PERSIAPAN MUSLIMAH MENUJU WILAYAH HIJRAH

oleh

“Hijrah…?“. “Hari ginnii?”. “Wadduhh, belum kepikiran kalii”, “ma’isah disana apa, sekolah anak-anak gimana, daerahnya gersang yaa?”. Mungkin demikian kalimat yang akan terangkai bila kita belum paham makna hijrah dan belum bisa menghayati perjalanan sejarah syi’arnya Islam dari masa ke masa. Dari jaman Rasulullah hingga kini. Sebab nyatanya, dibelahan bumi Allah yang lain hijrah masih berlangsung. Perang masih berkecamuk disebabkan penindasan atas kaum muslimin oleh musuh-musuh Islam yang tak ingin Islam tegak sekalipun dinegerinya sendiri. Masih banyak darah yang berceceran, air mata kepedihan dan penderitaann yang berkepanjangan yang dialami oleh saudara-saudara muslim kita nun jauh disana. Semua demi mempertahankan dan demi tegaknya risalah Allah, berupa aqidah dan syariat Islam..

Dapatkah kita merasakan sedikit saja, kepedihan hidup kaum muslimah dinegerinya itu? Desiran peluru disana-sini, dentuman bom, suami dan anak-anak yang terluka, rumah-rumah yang hancur lebur, kekurangan harta dan makanan, ketakutan, kematian, bagai telah bersahabat  dengan kehidupan mereka. Sangat bertolak belakang dengan keadaan kita  disini. Memiliki rumah, kendaraan, binatang-binatang ternak, pakaian, anak-anak yang bebas berlari riang kesana kemari, perdagangan yang menguntungkan, saudara-saudara, orang tua dan lain sebagainya. Tapi sadarkah kita bawa sesungguhnya kita pun masih berada di negeri yang penuh dengan berbagai kemaksiatan? Sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita belum bebas untuk men-syia’ar-kan risalah Allah?

Maka, apabila muncul suatu keadaan yang menuntut kita untuk hijrah manakala jajahan orang-orang kafir dan kita pun tidak mampu menampakkan dien kita ditengah-tengah mereka, maka ketika itu hijrah menuju negeri Islam  hukumnya wajib. Sama dengan saat keluar dari daerah kafir musyrik ke daerah yang lebih aman dijaman Rasulullah hukumnya wajib, dan hijrah ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat.

Pengertian Hijrah memang bermacam-macam. Secara bahasa artinya meninggalkan, berpisah atau menjauhi. Bisa berarti pindah dari daerah yang tidak aman /banyak maksiat menuju daerah yang lebih aman /jauh dari maksiat atau dari negeri yang penduduknya kafir musyrik menuju negeri yang penduduknya muslim. Negeri kafir yaitu negeri yang didalamnya terdapat syiar-syiar kekufuran secara menyeluruh, tidak tampak syiar-syiar Islam seperti adzan, shalat berjamaah, shalat Jumat, Ied dan sebagainya secara menyeluruh. Hijrah bisa juga  bermakna meninggalkan kebiasaan berakhlak  buruk kepada akhlak yang baik, dan lain sebagainya yang artinya bisa berupa Hijrah Tempat dan Hijrah ‘Amal (perbuatan).

Adalah Umar bin Khatab RA mendengar langsung dari Nabi Saw, “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan RosulNya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rosul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.”  (HR. Bukhari)

Dalam catatan sejarah, hijrah pada hadist diatas adalah saat hijrah kedua dalam Islam, dari Makkah ke Madinah. Ketika itu Rasulullah berusia 53 thn, setelah 13 thn menjadi Rasul. Hijrah pertama adalah hijrahnya para sahabat ke Habasyah (Ethiopia), tahun kelima setelah kenabian. Menurut sahabat Abdullah bin Umar bahwa akan ada lagi hijrah yang akan terjadi di akhir zaman ke daerah Bait al-Maqdis di Palestina atau dalam skala yang lebih besar lagi yaitu ke daerah Syam. Akan terjadi disaat fitnah telah merambah dan merajalela kemana-mana. Telah dekatkah saat itu?  Akankah demikian?  Wallahu alam.

Namun, bila suatu ketika kewajiban hijrah datang pada kita, adakah kita siap untuk itu? Setelah peradaban begitu pesatnya berkembang dan segala sesuatu begitu mudahnya diraih, sanggupkah kita untuk hijrah demi keta’atan pada Allah, Rasul dan Ulil Amri? Akankah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta kekayan yang kita usahakan, perdagangan yang kita khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kita sukai, lebih kita cintai daripada Allah dan Rosul-Nya serta berjihad di jalan-Nya? Ataukah kita termasuk hamba-Nya yang fasik dan tak takut pada ancaman-Nya seperti firman-Nya dalam Al-Quran surat At Taubah ayat 24?

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad  di jalan Allah, mereka itu mengharapkan Rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  QS Al-Baqarah : 218

Untuk itu marilah  kita persiapkan diri kita dengan :

  1. Niat dan keikhlasan. Dengan niat yang lurus dan hati yang ikhlas semua kewajiban akan terasa ringan Semakin baik dalam amalan keseharian, hingga Malaikat tidak menghadap Allah kecuali melaporkan setiap kebaikan kita. Karena setiap kebaikan akan berbalas kebaikan pula QS 55 : 60.
  2. Kebersihan hati, Jiwa dan Raga.Terkadang kita masih amat mencintai dunia. Khawatir harta dan anak-anak dan suami yang kita cintai akan menjauh dari kita sehingga hati mudah ternodai oleh iri, dengki, sombong dan penyakit hati lainnya. Karenanya yakini diri bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah ujian dan titipan Allah semata. Bukan hak kita sepenuhnya.
  3. Selalu hidup bersama Al Quran dan As Sunnah.
  4. Ta’at pada Allah, Rosul dan Ulili Amri.
  5. Selalu bergaul bersama hamba-hamba Allah yang sholehah.

Insya Allah, jika tiba waktunya untuk menuju wilayah hijrah, kita akan ikhlas menjalaninya. Karena yakin akan Rahmat  Allah. Wallahu ‘alam.

Ummu Ilham