MENAKAR PERAN ORANG TUA DALAM MENYELAMATKAN GENERASI ISLAM

Harus kita akui diera globalisasi dan arus kehidupan yang semakin tak terbendung ini, apa pun bisa terjadi. Meski terselip manfaat dan kebaikan, tapi sejatinya keburukan yang mendominasi. Yang akhirnya karena besarnya pengaruh situasi dan kondisi serta minimnya peran orang tua dalam mengawasi, anak-anak kita menjadi korban tanpa disadari.

Dan ini terbukti dengan maraknya berbagai kerusakan yang terjadi pada generasi Islam saat ini. Namun sayangnya hal ini baru disadari setelah fakta yang berbicara. Meskipun demikian sebagian orang tua ada yang berkilah, inilah kenyataan zaman yang harus ditanggung. Padahal masalah utamanya bukan dengan bergantinya atau berkembangnya zaman, tetapi karena hilangnya pengaruh iman. Atau jangan-jangan iman itu memang tidak pernah ada dan orang tua tanamkan?

Disisi lain hal ini berbanding lurus dengan kenyataan yang terjadi, bahwa bukan lagi suatu rahasia jika kehidupan yang mapan ditopang oleh pekerjaan yang menjajikan untuk masa depan yang membahagiakan, menjadi orentasi dan tendensi utama para orang tua memasukkan anak-anaknya kedalam pendidikan yang terpandang. Tidak peduli bagaimana pergaulannya, akhlaqnya, ibadahnya bahkan aqidahnya. Yang setiap orang tua ingini anaknya pintar pada semua mata pelajaran, jelas masa depannya, membanggakan dan mengundang decak kagum semua orang. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang pandai dalam urusan dunia dan bodoh dalam perkara akhirat.” (HR. Al Hakim dan dishahihkan oleh al-Bani)

MEMPERBAIKI VISI, MENGUBUR VIRUS DUNIAWI

            Sejatinya tidak ada yang salah jika setiap orang memikirkan dunianya, terlebih lagi orang tua yang bertanggungjawab terhadap kabutuhan anak-anaknya. Namun persoalan serius yang selalu terlupa oleh kita adalah wajibnya mementingkan urusan agama/akhirat dari urusan dunia, apapun bentuknya. Karena akan sangat sulit rasanya menakar kebaikan (kesolehan) seorang anak yang disekolahkan dengan pola dan tujuan keduniaan. Terlebih lagi dizaman dengan segala kehabatan dan pengaruh buruknya saat ini.

            Maka sudah saatnya kita sadar dan bangkit dari keterlenaan yang berlarut-larut ini. Memalingkan tujuan hidup yang kian hari kian jauh dari ridha ilahi, dan memulainya dengan menginsafi dan menata kembali laju hidup hanya untuk mengabdi.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (٧٧)

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS : Al Qashash : 77)

SECERCAH HARAPAN

Namun jika kita renungi dan mencoba untuk lebih teliti, dari berbagai fitnah yang menghimpit generasi Islam saat ini sebenarnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menghadirkan kisah yang patut untuk kita tadabburi sebagai solusi. Kisah yang hampir serupa dengan zaman ini meski telah terjadi dilintas generasi meski alurnya berlainan diksi. Ialah ashabul kahfi, kisah para pemuda yang harus menghadapi masa tersulit dalam mengabdi dan mempertahankan iman kepada sang Ilahi. Meski banyak dari kaumnya yang terpaksa untuk tunduk kepada Dikyanus yang bengis lagi keji, tetapi mereka lebih memilih berani untuk mengingkarinya dan tetap pada imannya kepada Allah yang Mahatinggi. Sehingga Allah abadikan kisah mereka dalam firman-Nya yang suci :

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (١٣)

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS : Al Kahfi : 13)

Garis benang merah yang terjadi antara ashabul kahfi dengan para generasi Islam dizaman ini adalah sama-sama ditindas jiwanya, dibutakan mata hatinya, dikikis akhlaqnya dan dipaksa untuk memalingkan pengabdiannya kepada sosok yang tidak berhak menerimanya. Hanya saja ashabul kahfi jelas sosok Dikyanus-nya, sedangkan generasi Islam saat ini buta melihat musuhnya.

MENAKAR PERAN ORANG TUA

            Jika generasi Islam saat ini gagal dalam memahami situasi imannya yang kritis oleh pengaruh zaman, mungkin kata kunci yang Allah subhanahu wa ta’ala selipkan dalam kisah ashabul kahfi untuk mempertahankan aqidahnya ditengah gelombang fitnah dan derasnya arus cobaan yang mendera, bisa menjadi kartu as bagi setiap orang tua yang menginginkan anaknya kembali kejalan yang suci (benar). Sebagaimana firman-Nya :

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا (١٦)

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS : Al Kahfi : 16)

Ya, alternatif ampuh dalam memulihkan keimanan yang terguncang, membiasakan kebaikan yang terlalaikan dan menyelamatkan aqidah dari berbagai terpaan, juga sebagai bukti sadarnya orang tua untuk memperbaiki visi keluarga adalah memberikan perlindungan untuk anak-anaknya dengan mencari tempat yang aman.

Bisa dirumah sendiri dengan disiplin janji perubahan yang disepakati, bisa juga mengajak dan mengikutsertakan anak-anaknya untuk aktif dalam semua kegiatan terutama ta’lim dan berbagai kajian didalam jama’ah yang hak ini (Khilafatul Muslimin). Atau menyerahkan sepenuhnya kedalam lingkup pendidikan (pondok pesantren) yang benar-benar terbebas dari rembesan dan faham-faham yang menyesatkan (tanpa mengurangi tanggung jawab dan perhatian).

Yang pasti jika tidak ada tekad untuk memperbaiki visi keluarga sejak dini dan dari saat ini, akan sulit kiranya berharap lahirnya generasi Islam yang didambakan. Karena lahirnya generasi Islam yang militan berpengaruh besar dari pola asuh yang setiap orang tua perankan. Maka inilah saatnya untuk kita buktikan, berperan dalam lingkup terkecil demi lahirnya generasi Islam yang tangguh dan militan untuk menyongong era kejayaan Islam yang dinantikan.

Penulis : Tri Rudiansyah