KELUARGA ADALAH MEDAN JIHAD BAGI WANITA

oleh

Jihad fisabilillah adalah amalan ibadah yang paling tinggi derajatnya di dalam Islam. Sebuah jalan yang dibenarkan oleh Allah subhanawata’ala dalam upaya mempertahankan syari’at Islam dengan mengorbankan harta, jiwa, dan raga. Ada banyak riwayat hadits yang menuturkan keutamaan amalan jihad fisabilillah, bahkan Allah subhanawata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 111, “Sungguh, Allah membeli jiwa dan harta orang-orang mukmin dengan pahala surga. Mereka telah berperang guna membela Islam, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Janji pahala surga ini termaktub dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Wahai kaum mukmin, siapa saja di antara kalian yang memenuhi janjinya kepada Allah, bergembiralah dengan bai’at yang telah kalian lakukan dalam perjanjian itu. Demikian itu adalah keberuntungan yang amat besar bagi para syuhada.”

Maka amatlah beruntung seorang beriman yang mampu mendapatkan keutamaan dari amalan jihad fisabilillah ini. Sebab Allah subhanawata’ala yang menjamin pahala surga bagi para syuhada. Sudah sepantasnya seorang yang mengaku beriman cemburu kepada para syuhada karena dijanjikan pahala surga oleh Allah subhanawata’ala. Kecemburuan itulah yang akhirnya membawa ‘Asma binti Yazid bin As-Sakan Al-Anshariyyah radhiyallahu’anha pergi mendatangi Rasulullah shalallahu’alahi wassalam yang saat itu tengah bersama para sahabat.

‘Asma pun berkata di hadapan Rasulullah shalallahu’alahi wassalam, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai jaminannya. Aku adalah utusan kaum perempuan untuk menghadap kepadamu. Sesungguhnya Allah telah mengutus engkau kepada kaum lelaki dan perempuan sekalian, lalu kami beriman kepadamu dan kepada Rabb-mu. Dan bahwa kami ini adalah kaum perempuan yang tidak dapat bergerak bebas, terkurung, dan senantiasa berada di rumah-rumahmu untuk melayani keperluanmu dan mengandung anak-anakmu. Dan bahwa kaum lelaki telah dilebihkan dan dimuliakan atas diri kami dalam hal shalat Jum’at dan jamaah, melawat orang sakit, mengantar jenazah, dan mengerjakan haji sesudah haji yang lain. Dan yang paling utama dari semua itu adalah berjihad di jalan Allah ‘azza wajalla. Jika salah seorang di antara kamu keluar untuk berhaji atau berjihad, maka kamilah yang menjaga hartamu, menjahitkan pakaianmu, dan memelihara serta mendidik anak-anakmu. Tidakkah kami dapat berbagi pahala dengan kamu dalam perkara ini?”

Maka Rasulullah shalallahu’alahi wassalam menoleh kepada para sahabat seraya bertanya, “Pernahkah kamu mendengar pembicaraan seorang wanita yang lebih baik dan lebih pandai mengemukakan masalah-masalah dalam agamanya daripada wanita ini?” Para sahabat pun serentak menjawab tidak, kemudian Rasulullah shalallahu’alahi wassalam pun menoleh kepada ‘Asma binti Yazid dan berkata, “Ketahuilah wahai perempuan, dan beritahukanlah kepada teman-teman dari kaum perempuan yang lain. Bahwa penjagaan seorang perempuan kepada suaminya dan melayaninya dengan cara sebaik-baiknya serta taat kepadanya, senantiasa melakukan segala yang disukainya dan mencari keridhaannya adalah menyamai pahala semua itu.” Dan ‘Asma pun sangat gembira atas jawaban yang diberikan oleh Rasulullah shalallahu’alahi wassalam.

Masyaa Allah! Rasulullah shalallahu’alahi wassalam telah memberikan jawaban yang sangat mendalam dan mampu menenangkan kecemburuan kaum perempuan terhadap amalan-amalan yang diutamakan untuk kaum lelaki. Jawaban Rasulullah tersebut tidak menyiratkan pelarangan bagi kaum perempuan untuk melaksanakan perkara-perkara yang menjadi tuntutan itu. Hanya saja, Rasulullah shalallahu’alahi wassalam menunjukkan perkara yang lebih baik dan lebih utama untuk dikerjakan oleh kaum perempuan. Perkara yang mampu mendatangkan pahala setara dengan pahala shalat jumat, berhaji, dan berjihad di jalan Allah subhanawata’ala, yaitu menaati dan melayani suami dengan sebaik-baik pelayanan agar mendapatkan keridhaannya.

Bisa dibayangkan betapa Allah subhanawata’ala sangat ingin menjaga kemuliaan para wanita, sekalipun ia hanya menetap di dalam rumahnya. Para istri tak perlu menuntut kesetaraan posisi dengan kaum lelaki untuk bisa mendulang sebanyak-banyaknya amal. Tidak perlu juga mengayunkan pedang di medan pertempuran untuk meraih predikat syuhada. Juga kaum perempuan tak usah menunggu perintah jihad dari Amirul Mukminin agar mendapatkan jaminan surga dari Allah ‘azzawajalla. Cukuplah dengan menjalankan kewajibannya sebagai istri dan ibu sesuai syari’at maka medan jihadnya senantiasa tersedia di depan matanya.

Maka kemuliaan seperti apalagi yang ingin kita cari di luar sana, sementara keutamaan itu ada di dalam rumah sendiri. Tatkala para suami harus mengangkat senjata ke medan perang agar mendapatkan jaminan surga, para istri cukup taat kepada suami untuk mendapatkan nilai pahala yang sama. Allah Maha Mengetahui bahwa tidaklah mudah menjalankan tugas-tugas dalam rumah tangga sehingga kaum perempuan diberikan keutamaan di dalam istananya sendiri. Puaskah kita, jikalau dapat melakukan aktivitas yang banyak seperti halnya kaum lelaki, tetapi tugassebagai istri dan ibu justru tidak dapat ditunaikan sesuai syari’at Allah subhanawata’ala? Na’udzubillahimindzalik.