MUSLIMAH, MENULISLAH!

Tidak ada komentar 299 views

Perjuangan Tjut Nyak Dien lebih heroik dari Ibu Kartini, menurut Afifah Afra, seorang penulis. Namun   “Karena Kartini Menulis”, begitu judul opininya, maka namanya lebih mencuat di dunia pendidikan dan kewanitaan di Indonesia.

Tradisi menulis telah manjadi bagian dari sejarah dan peradaban. Bahkan dalam perjalanan dakwah para Nabi, penulisan menjadi bagian penting ‘setting’ sejarah. Contohnya ketika Nabi Sulaiman as. menyerukan dakwahnya kepada Ratu Balqis, penguasa negeri Saba. Betapa untaian kalimat yang digoreskan Sulaiman telah membuka cakrawala berpikir seorang pemimpin dan menggugah keimanannya. Sehingga muncullah revolusi rohani sebuah negeri.

Begitupula pada dakwah Rasulullah Saw. yang juga menjejaki sesi korespondensi. Beliau mengambil kebijakan dakwah melalui seruan tertulis kepada beberapa amir (penguasa) dan para raja pada akhir tahun 6H setelah kembali dari Hudaibiyah.

Dengan dibubuhi cap dari cincin stempel bertuliskan tiga baris kata yang disusun dari atas ke bawah: Allah-Rasul-Muhammad. Dikirimlah surat dakwah itu kepada Najasyi-Raja Habasyah, Muqauqis-Raja Mesir, Kisra-Raja Persia, Qaishar-Raja Romawi, serta beberapa penguasa wilayah.

Saat ini, dakwah di Khilafatul Muslimin juga mengikut jejak Rasulullah Saw. Khalifah, Ust. Abdul Qadir Hasan Baraja mengawali dakwahnya dengan membuat Maklumat Tegaknya Kembali Kekhalifaha Islam. Seruan bersatu pun disebarluaskan ke penjuru dunia melalui media internet. Diterbitkan pula surat edaran berisi misi persatuan yang ditujukan kepada hampir seluruh instansi dan elemen masyarakat di Indonesia. Adapula selebaran berisi nasihat kepada masyarakat.

DAKWAH STRATEGIS

Dengan berdakwah, kita memenuhi seruan Allah untuk ber ‘amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan/kemunkaran) sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran: 104)

Namun ada sedikit kendala bagi muslimah di ranah dakwah. Terdapat ketentuan syari’at yang mesti diperhatikan. Wanita tidak diperkenankan tampil di depan publik laki-laki. Melalui media suara pun masih memunculkan kontroversi. Untuk bepergian pun harus didampingi mahramnya.

Maka pilihan dakwah muslimah yang lebih maslahat dan strategis adalah menulis! Tak perlu tampil di depan forum, tak khawatir suaranya menimbulkan fitnah, juga tak perlu susah-susah ‘wara-wiri’ kesana kemari. Melalui media cetak maupun internet, muslimah dapat berperan aktif dalam kancah dakwah dan kemaslahatan umat. Apalagi didukung pendidikan dan keahlian yang telah dimiliki. Dakwah tulis juga lebih efektif karena bisa dikaji ulang dan disebarkan lagi. Sungguh sebuah peluang luas untuk lebih banyak mendulang pahala jariah, insyaallah.

Kini saatnya muslimah berupaya melatih dan mengasah kemampuan menulisnya agar ide dan gagasannya dapat disampaikan dengan bahasa tulis yang lebih baik. Rajinlah membaca (terutama Al-Qur’an tentunya). Belajarlah melalui buku, internet, pelatihan, komunitas, atau konsultasi. Dan yang terpenting, seringlah berlatih dan terus berkarya. Kirimkan ke media atau publikasikan sendiri. Optimislah selalu, man jadda wa jada! Setiap kesungguhan akan membuahkan hasil.

Perang era globalisasi adalah ‘ghozwul fikri’ (perang pemikiran). Gunakan penamu sebagai senjata. Tajamkan matanya. Melalui goresan pena, kita bimbing umat agar keluar dari kegelapan (syirik, bid’ah, khurafat, maksiat, juga perpecahan) kepada cahaya Islam (tauhid, ittibaussunnah, dan persatuan umat/Khilafah).

Wallohu ‘alam bis shawab (Wa Ode Nurmah)