MEMBANGUN ANAK BERMENTAL JUJUR

Tidak ada komentar 457 views

“Apabila kamu berbicara , bicaralah sejujurnya… (QS. Al An”am: 152)

Suatu ketika Rasulullah Saw pernah ditanya, “ adakah mukmin yang penakut?” Beliau menjawab, “ya”. Lalu beliau ditanya lagi, “Apakah ada mukmin yang kikir?” Beliau kembali mengiyakan. Ketika pertanyaan ke tiga dilontarkan, “Adakah mukmin yang pendusta?” Dengan tegas beliau menjawab, “Tidak”.

Ibarat minyak dan air, dusta dan iman tak akan bersenyawa. “Tidak ada iman,” tandas Rasulullah dalam HR. Thabrani  , “bagi siapa yang tidak bisa dipercaya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.”

Begitu pentingnya sifat jujur karena akan menjadi standar kualitas iman seseorang. Coba kita cermati petikan dialog tentang kejujuran yang melukiskan keteguhan iman.  Di perjalanan, Abdullah bin Umar bertemu seorang budak  penggembala kambing . “Maukah kamu menjual  seekor saja dari kumpulan kambing ini?”. Dengan tegas si budak menjawab, “Kambing ini bukan punyaku.”  Ibnu Umar  mencoba  mengusulkan alasan , “Kau katakan saja serigala menerkam salah seekornya.”  Si budak menjawab dengan tulus , “Lalu Allah di mana?” Hati Ibnu Umar pun bergetar.

BUDAYA JUJUR

Upaya penting untuk menjadikan kejujuran sebagai jati diri seorang anak diawali dari keteladanan dan pembiasaan (habit).  Sikap dan perilaku orang tua berperan penting dalam hal ini. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, “Suatu ketika ibuku memanggilku,” tutur Abdullah ibnu Umar  r.a. “Saat itu Rasulullah tengah duduk di rumah kami.” Ibuku lalu berkata, “Kemarilah, Ibu mau memberimu (sesuatu).” Rasulullah Saw bersabda pada ibuku, “Ketahuilah, jika kau tidak memberi sesuatu  kepadanya, satu kebohongan dicatat untukmu.” (HR. Abu Dawud).

FAKTOR PEMICU DUSTA

Sebagian besar anak-anak takut berkata jujur sebagai bentuk proteksi diri, diantaranya sebagai  upaya mereka untuk menghindari hukuman. Pasalnya, beberapa orang tua  memberi respon negatif  justru saat anak berkata jujur. Akhirnya ketika anak berada dalam situasi harus bertanggungjawab akibat suatu kesalahan akhirnya memilih berdalih.

Ketidakjujuran juga bisa muncul sebagai bentuk protes  terhadap sikap pilih kasih orang tua. Saat anak merasa tidak nyaman dengan perubahan atau perbedaan porsi perhatian terhadapnya, kadangkala anak menggunakan trik bohong sebagai cara untuk menarik perhatian.

Menghindari situasi dan kondisi yang tidak disukai  juga kerap memunculkan sikap tak jujur. Biasanya ini dilakukan untuk berkelit dari sikon yang tak nyaman atau menghindar dari suatu bentuk tanggungjawab.

Beberapa anak terbiasa berbohong karena sering melihat perilaku dari orang-orang terdekat serta lingkungan sekitar.

SOLUSI ANTISIPASI

Upayakan selalu menciptakan kondisi  yang menentramkan jiwa anak. Berikan selalu respon positif sehingga anak senantiasa percaya diri untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya . Hindari interogasi dan ancaman apalagi hukuman saat anak telah berupaya untuk berkata apa adanmya.

Jadikan jujur sebagai habit pribadi dan keluarga  sehingga menjadi budaya dalam komunitas.  Sebagaimana sabda Rasulullah Saw , “Hendaklah kalian selalu bertindak dan berkata jujur, karena kejujuran menuntun pada kebajikan, dan kebajikan menuntun ke surga. Seseorang senantiasa berkata dan bertindak jujur dan meniti kejujuran hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta menuntun pada keburukan, dan keburukan membawa ke neraka. Seseorang senantiasa  berdusta dan meniti kedustaan, hingga dicata di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim).

Berbagai kisah teladan yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah akan sangat bermanfaat bagi pembentukan karakter jujur.  Hikmah dalam cerita biasanya akan lebih membekas dalam jiwa anak.  Sebaliknya hindarkan anak dari cerita dusta dan khurafat  yang akan berdampak buruk bagi perkembangan jiwa dan akidahnya. Seperti cerita khayalan tentang dewa, peri, setan , jin, makhluk-makhluk halus, serta cerita imajinasi yang berlebihan.

Islam juga melarang orang berdusta untuk tujuan membuat lelucon sehingga memicu gelak tawa. Rasulullah Saw bersabda, “ Celakalah orang yang menuturkan suatu kisah untuk membuat tertawa suatu kaum lalu ia berdusta . Celakalah ia, celakalah ia.” (HR. At Tirmidzi).  Beliau juga menegaskan, “Aku menjamin  sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski bercanda”. (HR. Baihaqi).  Wallahu ‘alam bis shawab.

Waode Nurmah