MUROBBI PPUI ACEH PADA ACARA HAFLAH IMTIHAN, “APA ISTIMEWANYA PPUI?”

oleh

Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah (PPUI) Aceh adakan acara pembagikan raport atau biasa disebut denngan Haflah Imtihan, yang diadakan di masjid PPUI Aceh. Jum’at, 30 Rabi’ul Awal 1438 H. Acara yang dihadiri oleh seluru santri para mudarris dan sejumlah wali santri ini dipandu oleh pembawa acara Ustadz Fadlan Maulana Acara tersebut dibuka tepat pukul 08.00 WIB Di awali dengan  pembacaan kitab suci  Al-Qur’an oleh Mujahidil Qirom dan selanjutnya taushiyah oleh Murobbi Ma’had Ustadz Teja Mukti.

Dalam sambutannya Ustadz Teja Mukti yang berasal dari tataran sunda ini memaparkan. “Kita ini mendidik generasi Islam yang alhamdulillah pada saat ini kita sudah mengusung pendidikan Islam di bawah sistem Khilafah.” Ungkapnya mengawali sambutan.

Dengan mengutarakan sejumlah pertanyaan yang cukup menggelitik ia melanjutkan taushiyahnya. “Mungkin banyak orang yang bertanya, dan heran apa istimewanya PPUI? kenapa orang Medan mau datang jauh-jauh ke Aceh untuk menyekolahkan anaknya di PPUI? Apakah di Medan sudah tidak ada sekolah lagi?. Kemudian kenapa banyak orang tua yang berasal dari dalam dan luar Aceh lebih memilih menyekolahkan anaknya di PPUI dari pada sekolah lain? Bukankah kalau hanya untuk belajar Islam banyak pesantren lain yang lebih megah lebih maju dan gurunya lebih hebat? Kenapa harus PPUI, sebuah pesantren yang baru berusia seumur jagung yang bahkan sama sekali tidak terdaftar di Depag ataupun Diknas? kualitas gurunya pun mungkin menurut sebagian orang masih perlu dipertanyakan, karena mereka hanya sekumpulan anak muda yang jauh untuk bisa dikategorikan sebagai guru profesional atau berpengalaman? Apa mereka tidak khawatir dengan masa depan anak mereka, apa mereka sudah tidak sayang lagi dengan anak mereka?” Ungkapnya dengan intonasi menghujam.

Akhirnya pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk penegasan itupun terjawab dengan lanjutan dari taushiyah murobbi termuda dari semua PPUI ini. “Justru karena orang tua itu sadar dan sayang akan anak nya maka mereka lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di PPUI, karena mereka sangat peduli dengan masa depan anaknya akan seperti apa mereka di masa yang akan datang kelak?.”

Selanjutnya lebih luas dan rinci ia memaparkan sambutanya. Seperti yang sudah kita fahami bersama bahwasanya kematian adalah sebuah keniscayaan dan kehidupan dunia ini hanya sementara sedang kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang akan kita jalani setelah kematian dan hal inilah yang terkadang sering dilupakan oleh kebanyakan orang mereka terlalu sibuk memikirkan bagaimana untuk bisa hidup enak tapi lupa memikirkan bagaimana untuk bisa mati dengan enak artinya kita bisa menjalani kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak dan terbebas dari api neraka.

قوا أنفسكم و أهلكم نار

Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

اذا مات ابن آدم انقطع عمله الا من ثلاث : صدقة جرية، علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Apabila seorang anak Adam itu meninggal maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendo’akannya

Maka berangkat dari dua hal di atas itulah banyak orang tua yang memilih untuk memasukan anaknya ke PPUI karena mereka berharap agar kelak anaknya bisa menjadi seorang pribadi Muslim yang baik, bisa menjadi generasi anak yang Shaleh.

Tapi apakah cukup sampai disitu kalau hanya itu alasannya bukankah masih banyak pesantren lain atau pendidikan yang berlabelkan Islam ? Yang menjadi pertanyaan adalah betulkah pendidikan Islam yang ada saat ini benar benar merupakan sebuah pendidikan Islam? Jika iya kenapa pendidikan Islam itu tidak mendukung eksistensi Islam itu sendiri?

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim tapi pada kenyataannya Umat Islam seperti menjadi kalangan minoritas contoh kecilnya? Banyak pelajar perempuan Islam yang dilarang menggunakan jilbab di sekolah-sekolah mereka, denganlasan toleransi katanya?.

Padahal kalau kita lihat ada ratusan bahkan ribuan lulusan pesantren dan sekolah Islam yang lulus setiap tahunnya. Tapi kemana mereka semua kenapa mereka tidak mampu berbuat sesuatu yang real untuk agamanya sendiri, kenapa seperti itu karena pendidikan yang mereka dapatkan sama sekali tidak mewakili dari Islam itu sendiri, karena pendidikan yang mereka dapatkan hanyalah sebatas pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai keislaman yang tidak berbahaya yang tidak mengancam eksistensi sistem yang membawahi pendidikan tersebut sehingga ketika mereka lulus dari lembaga pendidikan tersebut mereka kembali bergabung bukan untuk memperkuat Islam tapi untuk menyokong dan menjaga agar sistem tersebut bisa tetap berjalan

Karena itulah kami seluruh PPUI yang ada memiliki satu tujuan yang sama yaitu mencetak suatu generasi yang bersedia untuk ikut andil dalam memperjuangkan diinul Islam ini. Bukan mencetak generasi yang sekedar menjadi penonton atau bahkan komentator, yang senantiasa sibuk teriak sana teriak sini. Seperti penonton sepak bola yang hanya bisa bilang hore ketika tim nya menang dan berteriak huuuuuu ketika tim nya kalah. Kejayaan Islam adalah suatu kepastian dan yang paling penting adalah apa andil kita untuk bisa meraih kejayaan tersebut karena hanya pemain yang bisa mencetak gol dilapangan

Jadi untuk bisa meraih semua itu ada tahapannya yang semuanya tertuang dalam Visi dan Misi semua PPUI yaitu :

Visi : Rahmatan lil alamin

Misi :

  1. Menuju tauhid yang murni bersih dari noda syirik.
  2. Menuju Aqidah yang kuat lurus dan ubudiyyah assunnah.
  3. Membentuk pribadi yang berakhlaqul karimah
  4. Berguna bagi Umat rahmat bagi seluruh alam
  5. Siap menjadi Mujahid da’wah demi tegaknya sistem Khilafah ala minhajin nubuwwah.
  6. Cakap, terampil percaya diri dan mandiri

Dan untuk bisa merealisasikan ke enam poin di atas PPUI membagi nya 4 tahapan, yaitu :

  1. Madrasah Khalifah Utsman Bin Affan yang ditempuh selama tiga tahun dengan 4 mata pelajaran yang merupakan pendidikan dasar dalam Islam
  2. Madrasah Khalifah Umar Bin Khaththab yang ditempuh selama 2 tahun
  3. Madrasah Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiiq yang ditempuh selama 2 tahun
  4. Jaami’ah yang ditempuh selama 2 tahun pada tahap ini semua santri lebih ditekankan pada metode praktek dan sudah mulai untuk pembinaan life skill

Dan adapun kita saat ini baru masuk pada tahapan pertama yaitu Madrasah Khalifah Utsman Bin Affan Maka semoga Allah memudahkan langkah kita semua untuk bisa terus menjadi lebih baik lagi pada masa yang akan datang…Aamiin…

Tausiyah yang dipaparkan Ustad Teja Mukti selaku Muribbi di PPUI Aceh, pada kali ini begitu memuaskan para wali santri yang hadir dan mendengarkan keterangan tersebut.

Dan pada hari ini juga setelah pembagian nilai para santri akan diliburkan selama  satu pekan. Dan program liburan ini tentunya mendapatkan sambuatan yang baik dari para wali santri.

“Mudah-mudahan sewaktu libur para santri bisa menjadi contoh di rumah dan bisa beramal sholeh mencari ridho Allah.” Tutur salah satu wali santri Tengku Jainal Fuadi wali dari Haikal  & Najwa Mutia.

Laporan Al-Furqon Sukri – PPUI Aceh