ABUYA MUHAMMAD MAJLIS, BERAWAL DARI SENDIRI

oleh

“Hidup-hidupkanlah Pondok Pesantren dan jangan numpang hidup di Pondok Pesantren.” itulah seutas kalimat yang mungkin masih terngiang diingatan para santri generasi awal tatkala Muhammad Majlis Pendiri Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah Bekasi masih ada.

Di masa hidupnya Muhammad Majlis, dalam kesehariannya di kalangan santri dikenal dengan sebutan Abuya Majelis. Lelaki kelahiran Purbalingga pada tanggal 13 Rabiul Awwal 1368 H ini, tetep optimis dan penuh semangat . “Hidup sederhana, tekun dan ikhlas dalam setiap pekerjaan .” begitulah salah satu nasihat yang selalu diberikan kepada anak anak didiknya.

Beliau malang melintang di harokah dan organisasi Islam dan partai, organisasi Muhammadiyyah sampai NII serta organisasi-organisasi lainnya, dan akhirnya sekarang beliau menjadikan Khilafatul Muslimin sebagai labuhan terakhirnya, karena beliau yakin bahwa, sistem khilafah ini adalah sistem yang haq dan yang lebih jelas serta wadah pemersatu umat Islam se-dunia yang bisa menyatukan golongan (firqoh-firqoh) yang ada.

Abuya Majlis pernah bercerita kepada Tabloid Al-Khilafah tentang perkembangan pendidikan di Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah yang dinakodainya. bahwa Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah ini didirikan pada tahun 27 Rajab 1410 H, yang bertepatan pada tanggal 13 Februari 1990 M.

“Pada awalnya pendidikan serta pembinaan di wilayah kelurahan Pekayon Jaya Bekasi Selatan. Nama kegiatan ini disebut Darul Aitam dan sekaligus dengan sistem pondok yang dinamakan pesantren anak yatim du’afa yang kami berikan nama Al Ukhuwwah Islamiyyah. Yang berjalan di bawah yayasan Al-Furqon yang akte notarisnnya 7 Desember 1990.” Demikian Abuya mengawali ceritanya sebagaimana dikutip Tabloid Al-Khilafah.

Kegiatan ini telah  dirintis sejak tahun 1987 yang berbentuk pengajian majlis  warga umum di RT 14 di Pekayon pada masa itu. Kemudian kegiatan ini ditingkatkan dan dikembangkan ke arah aktifitas sosial yang berbentuk santunan untuk kaum yatim dan duafa, berjalan hingga tahun 1990. Yang terus berjalan dengan kegiatan pesantren kilat mulai tingkat SD, SMP, SMU, dalam sebuah lembaga asuhan yang di pesantrenkan.

Dalam perjalannya Abuya Muhammad Majlis banyak berhubungan dengan  teman-teman beliau di Muhammadiyyah dan yang dibeberapa harokah NII (90-an), sampai  terjadinya perpecahan di tubuh NII pada tahun 1993. Dimana pada saat itu beliau mengikuti ustadz Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Basyir dengan Jamaah Islamiyyahnya. Kemudian seiring perjalanan waktu harokoh ini pun mengalami perpecehan dan pada waktu itu beliau kembali lagi ke NII (KW 9) selama 1 tahun.

Kemudian pada saat Majlis Mujahidin mengadakan kongres (kongres mujahidin) tahun 2000 dan setelah mendengarkan paparan Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’, tentang KEKHILAFAHAN ISLAM dan memaklumatkan berdirinya kembali KHILAFATUL MUSLIMIN, maka beliau pada saat itu terus berdiskusi dengan Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ tentang Sistem Khilafah yang dibawanya. Dan kurang dari waktu 2 tahun beliau menyatakan janji setia kepada Khilafatul Muslimin (berbai’at).

“Alhamdulillah dengan khilafah ini, dan perjuangan yang dibawanya yakni misi rahmatan lil alamin membuat arah dakwah kami semakin jelas.” Tambah beliau yang di kutip dari wawancara dengan Tabloid Al-Khilafah

Pada saat beliau bergabung dengan Khilafatul Muslimin maka, perjalanan Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah juga mengalami perubahan terutama masalah sistem pendidikannya yang  selama ini diterapkan. Kepemilikan pondok pun yang dulu dikelola secara sendiri kini telah di serahkan kepada Jama’ah Khilafatul Muslimin. Sehingga ke depannya akan lebih terarah sebagai proyek pencontohan Pendidikan Islam Berbasis Khilafah Islamiyyah. Beliau juga mengharapkan bahwa apabila dikelola secara lembaga di dalam sistem Kekhalifahan akan mengalami perubahan yang lebih baik, dengan mencoba menerapakan Pendidikan Berbasis Khilafah Islamiyyah.

Abuya Majlis menilai bahwa pendidikan yang selama ini diterapkan dikebanyakan pondok pesantren pada umumnya menggunakan metode atau sistem pendidikan yang memisahkan antara ilmu dan agama sehingga merusak pola fikir serta aqidah generasi Islam kita. Sedangkan di dalam Islam tidak dikenal pemisahan itu, karena menurut Islam, ilmu itu semuanya datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada pemisahnan antara ilmu dengan agama.

Kemudian diakhir wawancara dengan wartawan Tabloid Al-khilafah kala itu, beliau mengharapkan dorongan dan dukungan dari semuanya, terutama warga khilafah, dalam kepercayaan (dari orang tua wali murid) yang telah menitipkan anaknya di Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah. Karena masih banyak warga yang lebih bangga dengan memasukan anaknya sekolah umum yang sebenarnya hanya tergiur dengan kelengkapan paslilitas dan peralatan pendidikan (sekolah Favorit) yang menurut kebanyakan orang lebih menjanjikan masa depannya, padahal sebenarnya tidak efisien dan pemborosan saja.

“Kami menyadari bahwa Pondok Pesantren ini masih belum bisa memenuhi semua kebutuhan santri dengan kelengkapan pasilitas, tapi In syaa Allah dengan SISTEM PENDIDIKAN BERBASIS KHILAFAH ISLAMIYYAH, dengan merubah pola tradisional menuju pola yang lebih profesional, tentu ini salah satu langkah maju di masa yang akan datang.”

Beliau mengakhiri dengan harapan dan do’a, Semoga Allah menggerakkan tangan-tangan hambanya untuk senantiasa dapat membantu kelancaran dan perkembangan Pondok Pesantren ini di masa depan dalam peningkatan mutu disegala hal.

“Alhamdulillah selama ini warga Khilafahtul Muslimin telah banyak membantu anak-anak santri dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya, tentunya ini rahmat Allah Yang Maha Pengasih, hanya kepada Allah kami mengadu dan memohon pertolaongan serta bermunajat kepada-Nya. Semoga selalu diberikan kemudahan dan kelancaran. Aamiin.”

Sumber : Tabloid Al-Khilafah Edisi XIII / Th II / Jumadits Tsaniyyah 1427 H. / Juli 2006 M.