PEMIMPIN YANG MENYELAMATKAN

oleh

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6).

Ada banyak ayat di dalam Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah SAW yang membahas tentang kepemimpinan. Hal itu menggambarkan bahwa kepemimpinan adalah salah satu aspek yang dipandang sangat penting di dalam Islam.

Di dalam Islam, persoalan memilih pemimpin pun menjadi salah satu perkara yang dianggap sangat krusial. Karena memilih pemimpin tidak terbatas dalam cakupan kesejahteraan duniawi, tetapi lebih penting dari itu, yaitu keselamatan akhirat. Dimana pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menyelamatkan dien dan iman dari rakyat yang dipimpin olehnya.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pemimpin merupakan salah satu faktor yang memilki pengaruh teramat besar terhadap kehidupan suatu masyarakat. Tengok saja Indonesia, penduduknya merupakan mayoritas muslim, tetapi sangat sulit bagi muslim di negeri ini untuk bisa menegakkan syari’at Islam. Itu disebabkan karena Indonesia dipimpin oleh seorang presiden dengan model kepemimpinan demokrasi, yang jelas bertentangan dengan sistem pemerintahan Islam berupa kekhilafahan.

Seorang muslim yang mengaku beriman tidak selayaknya memilih dan menentukan pemimpin sembarangan tanpa dasar dan tuntunan yang jelas. Oleh karena itu, setiap orang beriman wajib mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika akan mengambil suatu keputusan, termasuk dalam hal memilih seorang pemimpin.

Tidaklah mudah untuk menjadi seorang pemimpin karena Allah subhanawata’ala pasti akan menanyakan perihal yang dipimpinnya. Seorang presiden, gubernur, camat, juga lurah adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami pun adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban atas keluarganya.  “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu’anhu).

Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya, sedangkan orang amanah dituduh khianat. Dan saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara urusan orang banyak (ummat).” (HR. Ahmad)

Kondisi pemimpin akhir zaman itu mulai tampak di banyak tempat saat ini. Salah satunya adalah pemimpin yang terbiasa dengan kemaksiatan. Kepemimpinannya dipenuhi oleh kedustaan karena mengikuti hawa nafsu. Pengkhianatan terhadap amanah yang diembannya pun bukan lagi menjadi barang asing. Pemimpin-pemimpin akhir zaman ini perilakunya tidak jauh dari perilaku syaithan yang terkutuk.

Pemimpin yang terbiasa menjauh dari syari’at Islam umumnya tidak akan mampu melaksanakan amar makruf nahi munkar terhadap yang dipimpinnya. Akhirnya kemaksiatan pun merajalela di tempat-tempat umum. Halal dan haram tidak mampu lagi dibedakan sehingga praktek riba pun menjamur. Hingga semakin banyak ummat manusia, termasuk muslim, yang berbangga dan tidak malu ketika melakukan perbuatan dosa.

Kondisi masyarakat tersebut sangatlah memprihatinkan, dimana syari’at Islam dijauhkan. Islam pun seolah-olah dipenjarakan di tempat-tempat peribadatan. Maka tidak ada pilihan lain bagi ummat Islam, selain bersatu untuk memilih pemimpin yang dapat menyelamatkan rakyatnya dari siksa api neraka. Di bawah kepemimpinan yang sesuai dengan syari’at Islam, yaitu sistem kekhilafahan.

Setiap pemimpin tidak hanya berkewajiban memberikan kesejahteraan dunia kepada rakyatnya melalui pengelolaan sumber daya-sumber daya yang ada, tetapi juga harus mampu memberikan keselamatan akhirat dengan berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai aturan baku kepemimpinannya. Kepemimpinan yang berlandaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedomannya akan mampu menghadirkan keridhaan dan keberkahan Allah subhanawata’ala.

Ketika syari’at Islam ditegakkan di suatu negeri, maka pintu-pintu maksiat akan terkunci. Hingga yang tersisa adalah ketentraman dalam menjalankan rutinitas seorang hamba. Seorang ibu tidak lagi perlu merasa cemas berlebihan untuk melepas anaknya bepergian menuntut ilmu, sementara seorang istri dapat merasa tenang ketika suaminya harus pergi bekerja selama berhari-hari. Keberkahan dan ketentraman tersebut hanya akan tercipta jika setiap pemimpin mau menegakkan aturan yang haq sehingga perkara yang bathil akan menyingkir. Bukankah tidak akan bercampur yang haq dengan yang bathil? Wallahu’alam.

Ummu Abdillah