HAK ANAK DALAM RUMAH TANGGA ISLAMI

oleh

“Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannyaterhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah orang yang paling baik diantara kalian dalam memperlakukan keluargaku”. (HR. Ibnu Majah).

“Kasih ibu tiada bertepi, kasih ayah sepanjang jalan…”. Petikan dendang kenangan ini melukiskan betapa besarnya curahan kasih sayang orang tua terhadap buah hatinya. Hal itu memang telah menjadi fitrah insani, seperti digambarkan dalam Al-Qur’an, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Al-Kahfi : 46). Namun terkadang orang bersikap berlebihan dalam mengungkapkan rasa cinta kepada anak-anaknya atau bahkan berseberangan dengan aturan syari,at.

Sebagai ajaran yang sempurna, Islam memiliki tuntunan terbaik lagi mulia tentang hak anak dan kewajiban orangtua terhadapnya. Bukan didasari keinginan, adat kebiasaan atau trend di lingkungan. Karena sejatinya anak adalah amanah dan karunia serta tumpuan harapan dan cita-cita sebagaimana firman Allah Swt. “…Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak…” (QS. Al-Isra : 6), juga munajat Nabi Zakaria dalam Surat Maryam ayat 4-5, “…anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisiku…”.

Prinsip penting dalam penunaian amanah terhadap anak adalah penjagaan terhadap keselamatan mereka dunia dan akhirat, terutama dari ancaman api neraka. Allah Swt. mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim:6).

Maka setiap orang tua muslim hendaknya berhati-hati dan mencermati tuntunan syari’at dalam pemenuhan hak anak serta tak lupa menyertakan niat ikhlas didalamnya. Anak juga memiliki hak untuk terjaga dari kelemahan, baik fisik maupun mental dan keimanannya. Sebagaimana Firman-Nya, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya…” (QS. An-Nisa : 9).

Semenjak kelahirannya, Islam telah memiliki tuntunan perlakuan terhadap seorang anak. Beberapa sunnah Rasulullah yang penting kita perhatikan untuk diikuti diantaranya :

  1. Dido’akan, ucapan selamat dan turut bergembira. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an tentang ucapan selamat atas kehadiran putra Nabi Ibrahim dan Zakaria. Juga pada kelahiran putra-putri serta cucu-cucu Rasulullah Saw. Bahkan doa untuk anak telah dimunajatkan sejak ia masih dalam sulbi ayahnya atau rahim ibunya.
  2. Mengunyahkan atau menyuapkan kurma (tahnik). Sebaiknya tak lama setelah lahir dan dilakukan oleh orang yang shalih atau ayah/kakek si bayi Diantara hikmah mentahnik bayi adalah untuk menguatkan syaraf dan pergerakan mulut, juga sebagai bentuk imunisasi alami.
  3. Aqiqah, mencukur rambut dan memberi nama yang baik. Hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah (ditekankan), dengan menyembelih 2 ekor kambing bagi bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan dihari ketujuh. Menimbang rambut yang telah dicukur lalu mengeluarkan sedekah senilai perak. Kemudian memberinya nama yang baik sesuai tuntunan syari’at.
  4. Disusui (ASI) selama dua tahun (bagi yang ingin menyempurnakannya).
  5. Dikhitan (bagi laki-laki) semasa masih kanak-kanak.

Pemenuhan kebutuhan untuk perkembangan fisik merupakan hak mutlak anak. Kewajiban ini khususnya merupakan tanggungjawab ayahnya (suami) sebagaimana perintah Allah Swt, “…dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada mereka (anak-istri) dengan cara ma’ruf (sebaik-baiknya)…” (QS. Al-Baqarah:233).

Sementara dalam hal kecukupan pangan, faktor penting yang harus diperhatikan adalah kaidah halal dan toyyib (QS. Al-Baqarah: 168). Masalah halal-haram dalam makanan sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan.Selain akibat akhiratnya, dampak dunianya pun perlu diwaspadai.

  1. Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam bukunya Pendidikan Anak dalam Islam menguraikan beberapa aspek dalam tanggungjawab pendidikan untuk anak diantaranya: Pendidikan iman, moral, fisik, akal, kejiwaan, sosial, hingga pendidikan seksual. Adapun metode dan sarana yang beliau paparkan yaitu dengan keteladanan, kebiasaan, nasihat, juga hukuman.Secara psikologis penulis juga mengarahkan agar anak senantiasa dimotivasi, memperhatikan kesiapan secara fitrahnya, memberi peluang untuk bermain atau refreshing, juga menyiapkan sarana yang bermanfaat.

Pendidikan tak melulu harus ditempuh secara formal.Jika pun mesti dilalui, pilihlah lembaga pendidikan yang sejalan dengan visi penegakan sistem Islam. Atau jalur yang kelak akan memberi kontribusi pada perjuangan dan kemaslahatan umat.

Khusus dalam pelaksanaan kewajiban salat, pembiasaannya telah dimulai sejak dini. Hingga saat usianya mencapai 10 tahun ia telah terbiasa dan siap menerima hukuman bila melalaikannya. Sebagaimana firman-Nya, “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya…” (QS. Taha : 132).

Anak-anak juga berhak mendapat kasih sayang serta perlakuan yang adil dari orang tuanya.Dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan Imam Ahmad, Rasulullah Saw menekankan, “Berlakulah secara adil kepada anak-anak kalian …” yang diucapkannya hingga tiga kali. Begitu pula peringatan dari Allah Swt, “…Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa…” (QS.Al-Maidah:8).

Tak lupa orang tua senantiasa mengiringi kehidupan anak dengan doa dan munajat sebagai mana tertera dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi. Diantaranya dalam QS.Al-Furqan:74, “…Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”. Juga pinta kita pada Illahi Robbi agar kita dan anak cucu tetap dapat menjaga salat, “Ya Rabb-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Rabb kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40). Setiap orang tua tentu akan berbahagia bila anak-anaknya dapat menjadi penerus kebaikan dan cita-citanya, maka bermohonlah kepada Allah, “…berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS. Al-Ahqaf :15). Wallohu’alam bis shawab.

Waode Nurmah