PONDOK PESANTREN BUKANLAH TEMPAT BUANGAN

oleh

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang “diberi ilmu pengetahuan” beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( QS. Al Mujaadalah : 11).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, bahwasannya Nabi SAW bersabda, “Pada dasarnya (pokok) ilmu itu ada tiga, sedangkan selebihnya adalah pelengkap (keutamaan). Yaitu: “ayatu muhakamat” ayat (Al-Qur’an) yang muhkamah (tetap sampai kiamat), “ahadisu mutaba’ah”, sunnah as sahihah yang ditegakkan, “faro’idu adillah” yaitu bagian tersulit dari hitung-hitungan”.

Satu malam di kantor pusat PPUI Bekasi, datanglah seorang ibu dengan ditemani beberapa orang anggota keluarganya (bukan warga) dan nampak tepat di sebelah kanan ibu itu duduk anaknya yang kira-kira berumur sekitar 6 atau 7 tahun. Setelah berbincang ringan tahulah saya bahwa maksud dari kedatangan ibu dan keluarganya tersebut adalah ingin memasukkan anaknya ke PPUI dan tinggal di asrama.

Namun yang membuat saya prihatin dengan ibu itu, alasan dia hendak menitipkan anaknya di PPUI karena anaknya di rumah bandel, susah diatur dan agar ibu itu bisa tenang beraktifitas di luar sana entah itu aktifitas maisyah atau aktifitas apa. Setelah perbincangan para tamu itu disambut oleh bagian kesantrian maka saya tinggalkan mereka karena kapasitas saya di PPUI Bekasi memang bukan bagian kesantrian tapi saya bisa menebak bahwa anak itu tidak akan diterima karena dia datang bukan pada waktu pendaftaran dan alasannya ingin memasukkan anak tersebut terlalu lemah.

Setelah itu saya merenung tentang stigma orang-orang kebanyakan tentang pondok pesantren, dimana pondok pesantren adalah tempat untuk mendidik anak bandel, susah diatur, anak yang mentok karena tidak mendapat tempat di sekolah umum akhirnya mau tidak mau berlabuh di pondok pesantren dan segala macam penilaian tentang pondok pesantren intinya pondok pesantren adalah tempat tujuan terakhir setelah gagal di beberapa tempat atau sudah mentok dan tidak ada pilihan lain baru di bawa ke pondok pesantren.

Alangkah ironi dan menyedihkan pemikiran macam ini, seharusnya, seyogyanya, idealnya, anak yang mulai nampak potensi  keterampilan, talenta dan segala kelebihan yang ada padanya harus dijaga betul-betul dengan benteng aqidah yang kuat dimulai dari rumah tangga karena rumah adalah Madrosatul ‘Ula (pendidikan pertama) dalam membentuk pribadi yang Rabbani, setelah orang tua merasa mantap dengan kesiapan anaknya baru anak tersebut dibawa ke pondok pesantren, nah di pondok pesantrenlah bibit yang telah ditanamkan oleh orang tua tersebut disiram dan ditumbuh kembangkan.

Jika anak tersebut anak yang cerdas dan cemerlang dalam berpikir insya Allah menjadi ahli fiqih, jika kuat dalam ingatan insya Allah menjadi Hafidz Qur’an, jika mantap dalam komunikasi insya Alah bisa menjadi ahli bahasa dan masih banyak lagi potensi-potensi yang bermunculan dari generasi penegak Islam dalam bingkai Khilafah. Mudah-mudahan PPUI dimanapun berada di belahan dunia ini mendapat tempat nomor satu dalam hati para warga Khilafatul Muslimin khususnya dan ummat Islam pada umumnya, bukan malah menjadi nomor kesekian.

Kalau memang alasannya berat membawa anak ke PPUI karena kualitas PPUI belum mumpuni dan masih meragukan maka saya katakan disitulah kita ambil peran dan andil dalam membuat PPUI berkualitas, kalau bukan kita-kita (warga) yang merintis dan menyemarakkan sistem yang sedang kita bangun maka siapakah lagi yang diharapkan? Allah menjanjikan kemenangan dalam sistem yang haq ini, pastinya janji Allah lebih pasti dari pada terbitnya matahari esok pagi. Saya kira semua di antara kita lebih suka melakukan hal-hal yang pasti atau lebih cenderung untuk menunggu sesuatu yang pasti. Meskipun umur kita tidak sampai menatap dengan mata kepala kita tegak dan sempurna sistem ini sedikit tidak tegak dan sempurnanya sistem ini ada torehan-torehan kecil yang berhasil kita ukir yang akan menjadi hujjah kita di hadapan Robbul ‘Alamin kelak.

Juwandi Ahmad dalam salah satu bukunya mengatakan, “Jika anak manusia selama hidupnya tidak pernah mengukir sejarah untuk diceritakan kepada generasi berikut atau anak keturunannya, bagaikan ia tidak pernah hidup di atas pentas kehidupan ini”.

Banyak karakter yang muncul dalam hal ini, ada orang yang ada dan tiadanya sama saja, dia hidup bagaikan sudah mati dia mati pun sama saja, tidak ada yang merasa kehilangan. Yang ideal, disaat dia hidup banyak pihak yang benar-benar merasakan kemanfaatan dari kehadirannya disaat dia meninggal semua pihak merasa kehilangan.

Kisah-kisah gemilang para sahabat dan para salaf adalah hasil ukiran-ukiran dan goresan tinta emas yang pernah mereka sumbangsihkan dalam perjalanan sejarah Islam. Wahai para saudaraku, siapkanlah penamu, siapkan alat ukirmu, cari halaman-halaman dan lembaran-lembaran terdepan dalam hal ini. Mudah-mudahan Allah swt mencukupkan kita di dunia dengan kecukupan yang baik karena Allah swt adalah yang Maha Cukup, dan mudah-mudahan Allah swt menyempurnakan kita di akhirat kelak dengan kesempurnaan yang baik karena Allah adalah yang Maha Sempurna. Wallahu a’lam