MUSLIMAH TANGGUH, MAMPU HADAPI SEGALA RESIKO DALAM IQOMATUDDIEN

oleh

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. (Al Maidah (5) : 54 – 56).

Ukhti fillah, di era tahun 80-an khimar atau kerudung dianggap sesuatu yang ‘sensitif’ di negeri ini. Saat itu muslimah yang mengenakan kerudung masih amat sedikit. Bisa dihitung dengan jari bila dilihat dari jumlah penduduk di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Kecuali madrasah-madrasah yang memang seragam sekolahnya mewajibkan demikian. Boleh jadi saat itu hal ini disebabkan oleh masih kurangnya pemahaman ummat Islam  tentang Islam itu sendiri. Sehingga jika seorang muslimah berkerudung  dianggap mengikuti aliran keras, aliran sesat dan berbagai tuduhan lain yang akhirnya dicurigai mengarah pada subversif. Kemana-mana dicurigai, kemana-mana di intimidasi, kemana-mana banyak larangan. Ruang  gerak muslimah kian dipersempit oleh berbagai larangan dan tuduhan. Sekolah dan instansi pemerintah seakan berlomba mengeluarkan peraturan larangan berkerudung dengan alasan ini itu yang tak masuk akal sehat. Tak ayal membuat satu persatu siswi dan pegawai negeri yang terhimpit cemas dan rasa takut akhirnya  menyerah oleh keadaan dengan melepaskan kerudung  demi sekolah  dan karir yang sifatnya duniawi.

Adapun muslimah yang istiqomah dalam menjalankan syari’at, mereka siap dan rela ‘hijrah’ demi ketaatannya kepada Allah dan Rosul. Iman dan taqwa yang mereka miliki  mengalahkan rasa takut diintimidasi pihak-pihak tertentu yang memusuhi Islam. Sering kali mereka difitnah, dihina bahkan diteror dan disiksa. Penampilan yang beda membuat mereka kadang di isolir oleh keluarga sendiri, oleh teman-teman, kerabat serta lingkungan sekitar yang belum memahami Islam secara kaffah. Namun semua ujian ini mereka lalui  demi meraih mardhotillah. Mereka tak surut meski kaum munafik, kafir dan dzolim benci. Merekalah muslimah tangguh yang mampu menghadapi segala resiko dalam rangka iqomatuddien. Insya  Allah.

Ukhti fillah yang dirahmati Allah, Islam memang datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana Islam saat ini dirasakan asing oleh kaum muslim sendiri.  Sunnah Rosulullah saw yang terdiri dari berbagai adab, seperti , adab wudhu, adab sholat,  adab makan, adab bermajelis, adab bertetangga, dan puluhan bahkan ratusan adab yang seharusnya jadi tuntunan kehidupan kita sebagai muslim seutuhnya, justru terlupakan. Dan ketika kita melaksanakan syariat Islam dengan benar dikala masyarakat disekitar kita melupakannya, mereka pun mengingkari bahkan menentang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al Ghuroba)”  (HR. Muslim).

 “Orang yang asing (Al Ghuroba) ialah   orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak atau orang-orang shalih di antara banyaknya orang yang buruk, orang yang menyelisihinya lebih banyak dari yang mentaatinya”. (HR. Ahmad).

Dan kini, ketika sistem Khilafah tengah berjuang kita syi’arkan, ketika ajaran Allah dan Rosul berusaha kita tegakkan, berbagai ujianpun harus kita lalui. Masyarakat awam ternyata belum banyak yang mengenal sistem Khilafah. Mereka belum dapat memahami sejarah terbentuknya sistem Khilafah (sistem Kekhalifahan) setelah kepergian Rosulullah saw . Suara sumbang dan celaan pun kadang kita dengar saat kita sampaikan bahwa Khilafatul Muslimin telah dimaklumatkan. Meski ajakan untuk bersatu dalam satu sistem Khilafah mereka katakan hanyalah sebagai mimpi, tak perlu perduli dengan itu, syi’ar harus tetap berjalan.

Wahai muslimah tangguh, tetaplah semangat…tetaplah ikhlas. Jangan surut oleh suara sumbang dan celaan. Sebaliknya, ayo kuatkan ukhuwah Islamiyah kita karena sejatinya mereka adalah saudara sesama muslim kita jua.  Mari  perlihatkan akhlakul karimah, agar mereka melihat bahwa ajaran Allah dan Rosul adalah ajaran yang paling mulia.  Kalimatillah harus tetap ditegakkan di bumi ini. Kepada kaum muslimin dimanapun berada mari bersatu dan bergabung dalam Kekhalifahan milik kita kaum muslimin. Segera tinggalkan perpecahan yang sungguh  dimurkai Allah swt. Kepada muslimah tangguh, jangan takut akan celaan orang yang suka mencela. Yakinlah akan pertolongan Allah. Dan sesungguhnya, pengikut diennullah-lah yang akan menang. Wallahu’alam.

Ummu Ilham