PONDOKKU SURGAKU

oleh

“…Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. Dan  (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertaqwa.Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong  (bukan pula) orang yang durhaka”. (QS. Maryam : 12-14)

Hijabnya rapi, akhlaknya indah terpuji, juga tampak mandiri. Masih kecil sudah pandai mengaji bahkan menghafal beberapa juz Al-Qur’an. Subhanallah, itulah profil para santri pondok pesantren.

Setiap orang tua muslim tentu menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya, termasuk dalam hal pendidikan. Karena anak adalah generasi penerus cita-cita perjuangan. Dilatarbelakangi beberapa pertimbangan, sebagian orang tua memilih Pondok Pesantren sebagai tempat menimba ilmu.Tentu saja dengan imej positif sebagai alternatif  terbaik untuk mewujudkan harapan memiliki anak yang shalih. Sebagaimana sosok Yahya ‘alaihissalam yang teladannya Allah abadikan dalam Al Qur’an.

Dalam pendidikan berbasis Khilafah khususnya, sistem “mondok” atau “boarding school” sudah diterapkan sejak tingkat SD (Madrasah Ibtidaiyah), minimal usia 6 tahun. Dengan pertimbangan diantaranya, agar anak sedini mungkin menerima program pembelajaran yang islami serta cepat menguasai hafalan Al-Qur’an.

Namun ada kendala klasik yang umum terjadi, yaitu soal kesiapan psikologis anak berpisah dengan orang tua. Bagaimana membuat anak  ‘betah’ di pondok, dibutuhkan kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua. Sehingga fenomena perdana seperti santri yang terus menangis, murung, tak mau makan bahkan kabur dari pondok bisadiminimalisir dan diatasi dengan baik.

LANGKAH AWAL

Segala amal berawal dari niat.Landasilah niatan mendidik anak di Pondok Pesantren sebagai jalan ibadah dengan mengharap ridho Allah semata. Sehingga saat muncul masalah akan bisa dihadapi dengan tenang dan sikap tawakal.

Ust. Ghulam Shidiq, seorang praktisi pendidikan, memaparkan beberapa hal (sebagai testimoni pribadi) yang perlu dipersiapkan  sebelum anak memulai fase tinggal di pondok , diantaranya :

  • Sesering mungkin sodorkan pada anak ungkapan bahwa santri pondok itu selalu melakukan hal-hal yang baik atau positif. Misalnya “Kakak akan merapikan tempat tidur seperti anak-anak pondok itu..”
  • Bentuklah imej anak bahwa pondok adalah tempat anak-anak shalih, cerdas, mandiri, dan berprestasi. Pokoknya hebat.
  • Ajarkan dan latih kebiasaan hidup mandiri seperti merapikan baju, sepatu, buku-buku, dll.
  • Libatkan anak dengan kegiatan sosial di lingkungan rumah agar ia terbiasa bergaul dengan orang lain.
  • Kenalkan anak dengan lingkungan pondoknya, juga akrab dengan pengurusnya. Berikan latihan ditinggal. Lima atau sepuluh menit ke toilet. Setengah jam ke kantor pondok, satu dua jam ke luar area, dan seterusnya. Hingga ia terbiasa tanpa orang tua.

KOMITMEN BERSAMA

Komitmen yang sama antara anak dan kedua orang tua akan memudahkan solusi dalam segala kondisi. Keyakinan yang kuat dari orang tua akan memberi dampak positif pada proses pemantapan jiwa anak. Teruslah memberi motivasi. Namun berhati-hatilah jangan sampai sering mengimingi hadiah atau banyak berjanji karena akan menghambat proses mandiri.

Saat anak mengalami sindrom ‘tidak betah’,  hadapilah dengan tenang. Segeralah berdoa mohon petunjuk Ilahi. Bersabar, karena hal itu bagian dari proses adaptasi. Hindari respon negatif seperti marah, memaki, membandingkan, apalagi memukul karena hal itu hanya akan mebuatnya makin tertekan. Tunjukkan saja kasih sayang yang tulus , motivasi dan hadiah yang mendidik saat ia sedia bekerjasama.

PONDOKKU SURGAKU

Pondok telah menjadi rumah kedua bagi anak, dimana ia akan tinggal tanpa orang tua juga anggota keluarga yang lain. Kini guru pengasuh dan teman-teman menjadi pendampingnya.Anak membutuhkan figur yang mampu melipurkan laranya karena harus jauh dari keluarga.Figur pembimbing yang tulus, sabar, ramah, juga kreatif.

Buatlah suasana pondok yang menyenangkan.Perbanyak aktifitas kebersamaan untuk menumbuhkan keakraban dan rasa persaudaraan.Biasanya bila sudah ada teman akrab, anak lebih merasa tentram. Tak lupa memberikan sapaan-sapaan sayang dan memotivasi seperti: shalih-shalihah, mujahid-mujahidah, anak hebat, dll. Pujian dan contoh teladan akan lebih berkesan.

Sampaikan kisah hikmah para Nabi yang walau sejak kecil jauh dari orang tua tetap tegar dan sabar.Seperti kisah Rasulullah, Nabi Musa, Nabi Ibrahim atau Nabi Yusuf.Juga kisah-kisah teladan dari para Sahabat dan orang-orang shalih.

Upayakan mendesain ruangan yang nyaman dan menarik.Tak perlu mewah.Yang penting kreatif. Buatlah display yang mendukung proses belajar dan kreatifitas. Jika memungkinkan sediakan ruang dan fasilitas bermain (bagi santri kecil /MI) untuk kebugaran dan refresing.Juga tak lupa perpustakaan.

Insya Allah, dengan doa dan tawakal, juga mensinergikan semua pihak dan daya upaya, kelak para santri akan merasakan kesan yang menyenangkan dengan pondoknya, hingga ia akan mengungkapkan: Pondokku Surgaku! Wallohul muwaffiq, Wallohu’alam bis Shawab.