KHALIFAH : “ORANG ISLAM TIDAK MENERIMA ORANG BODOH”

oleh
Haflah
Taushiah Pembukaan Pemberian Penghargaan dan Pembagian Rapor

Bandar Lampung (17/03/1439H). Pondok Pesantren Ukhuwah Islamiyyah (PPUI) Citiis Batu Putu Bandar Lampung memberikan penghargaan dan membagikan rapor hasil Kegiatan Ibadah Belajar Mengajar (KIBM) semester gasal. PPUI Citiis hanya mempunyai tingkatan Unit Madrasah Utsman Bin Affan setara dengan Madrasah Ibtidaiyah.

 

Penghargaan yang diberikan pada akhir KIBM semester gasal ini diantaranya kepada santri yang memiliki hafalan paling banyak, santri yang meraih nilai terbaik, dan santri yang berpretasi dalam kegiatan lomba cerdas cermat baik kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Target hafalan Al Qur’an bagi santri kelas satu adalah dua juz yaitu juz 30 dan juz 29. Santri kelas dua, 5 juz yaitu juz 30, jus, juz 29, juz 28, juz 27, dan juz 26. Sedangkan santri kelas tiga, 9 juz yaitu juz 30, jus, juz 29, juz 28, juz 27, juz 26, juz 1, juz 2, juz 3, dan juz 4.

Acara pembukaan pemberian penghargaan dan pembagian rapor KIBM semester gasal ini dihadiri oleh Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja yang didampingi oleh Ust. Thamrin Wahab. Dalam taushiahnya saat membuka acara, Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja menyampaikan bahwa PPUI ini merupakan satu-satunya pendidikan di dunia yang berada di bawah sistem kekhalifahan, menyiapkan generasi masa depan yang cerdas dan siap memperjuangkan islam, “Untuk saat ini, PPUI ini merupakan satu-satunya pendidikan yang berada di bawah sistem kekhalifahan”.

Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja juga menyampaikan bahwa orang islam tidak menerima orang-orang bodoh dan hanya menerima orang-orang yang cerdas, “orang islam itu tidak menerima orang bodoh karena beribadah itu menerapkan ajaran Allah dan Rosul-Nya dalam kehidupan. Dan itu semua membutuhkan ilmu yang harus dipakai sebagai landasan dalam beramal”.

Di akhir taushiahnya, Khalifah Abdul Qadir Hasan Baraja menghimbau kepada semua pihak untuk ikut mengambil bagian dan peran masing-masing dalam pendidikan di PPUI, “Murobbi dan para pengajar tugasnya adalah mendidik santri jadi tidak boleh lagi memikirkan uang, adapun semua pembiayaan menjadi tanggung jawab struktural wilayah yang menaunginya”.