan tentang bai’at terlebih hadits – hadits nabi, bai’at ini telah dipraktekan oleh Rasululloh SAW, para sahabatnya dan mereka yang telah mengikutinya dengan baik.

Muhammad Rasululloh SAW, beliaulahyang telah menerima bai’at para sahabatnya dan menerima perintah dari Alloh SWT untuk menguji iman para wanita yang hendak berhijrah ke Madinah agar berbai’at,  Alloh SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَن لَّا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Mumtahanah [60] : 10)

Rasululloh SAW memberikan pernyataan ancaman bagi yang tidak berbai’at, beliau bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barang siapa yang mati, sedangkan di pundaknya tidak terdapat bai’at, maka ia telah mati seperti kematian jahiliyyah (HR. Muslim)

Beliaupun mengancam orang yang melepas bai’atnya, dari Abdullah bin Umar RA beliau bersabda :

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ

Barangsiapa melepas tangan dari taat maka ia akan bertemu dengan Alloh pada hari kiamat dengan tidak punya alasan. (HR. Muslim)

Para sahabat nabi radhiyallohu ‘anhum telah berbai’at/ berjanji setia kepada Alloh di hadapan nabinya Shallallohu ‘alaihi wa sallam sebagai ulil amri/ pemimpin mereka semasa hidup beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Umar RA berkata :

كُنَّا نُبَايِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ يَقُولُ لَنَا فِيمَا اسْتَطَعْتَ

Dahulu kami membai’at Rasululloh SAW untuk mendengar dan taat kepada beliau, kemudian beliau katakan kepada kami di dalam perkara yang kamu mampu.(HR. Muslim)

Kemudian pada saat perang Khandaq mereka para sahabat muhajirin dan anshar menjawab syair Rasululloh SAW dengan ucapan :

نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا عَلَى الْجِهَادِ مَا بَقِينَا أَبَدَا

“Kita adalah yang berbai’at kepada Muhammad untuk jihad sepanjang hayat.”

Sudah menjadi sunnah pada masa itu bai’at dilakukan oleh setiap individu muslim, oleh laki – laki dan perempuan, muhajirin dan anshar, dilakukan sendiri dan bersama sampai pernah terjadi 1400 orang peserta dalam Bai’atur Ridhwan. Karena sejatinya Bai’at adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan seorang muslim, pribadi beriman yang peduli terhadap kemurnian tauhidnya, kekuatan aqidahnya, kebenaran ibadahnya, kehormatan saudaranya, peduli terhadap kemulian Islam dan penganutnya demi berharap keridhoan Rabbnya.

Sejak masa awal perjuangan Rasulullah SAW di Makkah sampai hijrah dan menetap di Madinah bai’at telah banyak dilakukan oleh kaum muslimin pada saat itu, banyak macam bai’at yang telah kita ketahui bersama dari kitab – kitab sirah yang mu’tabar diantaranya :

  1. Bai’at Aqabah pertama, terjadi pada tahun ke-12 nubuwwah yang diikuti oleh 12 orang peserta
  2. Bai’at Aqabah kedua, terjadi pada tahun ke-13 nubuwwah yang diikuti oleh 75 orang peserta (73 orang laki – laki dan 2 orang perempuan)
  3. Bai’at Ridhwan, terjadi pada tahun ke-6 hijriyah di Hudaibiyah yang diikuti oleh 1400 orang peserta
  4. Bai’at Mukminat
  5. Bai’at ‘Amal Islami  
  6. Bai’at Khalifah/ Khulafa’

Bai’at – bai’at diatas mengandung beragam materi dan substansi sesuai dengan kebutuhannya. Diantaranya adalah untuk :

  1. Tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun
  2. Tidak akan mencuri
  3. Tidak akan berzina
  4. Tidak akan membunuh anak-anaknya
  5. Tidak akan berbuat dusta yang diada-adakan antara tangan dan kakinya
  6. Tidak akan durhaka dalam urusan yang baik
  7. Tidak melakukan ratapan
  8. Tidak menggulingkan kekuasaan dari orang yang berwenang terhadapnya
  9. Tidak khawatir dijalan Alloh terhadap celaan orang yang mencela
  10. Tidak lari dari peperangan
  11. Beribadah kepada Alloh
  12. Mendirikan shalat
  13. Membayar zakat
  14. Saling menasehati diantara muslim
  15. Berkata karena Alloh
  16. Beramar ma’ruf dan nahi munkar
  17. Mengatakan kebenaran dan keadilan dimana saja berada
  18. Meninggalkan orang musyrik
  19. Mendengar dan taat, baik ketika giat (semangat) maupun malas, ketika mudah dan sulit, pada yang disenangi dan dibenci
  20. Memberikan pertolongan, pembelaan dan penjagaan untuk nabi (pemimpin) sebagaimana untuk diri sendiri, istri – istri dan anak – anaknya
  21. Mengutamakan pemimpin atas diri mereka
  22. Berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit
  23. Berjihad sepanjang hayat
  24. Menyongsong kematian

Inilah fakta dan realita pelaksanaan ba’iat dalam kehidupan Islam yang tak terbantahkan, yang menguatkan keyakinan kita kaum muslimin dewasa ini bahwa bai’at adalah syari’at Islam, sedangkan setiap muslim wajib terikat oleh Syari’at Islam. Alloh SWT pun telah mengabadikannya dalam Al Qur’an :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (QS. Al Fath [48] : 10)

Pengaruh bai’at sangatlah besar terhadap aplikasi ketauhidan, aqidah dan syari’ah, dan sangatlah besar perannya terhadap peradaban Islam, ia berperan menguatkan kehendak setiap pribadi muslim untuk melaksanakan ibadah kepada Alloh Ta’ala, menjadi gerakan sadar bertauhid yang murni dalam masyarakat Islam, sebuah kepercayaan dan pembelaan untuk pemimpinnya serta jalinan harmonis antara rakyat dengan pemimpinnya sebagai wujud satu tubuh umat Islam.

Bai’at menjadi bagian dari konsep peradaban umat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, dengan itu misi para rasul diutus beribadah kepada Alloh dan menjauhi thaghut bisa terealisasi dengan benar, menjadi ikrar aplikasi Al Wala wal Baro’ (pembelaan dan permusuhan), realisasi kufrun bith thaghut wa Iiman billah (beriman kepada Alloh dan mengingkari thaghut), menjadi unsur penting bagi tercapainya maqashidusy syari’ah (tujuan pemberlakuan hukum Islam) yaitu terjaganya hak – hak asasi manusia, diantaranya : keberlangsungan hidup terlindungi, kesehatan akal dan jasmani terpelihara, agama terbentengi, keturunan dan kekerabatan terjaga, kehormatan dihargai, kepemilikan harta terjamin keamanannya.

Maka dari itu aplikasi Iman dan Islam secara sempurna semasa hidup nabi dan sepeninggalannya tidak terlepas dari pelaksanaan bai’at, para sahabat mempraktekannya kepada Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam selaku pemimpinnya untuk mendengar dan taat kapanpun dan dimanapun serta melakukan janji setia lainnya di hadapannya, yang demikian itu berlangsung sampai beliau shallallohu ‘alaihi wa sallam wafat.

Selanjutnya, setelah tiga hari dua malam dari wafatnya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam,  sebagian shahabat dari muhajirin dan anshar membai’at Abu Bakar Ash Shiddiq ra sebagai Khalifatur Rasul (pemimpin umat Islam pengganti Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam) di Tsaqifah Bani Sa’idah kemudian setelah itu disusul oleh kaum muslimin lainnya yang berbai’at kepadanya. Hal ini dinamakan Bai’atul Khalifah; pengangkatan seseorang yang dianggap kompeten dalam menjaga Dienul Islam dan mengatur dunia dengan Islam sebagai khalifah. Kemudian ketika setiapkali seorang khalifah meninggal pelaksanaan bai’at tersebut terus berlanjut sampai masa Kekhalifahan Utsmani di Turki pada tahun 1924 M, walaupun teknisnya berbeda – beda tergantung keadaannya.

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كَلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُون خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ        

Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh para nabi, setiapkali nabi meninggal digantilah dengan nabi lainnya. Ketahuilah tidak ada nabi setelahku, tetapi akan ada para khalifah dan banyak. (HR. Bukhari)  

Dengan perbuatan sahabat tersebut yang lebih mendahulukan pengangkatan khalifah sebagai pengganti kepemimpinnya daripada pemakamannya shallallohu ‘alaihi wa sallam, para ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin, salaf dan khalaf, sunni dan syi’i melakukan ijma’ (bersepakat) bahwa kaum muslimin haram mengalami kekosongan pemimpin melebihi tiga hari dua malam. Itu artinya kaum muslimin wajib melakukan bai’at khalifah sebelum tiga hari dua malam, jika tidak maka seluruh kaum muslimin bermakshiat (melakukan kedurhakaan kepada Alloh SWT dan Rasul-Nya), berdosa dan terancam neraka karena telah mengabaikan perintah Alloh dan Rasul-Nya untuk bersatu dan menjauhi perpecahan.

Alloh SWT berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, (QS. Ali ‘Imran [03] : 103)

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْجَمَاعَةَ رَحْمَةٌ ، وَالْفُرْقَةَ عَذَابٌ

Berjama’ah itu rahmat berpecah belah itu ‘adzab (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Hasan lighairih)

Sedangkan persatuan yang diwajibkan dapat diraih dan perpecahan yang diharamkan dapat dihindari hanya dengan keberadaan seorang pemimpin tunggal umat Islam untuk seluruh dunia yaitu khalifah, dan keberadaan khalifah hanya bisa terwujud dengan adanya bai’at terhadapnya.      

Alloh SWT berfirman :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (QS. Al Baqarah [02] : 30)

Mengenai ayat tersebut Al Qurthubi menjelaskan :

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع ، لتجتمع به الكلمة ، وتنفذ به أحكام الخليفة . ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم

Ayat ini merupakan dasar untuk mengangkat imam atau khalifah yang didengar dan ditaati untuk menyatukan pendapat dan melaksanakan hukum – hukum khalifah, tidak ada perbedaan pendapat tentang kewajibannya di antara umat dan imam – imam, kecuali apa yang diriwayatkan al Asham, padahal dia tuli terhadap syari’at.” (Tafsir Al Qurthubi)

Bai’at menjadi wasilah (perantara) keberadaan khalifah, keberadaan khalifah menjadi wasilah keberadaan persatuan yang telah diperintahkan. Dalam kaidah fiqih disebutkan,

الْأَمْرُ بِالشَّيْئِ أَمْرٌ بِوَسَائِلِهِ

Perintah terhadap suatu perbuatan berarti perintah juga bagi perkara – perkara yang menjadi perantara terlaksananya perbuatan tersebut.

Untuk melaksanakan perintah persatuan, maka membai’at seorang khalifah suatu hal yang diperintahkan, sedangkan hukum asal perintah itu adalah wajib,

الأصل في الأمر الوجوب

Hukum asal dalam perintah adalah wajib

Untuk mewujudkan kewajiban bersatu, dibutuhkan keberadaan khalifah, keberadaan khalifah dibutuhkan bai’at, karena persatuan umat Islam tidak akan pernah terwujud sebelum wujudnya khalifah dan khalifah pun akan terwujud dengan adanya bai’at. Sedangkan dalam kaidah fiqih disebutkan,

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Apa yang kewajiban tidak sempurna ditunaikan kecuali dengannya, maka ia adalah kewajiban (juga)

Jadi, karena bersatu itu hukumnya wajib, maka adanya khalifah pun menjadi wajib, dan kewajiban adanya khalifah tak dapat ditunaikan kecuali dengan adanya bai’at maka bai’at pun hukumnya menjadi wajib.

Maka oleh karena itu, kaum muslimin wajib melakukan bai’at khalifah agar kewajiban bersatu dapat ditunaikan, sedangkan kewajiban akan senantiasa menjadi beban yang dipikul oleh seseorang sampai kewajiban itu dilaksanakannya sepanjang kemampuan. Alloh SWT berfirman :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.(QS. At Taghabun [64] : 16)

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Apa – apa yang aku larang maka tinggalkanlah. Dan apa – apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. (HR. Muslim)

Kewajiban bai’at khalifah tidak bisa ditinggalkan dengan dalih ketiadaan khalifah yang memenuhi syarat, jika dalam waktu tiga hari dua malam tidak terdapat seseorang yang memenuhi syarat sebagai khalifah, maka bai’at khalifah terhadap yang minim syaratnya tetap wajib dilakukan karena meninggalkan perpecahan yang diharamkan lebih didahulukan, kaum muslimin haram hukumnya hidup dalam perpecahan.

Jika hukum – hukum khalifah tidak bisa ditegakan seluruhnya tidak menggugurkan kewajiban mengangkat seorang khalifah, sebagian perintah atau kewajiban yang mampu dikerjakan tetap dikerjakan, itu dilakukan saat tidak mampu mengerjakan seluruhnya,

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ

Jika kewajiban tidak dapat dilaksanakan seluruhnya, maka tidak boleh ditinggalkan seluruhnya.

Penulis : Ustadz Hendra Kurnia