BUKAN CINTA BIASA

oleh

Memberi apa yang dimiliki merupakan ungkapan cinta, dan pengorbanan menjadi kadarnya. Telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadikan fitrah pada makhluk-Nya rasa nan indah itu. Kepada kekasih, buah hati, keluarga, juga pada sesama. Namun bagi hamba beriman, puncak cinta tertinggi hanyalah bagi Illahi (QS. Al-Baqarah : 165).

Ada cermin teladan tentang cinta yang kilaunya amat memukau. Saat Ibrahim As. membuktikan ketaatan dan ketundukannya pada titah Ilahiyah untuk menyembelih Ismail, putra permata hati dan belahan jiwanya. Karena pada Rabbnya, cinta Ibrahim bukan cinta biasa. Tapi cinta yang telah bertahta di jiwa, mengaliri seluruh pembuluh, memuncaki segala. Maka Allah pun berkenan memilih Ibrahim As. menjadi Khalilullah , kesayangan-Nya (QS. An-Nisa : 125).

Bagi kaum Muslimin, ungkapan cinta kepada Allah itu diwujudkan dengan ketaatan kepada Rasulullah Saw. Sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31). Maka bagi yang mendamba cinta Illahi hendaknya mengikuti sunnahnya dalam seluruh aspek kehidupan, dari tataran pribadi, keluarga hingga sistem yang mengatur kehidupan bermasyarakat.

Sepanjang sejarah kehidupan kaum Muslimin, mereka hanya akan selamat bila berada dalam sistem kepemimpinan umat Islam. Sejak masa kenabian (sistem Nubuwah), yang telah berakhir saat Rasulullah Saw wafat, maka selanjutnya kaum muslimin wajib berada dalam sistem  kepemimpinan Islam (sistem Khilafah) dengan Kholifah/Amirul Mukminin sebagai pemimpin.

Kini, bersama Khilafatul Muslimin, kita buktikan cinta pada Allah Swt. lewat prosesi bai’at. Diantara yang kita nyatakan, “Saya siap sedia berkorban apa saja sesuai kemampuan saya demi tegaknya ajaran Allah dan Rasul-Nya.” Kita buktikan  dengan kesungguhan yang teguh digerak tubuh, dan ketaatan yang utuh menyeluruh pada segala perintah Allah, Rasulullah dan Ulil Amri minkum (QS. An-Nisa:59). Semoga cinta kita tidak dipindai sebagai cinta biasa.

Wallohu’alam bisshawab.

Penulis : Wa ode Nurmah