BERATNYA AMANAH SEORANG PENDIDIK

oleh

Pahlawan tanpa tanda jasa, kalimat yang kerap kali di ucapkan oleh siapapun yang hendak menggambarkan tentang besarnya amanah, pengorbanan, serta perjuangan seorang pendidik (ustad /asatidz) dalam mengajarkan ilmu kepada para santrinya. Memilih  menjalani profesi sebagai seorang pendidik tentunya bukanlah pilihan yang menyenangkan bagi setiap orang, akan tetapi hanya orang-orang tertentulah yang bisa menjalani profesi tersebut sebagaimana mestinya dengan niat beramal jariyyah semata-mata berharap ridha Allah.

Banyak orang yang beranggapan bahwa ketika seoarang memiliki ilmu pengetahuan yang luas, maka dia akan berhasil menjadi seorang pendidik yang hebat dan profesional.

Padahal tidaklah demikian, di samping ilmu pengetahuan yang memadai, ada beberapa syarat  penting  yang harus di penuhi untuk bisa menjadi seorang pendidik yang berhasil. Di antaranya adalah keikhlasan yang di landasi harapan, agar perbuatannya senantiasa di balas pahala oleh Allah SWT. Allah berfirman,

!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#r߉ç6÷èu‹Ï9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJ‹É)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. (QS. Al Bayinah (98) : 5).

Karena salah satu penyebab terjadinya kegagalan dalam pendidikan yang berimbas kepada hancurnya akhlaq (moral) para anak-anak didik, yang kerap terjadi pada hari ini dan hampir menjangkiti semua lembaga-lembaga pendidikan yang ada khususnya di indonesia bahkan yang berlebel pendidikan Islam terpadu, yaitu karena menjamurnya para pendidik-pendidik yang hanya berorientasi duniawi semata, materialistis di jadikan sebagai tolak ukur dalam setiap kesuksesan hidup.

Keridhaan Allah tidak lagi di jadikan sebagai acuan dalam tujuan keberhasilan kehidupan, janji Allah berupa kenikmatan akhirat tidak lagi menggiurkannya, dan ancaman berupa siksaan pun tidak lagi menggetarkan hatinya, yang terpenting bagi mereka segala keinginan dan kebutuhan duniawi bisa terpenuhi, maka wajar saja jikalau generasi-generasi yang di hasilkanpun tidak lebih baik dari karakter pendidiknya, ibarat pepatah, “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”.

Persyaratan selanjutnya adalah “kedisiplinan”, ada pepatah yang mengatakan “kedisiplinan kunci kesuksesan”, mengapa demikian?  Jika kita hendak mendalami makna dari sebuah kedisiplinan maka akan kita dapati hasilnya. Tanpa kedisiplinan segala urusan apapun yang ada di muka bumi ini  akan kacau dan berantakan, contoh kecil misalnya disiplin waktu, apabila dalam pendidikan disiplin waktu tidak di terapkan atau cenderung di abaikan maka tunggulah masa kekacauannya, bagaimana mungkin suatu lembaga pendidikan akan berhasil mencetak para generasi-generasi yang disiplin dan bertanggung jawab, jika selama masa-masa pendidikan mereka tidak pernah di ajarkan dan di contohkan tentang betapa pentingnya menghargai waktu, dan para pendidik pun tidak menjadi ushwah hasanah (teladan yang baik) bagi para anak didiknya, mengapa kita harus kalah dengan semboyan para matrealistis yang mengatakan, “on time every time because time is money” yang artinya “tepat waktu setiap waktu karena waktu adalah uang”, padahal semboyan tersebut hanya di jadikan sebagai pendongkrak semangat dalam mengejar kesenangan dan keuntungan  duniawi semata.

Dan persyaratan  yang tidak kalah pentingnya yang harus di penuhi oleh seorang pendidik adalah “Kesabaran”. Pertanyaannya kesabaran  dalam hal apa ? tentu jawabannya dalam segala hal, di sadari maupun tidak pada dasarnya beban yang harus di tanggung oleh seorang pendidik lebih berat ketimbang beban orang tua dari anak didik kita sendiri.

Bisa kita bayangkan, seberat-beratnya orang tua dalam mendidik anak-anaknya paling di karenakan mereka harus mendidik dan mengasuh tiga sampai empat anak dalam waktu yang bersamaan, sementara seorang pendidik harus rela menerima kenyataan bahwa mereka harus mendidik dan mengasuh puluhan bahkan ratusan anak dari puluhan orang tua dengan masing-masing karakter bawaan yang berbeda-beda, dan dari latar belakang keluarga yang berbeda beda pula dan mereka di tuntut untuk mengarahkan mereka kepada tujuan hidup yang sama yakni beribadah dan mengabdikan hidup semata-mata kepada Allah Swt. Bukankah itu suatu pekerjaan berat ?

Tetapi meski jerih payah para pendidik sudah sedemikian beratnya, terkadang masih saja mereka harus menerima keluhan, kritikan, bahkan kata-kata yang terkesan melecehkan, hanya kerena adanya sedikit kesalah pahaman, dan belum lagi  mereka harus mendengar berita-berita miring tentang dirinya yang beredar di luaran. Namun itulah kehidupan, bukan hidup namanya jika kita tidak di suguhkan dengan ujian-ujian tersebut, yang pada dasarnya itu semua adalah proses pematangan dan pendewasaan diri, yang terpenting adalah pertebal kesabaran dan yakinlah bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Beruntunglah kita memiliki sistem pendidikan berbasis Khilafah yang berorientasi akhirat namun dunia tetap menjadi perhatian. Dimana pendidik (ustad /asatidz) dan anak didiknya bahkan orang tua santrinya dibina secara intensif didalam Al Jama’ah /Kekhalifahan milik kaum muslimin (Khilafatul Muslimin), sehingga semua dapat berjalan didalam “rel” yang telah digariskan didalam Islam. Semoga setiap permasalahan yang terjadi didalam sistem pendidikan kita akan menjadi sebab maju dan sempurna nya sistem pendidikan Islam kedepan atas izin Allah, aamiin. Wallahu a’lam.