SELAMATKAN GENERASI DENGAN HALALAN TOYYIBAN

oleh

“Wahai suamiku sayang, jangan membawa pulang apa pun selain yang halal,” pinta sang istri saat melepas suaminya pergi mencari nafkah. “Karena perut kami masih bisa menahan lapar. Tetapi tubuh dan kulit kami tak akan kuat merasakan panasnya bara neraka!” ucapnya sungguh-sungguh.

Demikian kisah teguhnya pendirian para wanita beriman dimasa lalu. Dalam suatu riwayat diceritakan Abu Bakar ra.  memasukkan jari ke mulutnya lalu memuntahkan apa yang baru ditelannya hingga ia yakin tak ada yang tertinggal. Pasalnya, ia mendengar penjelasan perihal muasal makanan itu yang ternyata dari hasil meramal.

Rasa gelisah ada sesuatu yang meragukan telah masuk ke perut juga pernah dialami Rasulullah Saw. yang telah memakan sebutir kurma yang Beliau khawatir itu bagian dari sedekah.

Subhanallah, betapa sensitifnya Rasulullah dan para sahabatnya tentang status halal dari apa yang dikonsumsi. Karena persoalan halal-haram adalah perkara penting yang betul-betul harus diperhatikan. Karena jika mengabaikannya maka akan menuai banyak mudarat baik di dunia maupun di akhirat kelak.

NYATA BEDANYA

Dalam sabdanya Rasulullah Saw. menegaskan, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram pun juga jelas. Antara keduanya terdapat hal-hal samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menjaga diri dari perkara yang samar itu, maka ia telah menjaga agama dan harga dirinya… (HR. Bukhari-Muslim).

Mengenai halal-haram ini telah Allah Swt jelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an diantaranya: tertera di QS. Al-‘Araf:157, “…Dan menghalalkan bagi mereka yang baik-baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…”. Adapun beberapa jenis makanan yang telah ditegaskan status haramnya dijelaskan dalam QS. Al-maidah:3, yaitu: bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat disembelih dan binatang yang disembelih untuk berhala.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan sebagian ulama berpendapat tentang hal ini bahwa setiap apa yang Allah Ta’ala halalkan maka pasti ia baik dan bermanfaat untuk fisik dan agama seseorang. Sebaliknya, setiap apa yang Allah haramkan maka itu buruk dan berbahaya terhadap fisik dan agamanya.

KAIDAH DAN DAMPAKNYA

Perihal apa yang harus dikonsumsi, allah Swt telah menjelaskan kaidahnya, yakni prinsip ‘halalan toyyiban’, yang halal lagi baik. Sebagaimana yang Allah Swt firmankan, “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya,” (QS. Al-Maidah:88).

Dalam kaidah halal, para ulama menjelaskan dua hal yakni dari asal zatnya atau materinya serta proses atau cara mendapatkannya. Keduanya mesti dicermati agar terhindar dari perkara syubhat (yang meragukan). Adapun maksud dari yang ‘baik’ menyangkut kualitas, status gizi, serta tidak tercemar zat kimia berbahaya.

Pada kondisi saat ini, kaum Muslimin perlu ekstra hati-hati untuk memastikan apa yang dikonsumsi keluarga telah memenuhi standar ‘halalan toyyiban’. Karena banyak pihak yang tidak bertanggungjawab membuat dan mengedarkan makanan / minuman dengan mencampurkan zat yang haram maupun yang syubhat dan membahayakan kesehatan. Contohnya peristiwa menggegerkan yang terjadi di tanggal istimewa 12 Desember 2012, terbongkarnya ‘pabrik’ bakso campur daging babi di belakang Pasar Cipete  Jakarta Selatan.  Atau yang tak kalah mencengangkan, kasus temuan materi asal babi pada beberapa jenis vaksin untuk bayi dan balita. Belum lagi campuran bahan makanan pada beragam jajanan anak yang ditengarai mengandung bahan syubhat dan membahayakan kesehatan.

Para ahli gizi dan pakar kesehatan telah meneliti dan menemukan beragam dampak buruk zat kimia yang dicampurkan ke dalam makanan atau minuman seperti pengawet, penyedap, perasa, pewarna, pelembut/perenyah, dan lain sebagainya, terhadap kesehatan juga perilaku dan kejiwaan. Efek yang ditimbulkan bisa beragam. Mulai dari kerusakan organ tubuh seperti jantung, ginjal, otak, hati, juga pencernaan. Juga memicu terkena beberapa jenis penyakit berat seperti kanker dan tumor, diabetes, juga leukemia dan stroke.

Salah satu kiat bijak untuk mengantisipasinya adalah dengan mencermati beberapa identitas bahan makanan dan minuman sebelum dikonsumsi. Seperti daftar komposisi, produsen, dan pencantuman label atau  sertifikat halalnya.

BAIK-BURUKNYA

Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menyebutkan perintah mengkonsumsi yang halal dan penyebutan karakter baik setelahnya. Misalnya dalam QS. Al- Maidah: 88, yang menyandingkan sifat taqwa, QS. An-Nahl:114 dan Al-Baqarah:172 agar selalu mensyukuri nikmat, lalu kemampuan untuk menghindari langkah setan di QS. Al-Baqarah:168. Juga dorongan hati untuk senantiasa beramal shalih, dalam QS. Al-Mu’minun:51.

Sebaliknya, dalam beberapa hadits atau riwayat disebutkan banyak dampak buruk yang ditimbulkan akibat menggunakan barang haram. Diantaranya, Doa dan amalannya tertolak (shalatnya, sedekahnya, silaturahimnya, bahkan hajinya),  hatinya menjadi keras, sulit menerima kebenaran, tidak ada ketenangan jiwa dan sifat taqwa,  mengidap rasa rendah diri, merusak keturunan, dan kelak neraka menjadi tempat yang paling layak. Na’udzubillahi min dzalik.

HIMBAUANNYA

Saat ini kita mengemban tugas suci untuk meninggikan/li ‘ilai kalimatillah diantaranya melalui pembinaan generasi penerus. Menjadi tanggungjawab bersama untuk menjaga dan menyelamatkan generasi dari segala dampak buruk asupan haram. Diantaranya dengan membantu penyediaan pasokan bahan pangan yang halal dan toyyib bagi para santri yang tengah belajar di pendidikan berbasis Khilafah. Karena di sanalah calon pemimpin umat ini tengah ditempa dan dipersiapkan untuk melanjutkan estafet perjuangan.

Dengan segenap daya dan upaya serta sumbangsih yang kita berikan, akan sangat berarti untuk menjaga kesehatan serta pengaruhnya bagi tingkat kecerdasan para santri. Karena beberapa zat gizi penting yang terdapat dalam makanan memang secara sunnatullah dibutuhkan oleh tubuh untuk proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan mengkonsumsi yang ‘halalan-toyyiban’ (halal lagi baik), insyaAllah generasi kita akan tumbuh menjadi mujahid muda yang bertaqwa, gagah, cerdas, serta kreatif. Siap terjun di kancah jihad, mendakwahkan khilafah ke seluruh dunia.

Mari kita jadikan lini ini sebagai lahan amal shalih kita yang insya Allah akan bernilai jariyah di sisi Allah. Penjagaan dari perkara haram menjadi bagian dari pelaksanaan perintah Allah untuk menjaga diri dan keluarga dari ancaman siksa neraka   ( QS. At-Tahrim:6). InsyaAllah.  Wallohu’alam bis shawab.

Penulis : Wa Ode Nurmah – Bandar Lampung