JANGAN MAU DIMADU

Tidak ada komentar 664 views

“Langkahi dulu mayatku!”, “Pilih aku atau tinggalkan dia!” pekik histeris sang istri mendengar suaminya berniat menikah lagi. “Aku nggak rela, nggak sudi!,” semburnya berapi-api. Nafasnya memburu,  detakjantung berpacu, airmata tumpah membasahi baju.  Dunia rasanya berhenti berputar, seakan inilah saat kiamat.Peristiwa ini bagi para istri memang terasa sangat dahsyat.Tanpa pikir panjangsebagian malah nekat memilih bercerai begitu tahu telah ada istri kedua. Rumah tangga yang awalnya tampak harmonis, akhirnya harus berakhir dramatis!

Poligami, atau ta’addud memang masih menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan istri. Kontroversi tentangnya merebak di mana-mana.Masyarakat dan media ikut memberi imej negatif bahwa poligami adalah bentuk diskriminasi dan penindasan perempuan.Cerita-cerita yang tersebar umumnya dilihat hanya dari sisi buruk yang sering ditambahi bumbu tak sedap.Beragam keresahan pun datang tanpa diundang.Merebut suami dan merampas kebahagiaan istri pertama, mengacaukan rumahtangga, perhatian, cinta dan harta bakal terbagi, khawatir tidak adil, dan masih banyak lagi yang menyakitkan hati. Sehingga terbentuklah opsi yang melekat kuat di benak para istri, jangan mau dimadu!

Subhanallah! Mengapa kita begitu sinis memandang poligami. Coba kita lihat ia dengan kacamata hikmah. Seperti layaknya kita mencermati syari’at yang lain. Puasa misalnya. Siapa yang mau lapar dan haus seharian, badan lemas, nafas pun tak sedap. Tapi setelah itu, Allah siapkan ganjarannya; dua kenikmatan (saat berbuka dan nanti saat berjumpa dengan Allah), pahala yang surprais, tubuh sehat,  nafas seharum kesturi di sisi Illahi, dan gerbang surga Ar- Rayyan!

Atau kita ambil hikmah dari Jihad fi sabilillah.Berperang, bertumpahdarah hingga gugur, syahid di jalan Allah.Lengan dan kaki putus, tubuh tembus terkoyak tombak atau dicincang pedang, atau kepala dijagal hingga terpenggal. Tak akan ada yang bersedia. Tapi janji Allah terlalu indah untuk diabaikan. Sehingga para syuhada di surga itu berhasrat kuat bisa diberi kesempatan hidup lagi, hanya untuk merasakan lagi dan lagi, nikmatnya mati syahid!

Subhanallah! Maka apa mungkin Allah Swt Yang Maha Adil-Maha Bijaksana tidak memberikan apa-apa bagi istri yang telah meyakini dan membenarkan firman-Nya, lalu mendukung suaminya melaksanakan perintahNya dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 3? Bagaimana bisa Allah Swt. Yang Maha Pengasih-Penyayang-Penyantun, membiarkan pengorbanan istri yang telah ikhlas memberi saudarinya seiman kebahagiaan dan kesempatan berbakti pada suami.Juga bagi para yatim atau anak yang kehilangan bapak itu sehingga punya figur ayah.Serta banyak lagi hikmah dibaliknya.

‘Jangan mau dimadu’, sungguh suatu pikiran yang naïf, keliru bahkan menyesatkan.Wahai muslimah sadarilah, Allah Swt Pemilik segala karunia pasti menyiapkan pahala terbaik untuk keikhlasan kita.Melalui ibadah ini kita memiliki banyak peluang meraih kemuliaan dengan sabar dan syukur, juga ridha dan tawakal. Merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, hati tenteram dengan berzikir, indahnya berbagi, bersedekah, memaafkan, berjihad melawan hawa nafsu, serta membuktikan banyak sekali fadilah/keutamaan yang akan Allah Swt berikan bagi orang yang bertaqwa.

Dengan amalan ini kita buktikan kebenaran ikrar syahadat kita, bahwa tidak ada yang kita cintai selain Allah.Hidup kita yang hanya sementara ini hanyalah untuk beribadah, tunduk dan taat pada syari’at-Nya.Jangan sekali-kali bergantung, dan berharap kepada selain Allah (termasuk suami!).  Yakinlah dengan janji Allah sebagaimana firman-Nya, “…Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj:40). Wallohul muwaffiq. Wallohu’alam bisshawab.

Penulis : Wa Ode Nurmah – Bandar lampung