HIJRAH, ‘USRAH, LA TAHZAN

oleh

Cuaca panas mengganas.Terik mencekik.Perbekalan menipis habis.Yang bisa dimakan hanya dedaunan.Hingga untuk minum pun terpaksa harus ‘membongkar’ perut unta! Begitulah ujian yang dialami  30.000 pasukan perang Tabuk hingga  terjuluk “Jaisul ‘Usrah” (perang kesusahan).

Masih banyak kisah ujian dan pengorbanan Rasulullah Saw.dan para sahabat serta kaum Muslimin dalam memperjuangkan Islam. Mereka begitu tegar karena telah memilih Allah dan rasulNya serta berjihad di jalanNya dengan meninggalkan keyakinan dan sistem jahiliyah.Pilihan berhijrah telah mengubah sikap dan kehidupan kaum Muslimin.Peristiwa Hijrah sendiri begitu sarat makna dan penuh hikmah sehingga ditetapkanlah momen Hijrah sebagai penanda awal perhitungan kalender Islam.

Ada dua makna Hijrah secara bahasa. Hijrah Makani, yakni berpindah ke tempat dimana sistem Islam dan syari’atnya diberlakukan. Hijrah Maknawi, ialah keputusan untuk memilih Islam, hukum, sistem, dan kepemimpinannya sebagai prinsip hidup. Keduanya memiliki konsekwensi dan menuntut pengorbanan.Akan ada ujian pembuktian iman, kesungguhan taat, serta keteguhan pendirian.

Dalam Hijrah, Rasulullah Saw. dan para sahabat telah mengorbankan segalanya. Harta benda, raga, bahkan nyawa. Saat memilih hijrah, kaum Muslimin telah dan akan menghadapi bermacam ujian dan beragam kesulitan. Caci-maki, intimidasi, pemboikotan bahkan penyiksaan.

Kaum Muslimin kini diseru untuk berhijrah kepada sistem Islam, yakni Khilafah dan meninggalkan beragam sistem rekayasa manusia. Suatu sistem kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh para sahabat bakda selesainya Nubuwwah (kepemimpinan para Nabi) dengan wafatnya Rasulullah saw. Khilafatul Muslimin membawa misi rahmatan lil ‘alamin dan mengajak umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu, menyongsong ‘izzul Islam wal Muslimin.

Ujian dan rintangan kelak akan menghadang. Namun keyakinan kita akan pertolongan Allah harus tetap utuh. Bahkan jika kelak kita dihadapkan pada situasi tersulit, ingatlah saat Rasul bertutur di gua Tsur hingga sirnalah gentar Abu Bakar, “La tahzan”, “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah:40). Wallohu ‘alam bisshawab.

 Penulis : Wa Ode Nurmah – Bandar lampung