GENERASI YANG DINANTI

oleh

“…dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) sejak dia masih kanak-kanak.” (QS. Maryam : 12)

Apa yang ada di benak, saat melihat gadis cilik berumur  tujuh atau sepuluh tahunan mengenakan jilbab panjang dan lebar, gamis longgar, plus kaos kaki. Apa yang terasa di dada kala bersua gadis belia berusia dua belasan sudah khatam menghafal 30 juz Al Qur’an.

Apa yang bisa menahan genangan di pelupuk mata agar tak tumpah menyaksikan bocah-bocah cilik telah memenuhi shaf pertama jamaah sholat Shubuh.

Seluruh rasa itu adalah haru yang berkerumuk saat berada di salah satu Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah. Bayangkan bentang kontrasnya dengan pemandangan yang kita jumpai di lain tempat. Muda mudi belia bergerombol mejeng di pinggir jalan dengan dandanan seronok. Bocah lelakinya dengan santai menyedot lintingan putih berasap. Suara cekikikan ditingkahi omongan saru seolah tak merasa tabu.

Lalu kuduk makin jadi bergidik menyimak hasil survey  atau lansiran berita di media; sekian puluh persen siswi SMP dan SMA tak lagi ‘suci’ , sebagian lagi jadi korban bahkan pelaku pencabulan, tawuran, hingga yang telah terjerat narkoba. Berkali kali kita akan berucap na’udzubillahi min dzalik!

JAGA SEJAK SEMULA

Fitrah setiap anak adalah  suci. Ibarat kertas putih. Kelak orang tuanyalah yang  menentukan  apakah tetap terjaga utuh bersihnya, atau tercoreng warna-warna penyimpangan.

Agar tetap dalam kesuciannya, fitrah diselamatkan dengan penjagaan.  Upaya pertama dan paling utama adalah menjaga akidah. Keyakinan murni akan ke-Esaan Ilahi menjdi semula-mula hal yang ditanamkan.

Begitulah ibrah dari pendidik bijak penuh hikmah, Luqmanul Hakim, yang  namanya terpatri di kitab suci.

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah  engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)  adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Inilah yang menjadi cermin misi pertama dalam pendidikan berbasis Khilafah, “Menuju tauhid yang murni/bersih dari noda syirik”. Lalu diperkuat dengan misi “Menuju aqidah yang kuat, lurus, dan ubudiyyah as sunnah”. Sedemikian pentingnya hal ini ditanamkan, karena tanpa keduanya, segala amal akan sirna tersia juga tak diterima.

PENYEJUK MATA

Qurrota a’yun . Memiliki buah hati yang menjadi penyejuk mata adalah dambaan setiap orang tua. Keturunan berakhlak karimah, berjiwa mulia, berpribadi rabbani. Gambaran sosok penyenang hati ini terlukis pada pribadi Yahya As. “…Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. Dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa. Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka.” (QS. Maryam: 13-15).

 Dalam pendidikan berbasis Khilafah, misi mulia “Membentuk pribadi berakhlakul karimah” dikawal dengan upaya keteladanan. Personil yang terlibat dalam amanah pendidikan senantiasa dibina agar menjadi pelopor pribadi dengan sifat terpuji. Keberadaan siswa (santri) yang mendiami tempat terlingkungi adalah satu upaya meminimalisir dampak negatif perilaku sosial yang buruk. Sehingga penanaman nilai-nilai islami dalam pribadi anak akan  lebih nyata hasilnya.

BERMANFAAT UNTUK UMAT

Keelokan pribadi, akan makin memancar pesonanya saat ia menebar manfaat bagi sesama. Sebagaimana diungkapkan Rasulallah Saw bahwa yang terbaik diantara kita ialah yang paling banyak manfaatnya bagi yang lain. Sebagaimana visi umum yang diusung yakni menjadi rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil Alamin).

Maka kegiatan kesantrian serta kurikulum yang diberlakukan terus ditingkatkan kualitasnya agar mencapai misi “Cakap, terampil, percaya diri dan mandiri” .

MENJADI MUJAHID

Segenap potensi yang telah terbangun akan mewujudkan personil yang akan melaksanakan misi “Siap menjadi mujahid dakwah tegaknya system Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah”.  Sejak diusia tingkat persiapan (TK), anak dididik untuk mengenal wadah perjuangan  dan dakwah ini. Baik melalui materi pembelajaran maupun dalam interaksi sosial bersama guru dan orang tua. Seperti keikutsertaan mereka dalam kegiatan-kegiatan dakwah di berbagai tempat.

Sehingga kelak diharapkan, segala kebaikan yang dimiliki akan disumbangkan untuk perjuangan dan dakwah menegakkan sistem Khilafah ini. Insya Allah.

Wallohu ‘alam  bis shawab.

 Penulis : Wa Ode Nurmah