,

10 KEBIASAAN BURUK PENGGERUS TANGKI CINTA

oleh -515 dilihat

Oleh. ARIS AHMAD JAYA
Lead Trainer ABCo Sugesti Motivatindo Tulisan Pertama dari dua tulisan

Banyak yang bertanya, apakah gerangan tangki cinta.

Tangki Cinta Adalah Wadah yang menampung perasaan Cinta dan kasih sayang yang didapatkan oleh Buah Hati kita.

Setiap kali buah hati terhargai atau merasa disayangi, maka tangki tersebut semakin penuh terisi.

Tangki yang penuh akan berimbas pada ketenangan dan kenyamanan buah hati dalam menghadapi hari hari kehidupannya. Kehidupan ceria, optimis dan penuh suka cita.

Namun….. Tahukah Anda, tangki cinta buah hati bisa saja kering kerontang disebabkan harga dirinya dijatuhkan justru oleh keluarganya.

Banyak perilaku kita sebagai orang tua yang justru membuahkan emosi negatif yang berujung pada keringnya tangki cinta.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan kami ada beberapa perilaku yang sering dilakukan oleh orang tua dan tanpa disadari perilaku itulah yang menyumbangkan emosi ketidaknyamanan bagi buah hati, dan berujung pada hubungan yang kurang harmonis antara orang tua dan anak, sehingga tangki cinta semakin kering. Imbasnya proses pembelajaran karakter buah hati di keluarga tidaklah maksimal.

Diantara perilaku tersebut adalah :

  1. Labeling negatif pada Anak.

Labeling pada anak adalah suatu kata atau kalimat yang ditujukan untuk menggambarkan tentang keadaan seseorang anak terkait dengan perilaku. Label negatif yang diberikan pada anak secara berulang-ulang, akan mengusik kepercayaan diri, harga diri dan konsep dirinya.

Ia akan memandang dirinya sebagaimana yang orang lain pikirkan, apalagi jika ia menerima label tersebut dari orangtuanya sendiri, gurunya, dan didukung pembenaran oleh lingkungan disekitarnya. Anak lambat laun akan meyakini bahwa apa yang disampaikan orangtua dan lingkungannya tentang dirinya adalah benar, sehingga mempengaruhi perilakunya.

Sebagian orang tua lebih sering memberikan label negatif dibandingkan yang positif.

Tanpa disadari label negatif yang dilakukan terus menerus dan bahkan secara kompak oleh seluruh anggota keluarga akan membuahkan kondisi anak kurang mampu membangun kepercayaan diri dan terbentuklah anak yang minder, menyesali diri, prustasi dan kabar buruknya hal ini bisa terbawa sampai dewasa .

Contoh label negatif yang sering keluar dari mulut kita untuk anak adalah pemalas, susah diatur, lelet, pembohong, nakal, bau, cerewet, keras kepala, pemalu, dll)

Labeling tidak selamanya jelek manakala label yang diberikan adalah positif dan membangun kepercayaan diri anak.

Misalnya, cerdas, pintar, pemaaf, cantik, cekatan, jenius, rajin, sabar dll. Labeling positif akan berimbas pada konsep diri positif, persepsi positif dan pola laku positif. Ayah bunda berjanjilah mulai sekarang yuk kita beri label positif agar hasilnya juga positif.

2. Suka membandingkan

Perilaku berikutnya yang sering dilakukan oleh orang tua adalah suka membandingkan.

Biasanya antara anak dengan kakak atau adiknya, anak dengan teman temannya atau dengan anak teman ibunya.

Ketika kita mengatakan “mengapa kamu tidak bisa rajin dan cerdas seperti kakakmu”, “kenapa kamu tidak bisa berdandan serapi Aisya”.

Kata kata membandingkan negatif akan menumbuhkan perasaan ditolak, kurang percaya diri, perasaan tidak diterima, dan mereka akan berpikir bahwa orang tuanya lebih sayang dengan orang yang dijadikan objek pembanding.

Hal inilah yang menumbuhkan sikap kurang percaya dengan dirinya sendiri dan benci dengan sosok yang dijadikan pembanding.

Solusinya adalah berikan perbandingan positif, contohnya

“ Kakakmu memang pinter, namun kamu sebenarnya juga pintar bahkan kamu lebih tekun. Ayah suka”

3. Over Protective

Sikap melindungi, merupakan suatu naluri alamiah setiap orangtua terhadap anak-anaknya. Sikap ini hadir karena orangtua belum sepenuhnya percaya bahwa anaknya memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk mandiri.

Adanya kecemasan orang tua terhadap resiko yang akan terjadi bila anak dibiarkan melakukan sesuatu sendiri berimbas orang tua cenderung membatasi, banyak melarang serta terlalu menekan kebutuhan anak.

Sikap ini lebih dikenal dengan istilah Over protective. Sikap terlalu khawatir dan memberikan perlindungan berlebih pada anak menyebabkan anak terpenjara dan terkekang aktivitasnya.

Tujuan utama adalah untuk kebaikan anak, namun kurang adanya komunikasi sehingga anak tertekan dan terpenjara oleh kekhawatiran orang tuanya.

Dampak dari pola asuh ini adalah anak menjadi sangat pasif dan memiliki rasa khawatir dan takut yang berlebihan.

Anak tidak berani melakukan apapun, kecuali dia mendapat izin dari orang tuanya. Bahkan sebagian memilki mental pemberontak manakala sudah tidak tahan dengan larangan orang tua.

Mereka mengabaikan larangan orang tua karena mereka sudah bosan dengan larangan-larangan dan mereka melakukan sesuatu di luar pengetahuan orang tua.
Solusinya adalah ; komunikasikan setiap peraturan yang diberikan, berikanlah penjelasan kenapa boleh dan kenapa tidak boleh.

Berikan kepercayaan kepada buah hati anda dan berikanlah apresiasi manakala dia menjalankan kepercayaan tersebut.

4. Lebih menghargai hasil dari pada proses.

Banyak orang tua yang lebih menghargai hasil akhir dan melupakan bagaimana proses menuju hasil akhir.

Akibatnya terkadang anak mengahalalkan segala cara demi membahagiakan orang tuanya.

Bisa dengan mencontek, kurang jujur atau bahkan curang.

Memberikan reward atau penghargaan terhadap proses belajar ternyata mampu merangsang terbentuknya karakter anak yang terhargai dan suaru saat bisa menghargai proses.

Ketika putra-putri kita mampu meningkatkan pola belajarnya dari 1 jam menjadi bertambah 1,5 jam, maka berikanlah ia penghargaan.

Atau jika anak mampu melewati remedial dengan hasil yang lebih baik dari sebelumnya maka hargailah dengan reward.

Ketika anak dihargai karena usahanya, dan bukan karena hasil akhirnya, Insya Allah hasil akhir akan megikuti.

Sekarang, mulailah hindari pemberian reward mengatasnamakan hasil akhir.

Cobalah kita mulai memberikan reward karena proses usaha sehingga anak kita senantiasa terhargai dalam mewujudkan hasil akhir yang diharapkan.

Para orang tua harus mengerti bahwa apapun yang dicapai saat ini adalah rangkaian perjalanan, karena perjalanan merupakan sebuah proses bukan penghentian akhir.

Jadi hal yang terpenting adalah anak kita selalu bisa belajar dari apapun proses yang dilalui.

5. Gagal menjadi pendengar yang baik.

Sebagian kita lebih suka berbicara dan menasehati daripada mendengarkan dan memperhatikan curhatan buah hati.

Terkadang kita menganggap remeh temeh cerita atau curhatan buah hati kita, bahkan bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua lebih suka menyela, langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal usul kejadiannya.

Padahal komunikasi yang paling baik di dunia adalah kemampuan mendengarkan, dari sanalah kita banyak menyerap informasi dan berbuah solusi yang tepat berdasarka kebutuhan buah hati.

Contoh sederhana yang sering terjadi pada keseharian kita, ketika anak telat pulang dari sekolah yang mestinya pulangnya siang, dia datang di sore hari tanpa mendapatkan pemberitahuan apapun sebelumnya.

Tentu saja kita kesal karena menunggu dan khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan.

Bahkan setiap kali anak hendak bicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya tidak ada keterangan yang kita peroleh dari penyebab keterlambatannya bahkan ia tidak mau bicara dan justru marah pada kita.

Seharusnya jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka jadilah pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapannya. Ajukan pertanyaan dengan tenang akan persoalan yang dihadapinya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua terkait dengan teknik ataupun strategi berkomunikasi dengan anak, antara lain :

a. Kedudukan (posisi) orangtua ketika sedang berbicara dengan anak adalah sama dengan anak (posisi tubuh setinggi anak)

b. Tatap kedua matanya, jika perlu palingkan kepala anak dengan tangan orangtua (secara lembut) agar anak menatap langsung pada orangtua.

c. Jika anak sedang kesal bahk
an dalam kondisi sangat marah, Cara berkomunikasi yang efektif adalah:

  1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
  2. Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
  3. Sambil mengusap kepala. Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.

bersambung ke tulisan 2

Silahkan share ke jejaring Anda. Agar Banyak Orang Tua Tersadarkan tentang pentingnya cinta dan kasih sayang.

Aris Ahmad Jaya
ig. aris ahmad jaya