BAGAIMANA SEHARUSNYA SEORANG MUJAHIDAH

oleh

“Sesungguhnya Allah swt jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril seraya berfirman : “Aku telah mencintai si Fulan, maka cintailah ia”. Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril berseru ke penghuni langit : “Allah swt telah mencintai si Fulan , maka cintailah ia oleh kalian”. Rasulullah saw selanjutnya  bersabda : “Maka di letakkan rasa cinta di bumi”. Dan apabila Allah swt  membenci seorang hamba, Ia mengundang Jibril: “Sesungguhnya Allah swt telah membenci si Fulan, maka bencilah ia”. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian ia menyeru kepada penduduk langit : “Sesungguhnya Allah swt telah membenci si Fulan, maka kalian hendaklah membenci dia”. Rosulullah melanjutkan tuturannya ; “Maka merekapun menjadi benci kepadanya. Setelah itu disebarlah rasa benci di muka bumi.” (HR. Muslim)

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“…..Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah…”. (QS. Al Baqarah (2) :165).

Demikianlah, jika Allah telah mencintai hamba Nya dan jika hamba Allah telah amat  mencintai Allah swt. Hamba Allah yang beriman akan menjadikan seluruh hidupnya untuk mentaati Allah dan Rosul-Nya. Tidak ada yang mampu mengalihkan ketaatannya kepada selain Allah, meskipun dunia dan seisinya ditawarkan padanya. Semua tak lain disebabkan oleh rasa cinta dan harapan di cintai Allah swt.

Begitu pula halnya dengan aqidah seorang muslimah mujahidah. Dengan bertaqwa, sudah tentu ia mengharap dicintai Allah. Seorang muslimah mujahidah meyakini bahwa Allah senantiasa menyertainya, melihat dan mendengarnya. Keyakinannya teguh , bahwa segala kejadian yang berjalan di alam ini dan nasib yang menimpa umat manusia adalah semata-mata karena qadha’ dan takdir Allah.  Maka tidak ada jalan  bagi seseorang selain menempuh jalan kebaikan dan amal saleh dalam urusan dien dan dunianya sambil bertawakal kepada Allah Azza Wajalla. Ia akan berusaha sepenuhnya agar selalu beramar ma’ruf nahi munkar dimanapun ia berada, dan bisa menjadi teladan bagi orang- orang terdekatnya. Dengan iman yang kokoh sejatinya menambah kekuatan dan kesadaran serta kematangan kepribadiannya sebagai seorang  muslimah mujahidah.

Mujahidah berasal dari kata ‘Jihad’ yang berarti usaha yang sungguh-sungguh dalam mencapai kebaikan yang diridhai Allah swt. Jika ia seorang wanita yang berperan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, yang melahirkan anak-anaknya sekaligus merawat, membimbing, mendidik, berperan pula sebagai guru, sebagai pembangun generasi cerdas berkarakter kuat, sebagai mubalighah bagi putra-putrinya, beramar ma’ruf nahi munkar di masyakat dan bisa menjadi contoh hasanah bagi lingkungannya..maka.. ia lah mujahidah.

Begitu tingginya arti Mujahidah sehingga muslimah umumnya ingiin sekali bisa dan mampu  menjadi seorang mujahidah. Tak ayal banyak yang memiliki nama bagus-bagus. Pakai Mujahidah semua. Dienil Haq Mujahidah, Mahdiyah Mujahidah, Annisa Putri Mujahidah, Alkhansa Mujahidahku, Fatimah Sang Mujahidah, dan banyak lagi. Terdengar ‘wah’ dan ‘sesuatu’. Jika dilihat dari nama ia adalah gambaran seorang muslimah pejuang tangguh yang senantiasa istiqomah dan bertaqwa.. Kokoh penuh semangat untuk menjadi muslimah yang semakin  sholehah lagi taat Allah dan Rosul. Tak lemah dan tak pernah mau berleha-leha menghabiskan waktu untuk apapun yang tak bernilai di hadapan Allah. Setidaknya barangkali demikian harapan kedua orang tuanya ketika menyematkan nama Mujahidah padanya kala ia dilahirkan. Semoga saja. Wallahu ‘alam.

Begitu tingginya arti seorang mujahidah sehingga tentulah tak mudah untuk menggapainya. Namun ada beberapa langkah dan usaha yang  dapat  menghantarkan kita menuju seorang mujahidah :

  • Niat yang tulus dan selalu memohon kepada Allah swt agar selalu istiqomah. Istiqomah dalam menjalankan syariat . Tak mudah terbawa oleh pergaulan dan lingkungan yang jauh dari tuntunan Al Quran dan As
  • Terus menimba ilmu dien agar bisa dipahami dan diamalkan. Dengan ilmu hati kita makin yakin dan langkah kita kian tegap untuk terus berjalan di jalan Allah.
  • Menambah keimanan dan ketaqwaan. Perbanyak tilawatil Al Quran, mendalami as-sunnah dan selalu bersyukur atas sem
  • ua anugerah Allah apapun bentuknya. Sebab tak dipungkiri lemahnya iman disebabkan oleh kurangnya rasa syukur. Kita lebih banyak mengingat apa yang tidak kita miliki daripada apa yang telah kita miliki. Untuk itulah iman harus tetap kita jaga dengan terus menyukurinya.
  • Tegar menghadapi ujian dan cobaan. Ujian dan cobaan adalah barometer keikhlasan kita sebagai hamba Allah. Ujian dan cobaan tidak hanya berupa kesakitan, kesempitan, kehilangan ataupun kekurangan, tapi bisa juga berupa kelapangan, kecukupan, kegembiraan dan kesehatan. Barangkali selama ini kita lebih merasa selalu diuji dalam hal-hal yang tidak kita sukai, padahal boleh jadi kita lebih sering tergelincir didalam ujian yang melenakan kita dalam kebahagiaan dan kelapangan.Na’udzubillah..
  • Membersihkan hati dan pikiran dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebagai muslimah mujahidah sudah selayaknya hati dan pikiran hanya tertuju pada Ilahi Robbi, berusaha mencari jalan agar ridho Allah selalu hadir disetiap langkah. Sebab sungguh tak patut jika hati dan pikiran masih diselimuti oleh kedengkian, buruk sangka atau penyakit hati lainnya. Akan sia-sia dan merugilah insan yang memiliki hati dan pikiran demikian. Semoga kita dijauhkan darinya

Jika seorang muslimah mampu berperan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, melahirkan anak-anak sholeh sholeh sekaligus merawat, membimbing, mendidik, berperan pula sebagai guru dan pembangun generasi cerdas berkarakter kuat, sebagai mubalighah bagi putra-putrinya, beramar ma’ruf nahi munkar di masyakat dan bisa menjadi contoh hasanah bagi lingkungannya, maka ia lah mujahidah. Wallahu a’lam.

Ummu Ilham