TERNYATA, ADAB LEBIH UTAMA KETIMBANG ILMU

oleh

Adab secara bahasa bermakna tabiat, perangai, kebiasaan. Sedang menurut istilah adalah segala sesuatu yang terpuji baik ucapan maupun perbuatan yang dilakukan oleh seseorang, yang sering dikenal dengan al-akhlak al-karimah. Jadi adab dan akhlak merupakan dua kata yang mempunyai hubungan sangat erat.

Menurut Ibn Qayyim, kata adab berasal dari kata ma’dubah. Kata ma’dubah berarti ’jamuan atau hidangan’, dengan kata kerja ”adaba-ya’dibu’’ yang berarti ‘menjamu atau menghidangkan makanan. Kata adab dalam tradisi Arab kuno merupakan symbol kedermawanan, dimana al-Adib (pemiik hidangan) mengundang banyak orang untuk duduk bersana menyantap hidangan di rumahnya.

Kemudian kata ini berkembang seiring dengan perkembangan peradaban Islam, sebagai sebuah simbol nilai agung yang ada dalam Islam. Hal ini bisa kita lihat dalam hadits berikut ini, yang menjelaskan kata adab sebagai hidangan yang ada di dalamnya syarat dengan nilai.

Kata ta’dib atau al-adab ini dipopulerkan oleh Imam al-Bukhari dalam adab al-mufrad, al-mawardi dalam kitabnya Adab al-Muallimin wa al-Rawi wa Adab al-sami’ serta Ibn Jama’ah dalam kitabnya Tadzkirah al- sami’ wa al-Mutakallim fii Adab al-Alim wa al-Muta’allim.

Sementara itu, kata adab juga sering dipakai dalam hadits untuk menunjuk kata pendidikan.

Istilah adab merupakan salah satu istilah yang identik dengan pendidikan akhlak, bahkan Ibn Qayyim berpendapat bahwa adab adalah inti dari akhlak, karena di dalamnya mencakup semua kebaikan. Lebih dari itu, konsep adab ini, pada akhirnya berperan sebagai pembeda antara pendidikan karakter dengan pendidikan akhlak.

Menjadi orang yang berkarakter, tentu saja belumlah cukup, karena pendidikan karakter hanya berdimensi pada nilai-nilai dan norma-norma kemanusian saja (makhluk), tanpa memperhatikan dimensi ketauhidan Ilahiyah (khaliq). Sehingga orang berkarakter belum dapat disebut berakhlak, karena bisa saja seseorang berkarakter “toleransi” ia mengikuti paham pluralism sehingga memukul rata semua agama tanpa batasan norma syari’at. Dan yang lebih menyedihkan lagi, ia dapat tawar-menawar dalam hal menjalankan syari’at. Adab yang kurang baik akan memangkas syari’at hanya karena faktor kepentingan atau merasa tidak sepaham dengan gaya hidup karakter “toleransi”.

Adab lebih utama sebelum ilmu

Bukankah sebelum Nabi Adam Alaihissalam menuntut ilmu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau terlebih dahulu telah diajarkan adab dan beliau menerimanya dengan baik, yaitu beliau mengakui bahwa tiada yang selain Allah adalah Khaliqnya, maka beliau tunduk dengan ikhlas kepada Khaliqnya sesuai dengan kehendak Khaliqnya dan pengajaran Khaliqnya. SubhanAllah betapa istimewanya, Allah lah yang langsung menjadi guru beliau, bukan malaikat atau pun yang lainnya.

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya, ”Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Al-Baqarah : 31-32)

Seandainya Nabi Adam Alaihissalam tidak beradab, tentulah beliau sudah langsung menjadi pembangkang seperti Iblis yang enggan pada perintah Allah. Apakah mungkin beliau akan mendapatkan keilmuan dari Allah ? Belum tentu dapat ilmunya namun sudah jelas mudharatlah yang didapat, contohnya adalah Iblis. Dari riwayat Nabi Adam Alaihissalam, maka teladannya adalah adab lebih utama sebelum ilmu. Itulah hal klasik sepanjang masa yang paling mendasar, yang telah diajarkan oleh bapak ummat manusia, Nabi Adam Alaihissalam. Adab yang baik memudahkan masuknya ilmu.

Dalam salah satu hadits Rasulullah bersabda,

أدًّبّي رَبِّي فأحْسَنَ تَأديي(أخر جه العسكري عن علي)

“Tuhanku mengajarkan adab kepadaku maka Dialah yang memperindah adabku.” (HR. al-‘Askariy dari Ali)
Al-Zarkasiy dalam Faydh al-Qadir Syarah al-Jami ‘al-Shaghir menyebutkan bahwa hadits ini sekalipun dha’if tetapi maknanya shahih. Demikianlah sabda Rasulullah, Allahlah yang memang mengajarkan adab.

Setelah adab barulah menuntut ilmu, seperti yang telah dicontohkan oleh bapak ummat manusia, Nabi Adam Alaihissalam. Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam menyuruh, menganjurkan, dan memotivasi ummatnya agar menuntut ilmu pengetahuan. Sehubungan dengan ini terdapat hadits sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ فَاءِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَا نِ فِى فَرِ يضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَ حَدًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah Alaihissalam bersabda kepadaku, ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada orang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Al Qur’an dan ajarkanlah kepada orang lain. Aku ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban, mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.’” (HR. Ad Daruquthni dan Al Bahaqi)

عَنْ أَ بِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِ لَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الْمَلَا ئِكَىةَ لَتَضَعُ أَ جْنِحَـَهَا رِضَاءً لِطَا لِبِ الْعِلْمِ وَ إِنَّ الْعَلِمَ لَييَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الحِيتَا نُ فِي الْمَاءِوَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِكَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَا ءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوادِينَارًاوَلَا دِرْ هَمًا إِنَّمَا وَرَّ ثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَ خَذَ بِحَظًّ وَافِرٍ

Abu Ad-Darda’, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Alaihissalam bersabda, ’Barang siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke surga. Sesungguhnya, malaikat merentangkan sayapnya karena senang kepada pencari ilmu. Sesungguhnya, pencari ilmu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada dilangit dan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan alim terhadap abid adalah bagaikan keutamaan bulan diantara semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Mereka tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu, hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya.”’ (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Daud, dan Ad-Darimi)

Wallahu a’lam bish shawwab

Oleh : Ustadz Abu Qayyim