PERANG DAHSYAT YANG BERNAMA GHOZWUL FIKRI

Tidak ada komentar 526 views

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (120)

وَلَنْ تَرْضَ عَنْكَ  dan tidak akan pernah ridha kepadamu Muhammad dalam ayat ini disebutkan kepada Nabi Muhammad tetapi Khithab nya adalah kepada lita semua selaku seorang Muslim , siapa? Orang-orang Yahudi dan Nasrani sampai kapan? حَتّـى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ sampai kita mengikuti ajaran mereka dalam ayat ini tidak dikatakan حَتَ تَدْخُلَ مِلَّتَهُمْ sampai kamu masuk ke dalam agama mereka, kenapa karena bagi mereka dengan kita mengikuti mereka saja itu sudah cukup sebagaimana yang di dan dalam oleh Rasulullah dalam haditsnya :

مَنْ تَشَبََّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut.

Jadi maksudnya adalah mereka kaum Yahudi dan nasrani tidak akan secara terang-terangan mengajak atau memaksa kita untuk masuk kedalam agama mereka, tapi yang mereka lakukan adalah menjauhkan kita dari ajaran Islam dan mulai memasukan ajaran mereka dalam kehidupan kita secara perlahan sehingga lambat lain dengan sendirinya maka kita akan keluar dari Islam.

Mereka tidak akan melarang sholat bahkan kalau perlu mereka akan memfasilitasi sarana ibadah kita tetapi mereka akan berusaha bagaimana agar shalat kita tak lebih dari sekedar shalat belaka, mereka tidak akan melarang perempuan muslim untuk berhijab tapi mereka berusaha agar bagaimana para muslimah berhijab atau memakai jilbab tetap terlihat auratnya akhirnya mereka buat jilbab masa kini, trendy yang tak lebih hanya sekedar menutupi rambut tapi membentuk tubuh, mereka tidak melarang kita untuk membaca Al Qur’an tapi mereka berusaha untuk menjadikan Al Qur’an hanya sebatas bacaan belaka, mereka jadikan ajang perlombaan, mereka tidak menghalangi pembangunan-pembangunan Madrasah pesantren dan lain sebagainya berdiri selama yang di ajarkan hanyalah hal-hal sederhana yang tidak membahayakan mereka sehingga yang terjadi saat ini Umat Islam bak di nina bobokan mereka merasa sudah Merdeka dengan kebebasan menjalankan ibadahnya padahal hakikatnya kejahiliyahan masih mencengkram mereka dengan kuat, Umat Islam saat ini laksana singa ompong yang bahkan tak berdaya untuk menghadapi israel yang jumlah penduduk nya jauh lebih sedikit, banyaknya jumlah mereka bahkan tak membuat musuh takut umat Islam saat ini telah menjadi mayoritas yang tak berkualitas

Ikhwan wal Akhwat arsyadaniyallahu wa iyyaakum
Saat ini kita telah berada di tengah suatu peperangan yang disebut dengan ghazwul fikri suatu peperangan dimana senjata tidak lagi diperlukan, suatu peperangan yang lebih mengedepankan ideologi dan pemikiran melalui berbagai sarana yang dilancarkan untuk mengikis Islam dari para pemeluknya, dan tampaknya apapun yang tengah diusahakan oleh mereka itu perlahan tapi pasti mulai membuahkan hasil kita bisa lihat generasi muda Islam saat ini yang lebih menyukai musik dari pada Al Qur’an, yang sanggup untuk pergi jauh mendaki gunung, longmarch, touring ke berbagai kota tapi rak sanggup untuk melangkahkan kakinya ke Mesjid, mereka sanggup membeli barang-barang yang harganya jutaan tapi untuk Infaq ataupun sedekah seribu rupiah saja mikir-mikir, itulah realita yang ada saat ini.

Ikhwan wal akhwat arsyadaniyallahu wa iyyaakum
Saat ini ghazwul fikri sudah masuk ke dalam hampir semua sendi kehidupan kita, dalam hal ekonomi umat Islam dipaksa untuk menggunakan sistem riba, dalam hal moralitas umat Islam telah mengalami dekadensi moral disebabkan masuk nya budaya barat di perzinahan sudah di anggap suatu hal yang biasa, dalam hal pendidikan umat Islam rela menggadaikan aqidahnya hanya untuk tujuan dunia semata, dalam hal ideologi umat islam bahkan sudah tidak mengetahui apa itu Islam kecuali hanya sekedar ritual saja.

Ikhwan wal akhwat arsyadaniyallahu wa iyyaakum
Saat ini kita sudah sampai pada masa dimana Islam kembali menjadi asing, saat ini kita sudah sampai pada masa dimana orang yang memegang teguh Islam itu seperti memegang bara api, maka oleh karena itu marilah kita sama-sama berjuang untuk kembali mengembalikan izzatul Islam Wal Muslimin, kembali menjadikan الاسلام يعلى ولا يعلى عليه
Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam

Ikhwan wal akhwat arsyadaniyallahu wa iyyaakum
Kejayaan dan kemenangan Islam itu adalah suatu hal yang pasti yang paling penting adalah apa andil kita untuk Islam itu sendiri, bukan Islam yang butuh kita, bukan jama’ah yang butuh kita, bukan Khilafah yang butuh kita, Tapi kitalah yang butuh kepada Islam. kitalah yang butuh kepada jama’ah, kitalah yang butuh kepada Khilafah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ

Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam

وَمَنْ يـَبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَا يٌّقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِيْ الْآخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرٍيْن

Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima dan di akhirat ia termasuk orang yang merugi

Dua ayat di atas menunjukan bahwa hanya Ialamlah agama yang diterima oleh Allah dan kita hanya akan termasuk kedalam giling orang yang merugi di akhirat kelak apabila mencari agama lain selain Islam, tapi apakah hanya dengan dengan menjadi seorang Muslim itu cukup?? Belum, kenapa?

لا إسلام الا بالجماعة

Tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah

Dan yang sekarang menjadi pertanyaan adalah jama’ah seperti apa yang harus kita berada di dalamnya, Rasulullah menjawab ketika di tanya jama’ah seperti apa yang harus kita pegang

ما انا و أصحابه

Apa yang aku dan para sahabat berada di dalamnya

Kita telah mengetahui bahwa ketika Rasulullah hidup para sahabat berada di bawah kepemimpinannya dalam sebuah sistem bernama nubuwwah dan ketika Rasulullah wafat dan tidak ada nabi setelah beliau maka para sahabat dan umat Islam di pimpin oleh seorang Khalifah dalam sebuah sistem bernama Khilafah

Ikhwan wal akhwat arsyadaniyallahu wa iyyaakum

Maka sepatutnya kita bersyukur kepada Allah karena hari ini Allah telah memberikan kepada kita kesempatan sehingga kita bisa ikut andil dalam perjuangan ini. Ketahuilah bahwasanya surga yang saat ini sedang kita perjuangkan adalah surga yang sama dengan yang Rasulullah, para sahabat dan para Rasul terdahulu perjuangkan
Dan jika para rasul terdahulu dan rasulullah berjuang dengan harta dan jiwa nya maka apa yang sekarang kita perjuangkan.

Nabi Nuh alaihi salam berda’wah selama kurang lebih 950 tahun berapa pengikutnya, hanya sedikit sekali bahkan anak dan istri nya pun termasuk golongan pembangkang di hina, diledek disebut sebagai orang gila dan lain sebagainya. Nabi Ibrahim alaihi salam, di usir dari rumahnya bahkan beliau sampai dilemparkan ke dalam kobaran api yang sangat besar. Nabi Musa alaihi salam dikejar-kekar sampai tepi laut merah untuk di bunuh, nabi Isa alaihi salam di cari-cari untuk di gantung di tiang salib, nabi zakaria mati karena di gergaji dan yang terakhir Nabi Muhammad dan para sahabatnya dihina, ditindas dan disiksa dengan siksaan yang keji, di boikot selama kurang lebih 3 tahun di usir dari kampung halamannya, beperang melawan keluarganya sendiri.

Dan sekarang kita berharap surga hanya dengan shalat, shaum, zakat dan haji alangkah sangat jauh sekali. Jika dulu di Makkah para sahabat ketika akan mendengar pelajaran dari Rasulullah mereka pergi secara sembunyi-sembunyi dan Jika orang kafir mengetahui nya apa yang terjadi? Mereka akan di siksa dengan siksaan yang mungkin tidak bisa kita bayangkan Khabab Bin Art disiksa dengan cara diletakan besi yang di bakar sampai panas di kepalanya, Bilal Bin Rabah di jemur di bawah terik panasnya padang pasir sambil ditindih dengan batu besar, Sumayyah di siksa dengan besi panas yang ditusukan dari bawah, untuk apa semua itu? karena mereka tidak mau melepaskan keimanannya, Alhamdulillah saat ini kita masih bisa berangkat tugas dalam keadaan tenang tidak perlu sembunyi-sembunyi kemudian ketika datang juga sudah disiapkan makanan tapi masih ada juga yang enggan untuk hadir.

Ikhwan wal Akhwat arsyadaniyallahu wa iyyakum

Istiqomah itu memang berat, dan perjuangan itu memang pahit kenapa? karena surga itu rasanya manis. Semakin malam memang semakin gelap, tapi semakin gelap semakin dekat kita dengan fajar  Rasulullah dan para sahabat merasakan ujian yang luar biasa ketika di Makkah sampai akhirnya mereka hijrah ke Madinah, apakah sudah selesai? Belum ujian selanjutnya mereka dihadapkan dengan perang Badar sebuah peperangan melawan keluarga mereka sendiri anak melawan bapaknya, bapak melawan anaknya, kakak melawan adiknya, adik melawan kakaknya, melawan paman-paman mereka dan lain sebagainya, sudah selesai? belum Allah uji lagi dengan yang lebih berat perang Uhud melawan musuh yang sama tapi kali ini umat Islam mengalami kekalahan kurang lebih 70 orang sahabat meninggal termasuk pamannya Rasulullah Hamzah Bin Abdul Muthallib, sudah selesai? Belum juga Allah uji kembali dengan perang Ahzab atau Khandaq dimana Umat Islam dikepung dari depan dan belakang dari depan oleh koalisi kaum Musyrik di bawah pimpinan orang Quraisy dan dari belakang oleh orang Munafiq dan Yahudi begitulah tapi perhatikan ujian demi ujian yang mana ujian yang datang setelahnya lebih berat dari yang sebelumnya, tapi hakikatnya semakin dekat dengan kemenangan semakin dekat dengan Fathul Makkah.

Ikhwan wal Akhwat arsyadaniyallahu wa iyyakum

Karena itu kita jangan berharap untuk kedepannya kita akan mendapat ujian yang lebih ringan dari yang pernah kita lalui, semakin kencang kita berlari semakin kencang angin menerpa.  Mungkin diantara kita pernah ada yang merasakan, ketika kita mendakwahkan kan Khilafah mereka menolak dengan berbagai macam alasan, khilafah abal-abal, belum sempurna dan lain sebagai nya. Maka apakah bedanya kita jika saat ini masih banyak di antara kita yang enggan untuk memasukan anaknya ke dalam pendidikan kita dengan berbagai macam alasan juga pendidikannya belum mapan lah, gurunya masih terlalu muda lah, anak saya sekolah di luar agar bisa membantu perjuangan nanti agar dia bisa ini bisa itu, saya juga dulu gak sekolah di pondok tapi bisa masuk Khilafah juga yaitu rizki kita apa ada yang bisa menjamin anaknya akan turut serta dalam perjuangan ini yang kita bina dari awal saja banyak yang futur dan lain sebagainya.

Ikhwan wal Akhwat arsyadaniyallahu wa iyyakum
Islam diturunkan di Makkah suatu tempat yang berada di antara Persia dan Romawi dua negara adidaya dan super power yang sangat maju pada masa itu tapi pernahkah Rasulullah memerintahkan kepada para sahabatnya “hei fulan utus anak kita belajar disana biar dia bisa ini dan itu” tidak pernah kenapa? Karena Rasulullah yakin kalau sudah waktunya maka akan datang sendiri apa yang kita butuhkan.

Tahun 5 H, umat Islam dikejutkan dengan serangan dari dua arah yaitu orang Yahudi dan dan pasukan koalisi mereka berfikir pada saat itu umat Islam akan kalah tapi apa yang terjadi Allah memberikan pertolongan melalui hambanya Salman Al Farisi” dia berkata kepada Rasulullah “wahai Rasulullah dulu kami ketika di Persia ketika berperang kita membuat parit” maka ketika pasukan koalisi mendekati Madinah mereka dikejutkan dengan sesuatu yang belum pernah mereka lihat, sebuah parit panjang yang membentang dengan lebar sehingga tidak memungkinkan mereka untuk lewat.

Sejenak kita renungkan bagaimana perjalanan kita, banyak orang yang mencibir kita “khilafah kayak apa itu, bilang mau memakmurkan bumi, mensejahterakan umat sekarang aja warga nya masih pada susah” tapi perlahan-lahan sedikit demi sedikit kita sedang berjalan menuju ke arah sana. Dulu apa pernah terbayang kita akan punya majalah sendiri, radio sendiri website sendiri, pendidikan sendiri, klinik sendiri? Tapi sekarang Alhamdulillah kita sudah mempunyai nya.

Ikhwan wal Akhwat arsyadaniyallahu wa iyyakum

Karena itulah mari kita bangun bersama pondok kita ini, kalau bukan kita siapa lagi yang akan memakmurkannnya, relakah kita kalau anak-anak kita aset masa depan kita, yang kita harapkan untuk menjadi penerus kita dididik dalam sebuah lembaga yang bertujuan untuk melanggengkan sistem selain sistem Islam.
Al haqqu minallah wal bathil minni. Aquulu qauli haadza wastaghfirullaha walakum.