,

ANTARA SYI’AR KEKHALIFAHAN ISLAM DUNIA 1440 DAN PERJANJIAN HUDAIBIYYAH

oleh -358 dilihat

Ade Yahya Alabbash

Pernahkah kita mengalami kekecewaan karena adanya sikap penolakan..?
Sebagai manusia, secara sisi manusiawi, tentunya rasa itu maklum adanya bila kita rasakan.

Pun begitu juga, dalam Dakwah Syiar & Shilaturrahim Kekhilafahan Dunia 1440 H di Jakarta kemarin, tentu ada rasa kesedihan yang amat mendalam di hati kita sebagai orang beriman ketika hendak menyampaikan syiar perintah bersatu sebagai bentuk tanggung jawab dakwah yang kita emban sebagai kaum mu’minin mengalami penolakan dari mereka yang hendak kita sampaikan kebenaran ajaran Rasulullah dan kaum salaf terdahulu.

Namun tentunya, sebagai kaum yang percaya terhadap apa yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya, cukuplah Qur’an sebagai satu-satunya sumber rujukan dan juga penghibur di saat hati kita dilanda kegundahan dengan apa yang terjadi dalam usaha mengemban misi dakwah Rahmatan lil ‘Alamiin.

Lalu, adakah kaitannya kejadian dakwah syiar yang dialami kemarin dengan sejarah yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat beliau..?

Tentu saja, bila kita mau menelaah lebih jauh secara mendalam, dapat dipastikan, bahwa hampir sebagian besar kandungan di dalam Al Qur’an yang isinya merupakan shirah (sejarah) ummat-ummat terdahulu yang sepertinya Allah turunkan untuk menjadi pembelajaran bagi kita ummat Islam yang beriman saat ini.

Pada tahun 628 M, sekitar 1400 Muslim berangkat ke Kota Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Mereka mempersiapkan hewan qurban untuk dipersembahkan kepada Allah SWT.

Namun karena saat itu kaum Quraisy di Kota Makkah sangat anti terhadap kaum Muslim Madinah yang bersatu dalam ajaran Rasulullah di masa Nubuwwah, maka berupaya dengan berbagai makar agar Kota Makkah tertutup untuk kaum Muslim.

Kaum Kafir Quraisy, walaupun begitu, menyiagakan pasukannya untuk menahan Muslim agar tidak masuk ke Kota Mekkah.

Pada waktu itu, bangsa Arab yang masih kufur dengan ajaran Kenabian Muhammad benar benar bersiaga terhadap kekuatan Ummat Islam yang meski pada waktu itu masih kecil namun lambat laun berkembang dan mulai banyak menarik perhatian masyarakat di Jazirah Arab.

Nabi Muhammad mencoba agar tidak terjadi pertumpahan darah di Mekkah, karena Mekkah adalah tempat suci.

Akhirnya kaum Muslim menyetujui langkah Nabi Muhammad, bahwa jalur diplomasi lebih baik daripada berperang. Kejadian ini diabadikan dalam Alquran Surat Al Fath : 24 – 27

Perlu diingat juga bahwa, setelah peristiwa hudaibiyyah, terjadi futuh Makkah.

Semoga Allah selalu memandaikan dan menanamkan kesabaran kita semua dalam mengemban risalah dakwah ini.

Wallahu A’lam bish showwab